Kasus Perusakan SDN Model Dilaporkan,Disdik Minta Diselesaikan Secara Damai

DILAPORKAN: Perusakan penyekat antara SMPN 14 Mataram dan SDN Model Mataram dilaporkan ke kepolisian. (ALI MA’SHUM/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Aksi perusakan penyekat pembatas SDN Model Mataram di Jalan Brawijaya, Seganteng oleh siswa SMPN 14 Mataram dilaporkan ke polisi.

Aksi perusakan siswa SMP 14 Mataram ini dilaporkan oleh salah satu wali murid SDN Model karena berdampak trauma pada siswa SDN Model. Kejadian yang mencoreng dunia pendidikan di Kota Mataram itu dilaporkan Jumat (2/9) setelah aksi perusakan. Polisi kini telah menerima laporan tersebut dan sedang ditelaah. ‘’Laporannya masih kita pelajari,’’ ujar Kasatseskrim Polresta Mataram, Kompol Kadek Adi Budi Astawa.

Pasca laporan wali murid diterima kepolisian, banyak pihak menyarankan agar aksi perusakan ini tidak dilanjutkan ke proses hukum. Pelaku perusakan itu adalah sejumlah siswa SMP yang notabene masih di bawah umur. Pihak terkait meminta aparat untuk tidak menindaklanjuti laporan yang sudah masuk ke kepolisian. Tentang ini, Kadek mengatakan laporan tidak serta merta tidak dilanjutkan dan dihentikan. ‘’Kalau perusakan itu kan ada proses,’’ katanya.

Selain tengah menelaah laporan salah satu wali murid ini, kepolisian juga punya kewajiban untuk menindaklanjutinya. Keputusan akhir kepolisian tentang laporan ini masih menunggu proses yang tengah berjalan. ‘’Ini sebatas respons penyidik terhadap situasi di lokasi. Kalau ada laporan kan memang ada sebuah kejadian dan kewajiban kita untuk memeriksa para saksi dan melakukan olah TKP,’’ ungkap Kadek.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram, Yusuf berharap kejadian perusakan di SDN Model oleh siswa SMP 14 tidak berlanjut ke ranah hukum. ‘’Kan ada Perkap (Peraturan Kapolri) tentang restorative justice. Kedua belah pihak harus bertemu. Kita harus selesaikan masalah dengan kepala dingin. Ini kan anak-anak kita semua. Mari kita bertemu agar ini tidak berlanjut,’’ harap Yusuf.

Dia menjelaskan, sudah tidak permasalahan setelah pihak terkait bertemu. Kedua belah pihak dimediasi oleh DPRD Kota Mataram dan pemerintah. ‘’Sudah berdamai dan tidak ada permasalahan,’’ katanya.

Pemerintah pun merespons keinginan guru, wali murid dan siswa SDN Model yang tidak mau lagi menumpang di SMP 14 Mataram. Mereka ingin secepatnya pindah ke eks gedung Universitas Terbuka (UT) yang memang disiapkan untuk SDN Model. Respons pemerintah menyetujui percepatan pemindahan SDN Model ke eks gedung UT.

Baca Juga :  Pemprov Usulkan Rp 700 Miliar Bangun Fasilitas Pendukung Mandalika

‘’Perintah Pak Wali Kota sudah memanggil saya dan SDN Model segera pindah. Itu solusi terbaik dan SMP 14 segera berbenah. Minggu ini juga harus pindah. SDN Model diberikan dispensasi tiga hari sampai Rabu tidak masuk sekolah untuk mempersiapkan kepindahan ke eks gedung UT. Guru-guru juga sedang proses pemindahan barang ke sana,’’ ungkapnya.

SDN Model juga meminta bantuan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram untuk pendampingan traumatik dan psikis siswa. ‘’LPA sudah mau membantu kita untuk recoveri terhadap anak-anak,’’ terangnya.

Kejadian perusakan Jumat lalu masih disesalkan Yusuf dengan alasan tidak ada pembenaran terhadap tindakan perusakan. Siswa SMP 14 yang merusak disebutnya karena kegagalan guru. ‘’Jangan mencari pembenaran di atas pembenaran. Mari kita introspeksi diri apakah kita sudah mengajar dengan baik atau tidak. Hasil ini ceriminan dari guru. Anak-anak ini bertindak karena kegagalan guru juga, bukan kegagalan anak. Kalau dugaan provokasi tidak ada,’’ sesalnya.

