Kasus HIV/AIDS di Lotim Mengancam

SELONG—Ancaman kasus HIV/AIDS di Lotim  kian waktu semakin serius. Setiap tahun warga yang terjangkit virus mematikan ini terus mengalami peningkatan. Tahun 2016 saja, ditemukan sebanyak 20 warga yang positif terjangkit HIV/AIDS. Itu terdiri dari 7 kasus HIV dan 13 kasus AIDS.

Sejak kasus ini ditemukan tahun 2003 silam, tren kasus ini tidak pernah mengalami penurunan. Sejak   tahun 2003 sampai 2015 jumlah penderita HIV/ AIDS kalkulasikan   sebanyak 189 kasus. Sementara priode tahun 2003 sampai 2016 , mengalami peningkatan dengan jumlah HIV/AIDS mencapai 209 kasus.   Itu terdiri dari 96 penderita HIV dan 113  penderitas AIDS.

“Di Lotim ini paling banyak yang AIDS nya, kalau HIV Masih kecil. Beda dengan di Mataram,” ungkap sekertaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Lotim Thohri, kemarin.

Untuk tahun 2016 ini lanjutnya dari 20 warga yang terjangkit HIV/ ADIS ini,sebanyak dua orang penderita meninggal dunia. Sementara sejak priode 2003 sampai 2016,  dari 113 kasus AIDS  yang ditemukan di Lotim, diperkirakan jumlah penderita yang meninggal sekitar 40 persen, atau kurang lebih sekitar 50 penderita tewas . Sementara untuk penderita HIV itu sendiri jumlah yang meninggal  belum diketahui dengan pasti.

“Dibandingkan dengan penyakit lama, seperti kencing manis, kasus HIV/AIDS sama. Karena butuh pengobatan seumur hidup,” terang dia.

Khusus untuk kasus HIV,    cara  penularan berbeda dengan penyakit yang lainnya. Kasus ini  terjadi karena pelanggaran terhadap norma-norma yang berlaku. Baik itu norma agama, budaya, dan norma yang ada di masyarakat itu sendiri.

“Sehingga muncul persepsi, ketika orang yang terjangkit penyakit ini pasti pikiran orang yang bersangkutan telah melakukan penyimpangan,” sebut Thohir.

Jika seseorang itu terjangkit HIV, tentu akan muncul berbagai persepsi dari masyarakat . Namun, tidak mutlak para penderita HIV ini disebabkan karena  sering kali melakukan prilaku diluar kewajaran. Inilah kini menjadi perhatian pihaknya, untuk   melakukan sosialiasi ke masyarakat dengan sebaik mungkin. “Kalau kita lihat dari sesi data, memang pengaruh  HIV ini karena hetroseksual itu masih lebih tinggi,” terang dia.

Dari sejumlah  kasus HIV ini, mereka yang diketahui terjangkit HIV sebagian karena faktor ketidak sengajaan. Namun ada juga penderitanya diketahui terjangkit HIV ketika dengan sengaja datang untuk mengecek  apakah dirinya  menderita HIV  atau tidak. “Kalau kalau AIDS ini karena faktor penyakit bawan yang kambuh. Setelah dilihat dan dicek lebih jauh, ternyata didalam pederitanya ada virus didalam dirinya ,” terang dia.

Pihaknya pun kini berusaha semaksimal mungkin menelsuri keberadaaan para penderita HIV/AIDS di Lotim. Mereka pun berharap pihak keluarga agar mendorong keluarga yang ada gejala menderita  HIV/AIDS UNTUK  melakukan pemeriksaan secara dini. Cara ini dianggap paling tepat, untuk memastikan apakah mereka positif terkena HIV/AIDS atau tidak.

“Harapan kita ketika orang melakukan tes kesehatan atau melakukan pemeriksaan dara, mungkin secara langsung memeriksa dirinya, sehingga bisa kita tau,” harap dia.

Jika seseorang itu lebih dini mengetahuinya tergejal menderita HIV/AIDS atau tidak, sehingga bisa melakukan antisipasi.

“Karena prasana kesehatan kita sekarng bagus dan mendukung. Dimanan pun bisa termasuk di puskesmas. Kita punya layanan komprehensip secara berkesinambungan  di beberapa tempat,” ulasnya.

Untuk itu, mereka pun terus mendorong masyarakat supaya masu masuk ke semua pelayanan kesehatan yang telah disediakan. Tidak hanya KPA, namun semua pihak dan lintas sektor ikut bersama bergerak menyakapi kasus HIV/ AIDS yang ada di Lotim. “Termasuk masyarakat, terutama keluarga dekat. Kita di KPA sendiri, orierntasi kita ke mereka yang memiliki resiko tinggi terkena penyakit ini,” tutupnya. (lie)

BACA JUGA :  Banyak Serang Ibu Rumah Tangga, Laki-laki Banyak tak Jujur