42 Orang di Lombok Tengah Meninggal karena HIV/AIDS

Mantan TKI Jangkit IRT

Ilustrasi HIV
Ilustrasi

PRAYA – Penyebaran virus Human Immunodeficiency Inflution and Aequired Immunodeficiency Syndrome (HIV/AIDS), semakin ganas menjangkit warga Lombok Tengah.

Berdasarkan data yang dikeluarkan Dinas Kesehatan Lombok Tengah menyebutkan, penyakin mematikan itu semakin menyebar luas. Hingga tahun 2017 ini,  terdapat 176 warga mengidap HIV/AIDS di daerah bermottokan Tatas Tuhu Trasna itu. Rincinya, terdapat 42 orang terkena kategori HIV. Sementara, penderita AIDS sebanyak 134 orang. Dari angka itu, sebanyak 42 orang meninggal akibat keganasan penyakit itu. ‘’Tragisnya lagi, penyebaran penyakit ini terus meningkat dari tahun ke tahun,’’ beber Kepala Dinas Kesehatan Lombok Tengah, H Omdah MKes, Rabu kemarin (11/10).

Diterangkannya, penderita penyakit ini dialami usia produtif, yakni antara usia 25 sampai 38 tahun. Penderita juga didominasi ibu rumah tangga (IRT), wiraswasta dan para pekerja seks komersial (PSK) hingga pengangguran yang tersebar di berbagai  wilayah di daerah itu. “Untuk penyakit HIV/AIDS ini memang dari data yang kita miliki sangat banyak. Sehingga, saat ini kita lagi fokus untuk melakukan sosialisasi terkait penanggulangan bahaya penyakit menular ini agar nantinya tidak terus menerus tersebar di Lombok Tengah,” tambahnya.

Omdah menjelaskan, banyaknya penyakit menular tersebut diketahui dari tahun 2013, dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Hal itu karena berbagai faktor, salah satunya bahwa penyakit tersebut merupakan penyakit bawaan yang dibawa oleh para tenaga kerja Indonesia (TKI) yang baru pulang merantau dari luar negeri maupun daerah. “Kita tidak bisa pungkiri bahwa tidak jarang para tenaga kerja kita pulang merantau  membawa penyakit menular ini. Karena di tempatnya bekerja malah melakukan pergaulan bebas yang sangat berbahaya. Tidak hanya untuk dirinya sendiri yang mengidap penyakit tapi sangat berbahaya untuk orang lain juga,” jelasnya.

Omdah menyampaikan, dari data yang ada saat ini, pihaknya terus melakukan pemantauan. Jangan sampai mereka yang mengidap penyakit tersebut malah menularkan penyakitnya lagi. “Kami juga berharap adanya kerja sama dengan semua pihak agar kedepan semua permasalahan ini tidak terus-terusan berlarut,” imbuhnya.

Lebih jauh dipaparkan, meski penyakit penyakit HIV/AIDS ini sulit menular di masyarakat. Tetapi, antisipasi yang intens harus terus dilakukan agar nantinya tidak ada masyarakat yang terjangkit. Terlebih, jika permasalahan itu tidak segera ditanggulangi, maka akan tambah berbahaya. Karena hingga saat ini penyakit HIV/AIDS itu belum ada obatnya. “Memang sulit menular, tapi jika saja ada tenaga kerja kita pulang dengan membawa penyakit menular ini dan memiliki istri, maka tidak menutup kemungkinan saking seringnya berhubungan maka istrinya juga akan bisa terjangkit,”terangnya.

Data yang ada saat ini menurut Omdah tidak menutup kemungkinan bisa bertambah. Karena bisa saja ada masyarakat yang masih belum melakukan pemeriksaan sehingga data yang dimiliki juga hanya pada ranah masyarakat yang sudah memeriksa. “Inikan bahaya, sehingga kita meminta kepada masyarakat agar melakukan pemeriksaan juga. Untuk kerahasiaan terjamin dan hanya mereka dan pihak medis yang tau,” katanya.

