Kereta Gantung Rinjani Diyakini Bukan PHP

H Mohammad Rum (Faisal haris/radar lombok)

MATARAM – Progres rencana pembangunan proyek kereta gantung Rinjani hingga kini terus berproses. Bahkan, investor asal Tiongkok, China yang akan merealisasi proyek itu saat ini sedang penyusunan detail engineering design (DED) dan feasibility study (FS) atau studi kelayakan.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi NTB, H Mohammad Rum saat dikonfirmasi soal progres tahapan rencana pembangunan kereta gantung Rinjani yang dikerjakan PT Indonesia Lombok Resort (ILR) milik investor asal Tiongkok, China. “Sekarang lagi penyusunan DED dan FS,” kata Rum di Mataram.

Rum belum dapat memastikan kapan akan dimulai pembangunan fisik kereta gantung. Karena proses penyusunan DED dan FS baru bisa selesai 2,5 bulan kedepan. “Kita tunggu aja ini semua masih proses kelengkapan soft ware nya. Mungkin awal tahun (pembangunan dimulai) karena DED dan FS itu 2,5 bulan baru selesai,” ujarnya.

Namun sebelum pembangunan dimulai tahapan penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) juga harus diselesaikan. Paling tidak waktu yang dibutuhkan sekitar 3 sampai 4 bulan. Rum juga menyebutkan sejauh ini modal awal invetasi sudah disiapkan oleh investor yang tersimpan direkening sebagai komitmen awal sebesar Rp 600 miliar. “Insya Allah dana awalnya invetasi sebesar Rp 600 miliar sebagai komitmen dari investor. Dan dana itu sudah disimpan direkening mereka,” sebutnya.

Baca Juga :  Genjot Penjualan Tiket MotoGP, Pemprov NTB Turun Tangan

Dengan anggaran awal itu, lanjutnya, investor tidak hanya membangun rill kereta gantung tetapi juga dilengkapi dengan fasilitas pendukung lainnya. Seperti pembangunan tempat penginapan. “Akan dibangun kereta gantung, resort besar di lokasi start dan finishnya ada resort yang lebih kecil,” sambungnya.

Rum juga yakin pembangunan kerata gantung dapat diwujudkan. Meski banyak orang yang meragukan atas pembangunan proyek yang nilai investasi mencapai Rp 2 triliun itu akan bernasip sama dengan rencana pembangunan Jembatan Lombok-Sumbawa yang berakhir saat proses penyusunan studi kelayakan atau FS baru-baru ini. Menurut, proyek kereta gantung Rinjani ini sangat berbeda dengan rencana investasi proyek yang lain seperti rencana pembangunan Jembatan Lombok-Sumbawa yang kandas ditengah jalan. Apalagi investornya tidak aktif berkoordinasi dengan pihaknya. “Insya Allah jadi kalau kereta gantung ini. Karena yang ini selalu koordinasi dengan kami yang satu itu (investor Jembatan Lombok-Sumbawa) sama sekali belum pernah (koordinasi),” katanya.

Baca Juga :  Organda Minta Evaluasi Menyeluruh Semrawut Transportasi MotoGP

Sebagai mana ni ketahui, lokasi pembangunan kereta gantung Rinjani akan dilakukan di luar  kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Sehingga tidak akan mengganggu aktivitas pendakian menuju Gunung Rinjani bagi para pendaki.

Pasalnya pembangunan proyek berada di kawasan hutan lindung yang menjadi kewanangan Provinsi NTB yang terletak dikecamatan Batukliang Utara Lombok Tengah. Bahkan investor juga akan melakukan rehabilitasi lahan, ketika terdapat hutan yang gundul sepanjang jalur yang dilewati kereta gantung. Karena yang dijual adalah daya tarik pemandangan alam. Total luas lahan yang disiapkan sekitar 500 hektar. Pembangunan Kereta gantung Rinjani ini merupakan yang terpanjang di dunia dengan panjang mencapai 9 sampai 10 km. Yang dilengkapi berbagai fasilitas pendukung. (sal)

Komentar Anda