Dari SDN Model mengatakan, tidak ada pilihan selain mempercepat pindah ke tempat baru. Respons Pemkot Mataram diapresiasi yang mempercepat proses perpindahan SDN Model ke eks gedung UT. Sejak Sabtu, guru dibantu oleh wali murid mempersiapkan kepindahan ke tempat baru. Sarana seperti buku dan perlengkapan lainnya dimasukkan dalam dus untuk dipindahkan. ‘’Tadi sudah survei ke gedung baru. Ada juga guru-guru bersih-bersih di sana (eks dedung UT),’’ kata Elimina Hingmadi, Guru Bahasa Inggris SDN Model.
Dia berharap seluruh proses dilancarkan. Dengan pindah ke gedung baru, siswa SDN Model menjadi tenang dan tidak trauma. ‘’Kalau dengar jedug-jedug itu tiap hari sudah biasa kita dengar. Tapi yang kemarin itu luar biasa sekali,’’ ungkapnya.

Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Mataram, Nyayu Ernawati meminta agar siswa yang belajar di SDN Model Mataram segera mendapatkan ketenganan. Dia juga meminta LPA untuk melakukan pendampingan karena beban psikologis saat terjadi kerusuhan tersebut. ‘’Kita sudah lakukan koordinasi dengan LPA, termasuk Disdik untuk pendampingan, karena ini menyangkut anak didik kita,’’ katanya.

Baca Juga :  Pemprov NTB Utang Ratusan Miliar Belum Bayar Proyek

Terkait kasus perusakan, Nyanyu mendorong untuk tetap diproses secara hukum. Karena pemicu kerusakan tersebut sudah membuat dampak anak-anak murid SDN Model terganggu. Termasuk ketakutan anak-anak saat belajar. Tetunya ada rekaman CCTV yang bisa dicari pembenaranya, seperti apa terjadi sehingga siswa SMPN 14 Mataram seperti teroganisir merusak papan penyekat ruang kelas tersebut.
Nyanyu juga meminta agar sekat ruang kelas SDN Model Mataram untuk dibuka sebelum pindah ke Universitas Terbuka Mataram, untuk kebutuhan di tempat barunya. Pemkot Mataram tetap harus segera bersikap. ‘’Jangan sampai dunia pendidikan Kota Mataram tercoreng, karena kelakukan dari anak-anak tetunya tidak lepas dari pengawasan guru setempat,’’’ ujarnya.
Ketua Fraksi PKS DPRD Kota Mataram, Hj Istiningsih juga mengaku prihatin atas kondisi yang sempat dialami murid SDN Model. ‘’Kabar yang memilukan dan memalukan dunia pendidikan menjadi keprihatinan kita bersama,’’ sesalnya.
Dia berharap, kejadian serupa tak terulang lagi di kemudian hari. Yang menjadi PR sekarang ini adalah apa dan siapa yang menjadi inspirasi tindakan siswa yang tidak terpuji ini. ‘’Semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Kita semua para pihak harus bisa segera mengambil langkah-langkah strategis dan taktis untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak kita inginkan,’’ pungkasnya.

Kepala SMPN 14 Mataram, Lina Yetti Budiasih mengakui, apa yang dilakukan peserta didiknya merupakan kesalahan bersama. ‘’Siswa yang melakukan kericuhan tersebut sudah kita berikan pembinaan. Kita berharap peristiwa seperti ini tidak terulang lagi,’’ harapnya.
Lina bercerita, kasus tersebut berawal dari bola yang dimainkan anak SMP 14 mengenai papan pembatas kelas SD Model. Setelah itu, terjadi balas membalas menggedor papan hingga akhirnya terjadi perusakan pada hampir semua papan pembatas. Akibat bentrok itu, siswa kedua sekolah diliburkan selama tiga hari. Sedangkan lokasi pembelajaran siswa SD Model akan segera dipindahkan ke eks kampus Universitas Terbuka (UT) Mataram untuk mencegah terjadinya kericuhan berulang. “Segera dipindahkan agar anak-anak segera bisa belajar di sekolah baru, bukan di sekolah lama. Saat ini kami sedang membersihkan kelas dan areal sekolah,” katanya. (gal/dir/adi)

Komentar Anda