Pihaknya juga meminta kepada instansi terkait untuk ikut terlibat dalam menangani permasalahan tersebut. Terutama dalam ranah menanggulangi penyakit di tenaga kerja tersebut. Setidaknya, masyarakat yang balik dari rantauan t harus diperiksa dulu kesehatanya. “Tapi terkadang sulit juga untuk TKI ini soalnya kadang ada yang pulang dengan ilegal sehingga sangat sulit  untuk terdeteksi,” tandasnya.

Data Radar Lombok berdasarkan data Dinas Kesehatan Lombok Tengah tahun 2016 menyebutkan, sebanyak 40 orang terdiagnosa menderita AIDS dan 3 HIV selama tahun 2015-2016. Jumlah ini terdiri dari 24 laki-laki dan 19 perempuan. Mereka berasal dari 12 kecamatan yang tersebar di wilayah Kabupetan Lombok Tengah.

Kebanyakan, mereka yang terjangkit ini adalah ibu rumah tangga (IRT), pekerja seks komersil (PSK), wiraswasta, mahasiswa dan pengangguran. Untuk IRT sendiri ada 11 orang. Disebutkan, tahun 2016 ini sendiri kasus AIDS bertambah 13 orang. Terdiri dari 4 IRT, 5 buruh, 5 wiraswasta dan sisanya tidak bekerja. Banyaknya korban IRT ini adalah mereka yang ditinggal merantau suaminya sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri.

Data Radar Lombok juga menyebutkan, Dikes Lombok Tengah bahkan mendeteksi satu keluarga postitif AIDS di Kecamatan Pringgarata tahun 2015 silam. Penyakit itu ditemukan saat pemeriksaan kesehatan di puskesmas. Awalnya, ditemukan satu orang dari keluarga tersebut. setelah ditelusuri, ternyata satu keluarga itu dinyatakan positif AIDS.

Secara rinci, data HIV/AIDS ini dicatat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Lombok Tengah. Yaitu, rata-rata penderita HIV/AIDS ini terjadi pada umur produktif, yakni 19-25 tahun dan 30-34 tahun. Jumlah yang terkumpul sejak tahun 2003-2016 tercatat sebanyak 159 penderita. HIV sebanyak 31 orang dan AIDS sebanyak 128 orang.

Untuk HIV tahun 2003: 1 orang, 2004: 1 orang, 2005: 4 orang, 2007: 2 orang, 2008: 2 orang, 2009: 3 orang, 2010: 3, 2011: 8 orang, 2012: 1 orang, 2013: 3 orang, 2014: 0 orang, 2015-2016: 3 orang. Sedangkan pengidap AIDS meningkat drastis  sejak tahun 2006 : 1 orang, 2007: 3 orang, 2008: 6 orang, 2009: 6 orang, 2010: 6 orang, 2011: 14 orang, 2012: 19 orang, 2013: 18 orang dan 2014: 11 orang, 2015-2016: 40 orang.  Mayoritas, penderita ini terkena faktor risiko dengan jenis penyakit heterosex dan IDUs.

Data tahun 2014 menyebutkan, penderita ini menyebar di 12 kecamatan di Lombok Tengah. Untuk penderita HIV di Kecamatan Praya sebanyak 11 orang, Praya Timur 1 orang, Praya Barat Daya 2 orang, Batukliang 2 orang, Batukliang Utara 2 orang, Jonggat 6 orang, Pringgarata 5 orang, Pujut 2 orang, dan Kopang 2 orang. sedangkan penderita AIDS yakni, Kecamatan Praya sebanyak 22 orang, Kopang 10 orang, Praya Barat Daya 9 orang, Janapria 8 orang, Batukliang 7 orang, Praya Timur 6 orang, Pujut 4 orang, Praya Barat 4 orang, Jonggat 7 orang, Batukliang Utara 3 orang, Praya Tengah 2 orang dan Pringgarata 2 orang.

Dari jumlah ini terdapat persentase rata-rata laki-laki sebanyak 46,43 persen dan perempuan 53,57 persen. Atau laki-laki sebanyak 52 orang dan perempuan sebanyak 60 orang tahun 2014. Untuk populasi Infeksi Menular Sex (IMS) dari tahun 2003-2014, sebanyak 136 orang. Terdiri dari WPS 3 orang, PPS 5 orang, waria 1 orang, LSL 12 orang, pelanggan PS 23 orang, pasangan suami istri 29 orang dan lainnya 63 orang. (cr-met)