Janazah Pendaki Kelahiran Israel Dipulangkan

TIM EVAKUASI : Janazah korban atas nama Boaz Bar Anam saat dievakuasi oleh tim ke RS Bayangkara Mataram sebelum dipulangkan ke negara asal. (FAISAL HARIS/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Setelah berhasil dievakuasi oleh tim gabungan, jenazah warga negara asing (WNA) asal Israel pemegang paspor Portugal atas nama Boaz Bar Anam yang dilaporkan terjatuh di puncak Rinjani pada Jumat (19/8) dikirim pulang ke negara asal.

Kepala Subbagian Tata Usaha Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Dwi Pangestu menyampaikan, jenazah korban atas nama Boaz Bar Anam yang merupakan korban terjatuh di puncak Gunung Rinjani telah diserahkan langsung Kepala BTNGR, Dedy Asriady ke pihak kepolisian di rumah sakit Bhayangkara Mataram, Senin (22/8) setelah sebelumnya dievakuasi tim gabungan dengan memakan waktu sekitar tiga hari dari waktu kejadian. “Jadi tadi malam (Senin malam) Pak Kepala TNGR langsung yang serahkan jenazah korban ke rumah sakit Bhayangkara Mataram,” katanya.

Dwi menuturkan, dari informasi yang diterima jenazah korban dikabarkan telah dikirim pulang ke negara asal melalui pelabuhan Lembar menuju Bali dan diterbangkan menggunakan pesawat dari Bali ke negera asal.

Proses evakuasi korban yang dilakukan tim gabungan dari unsur Balai TNGR, EMHC, Kantor SAR Mataram, SAR Lombok Timur, Damkar Lombok Timur, BPBD Lombok Timur, Brimob Polda NTB, dan KUN, dengan jumlah personel sebanyak 35 personel yang diberangkatkan dari Kantor Resort TNGR Sembalun pada Jumat 19 Agustus 2022 pukul 14.21 Wita. Korban berhasil dievakuasi pada Senin 22 Agustus 2022 pada pukul 14.22 Wita. Korban dikabarkan terjatuh pada saat melakukan foto selfie yang berada di tepi jurang puncak Rinjani pada Jumat pagi pukul 05:30 Wita. Posisi korban jatuh berada pada lereng bagian barat laut atau arah danau Segara Anak, jarak korban jatuh sekitar 150 meter. Korban teregistrasi mendaki melalui pintu masuk Sembalun pada tanggal 18 Agsutus 2022, dengan kode booking : ERSPOQ8ETKPHQ.

Baca Juga :  Jelang MotoGP, Kondusivitas Daerah Harus Terjaga

Lebih lanjut Dwi menyebutkan, dari Januari hingga Agustus 2022 ini jumlah pendaki yang mengalami insiden kecelakaan di Gunung Rinjani tercatat sebanyak 18 orang. Baik itu insiden terjatuh, sakit maupun tersesat. “Tapi dari 18 kejadian yang meninggal 1 orang. Dan kebanyakan pendaki yang terjatuh atau terkilir,” sebutnya.
Oleh sebab itu, Dwi mengingatkan, bagi pendaki agar mematuhi standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan melalui Keputusan Balai Tanam Nasional Gunung Rinjani Nomor : SK./19/T.39/TU/KSA/3/2022 tentang Revisi II SOP Pendakian Taman Nasional Gunung Rinjani. “Jadi perlu untuk membaca dan mematuhi SOP pendakian, aturan dan larangannya,” katanya.

Selain itu, pendaki juga harus menyiapkan fisik dan mental sebelum mendaki dengan berolahraga terlebih dahulu. Serta menyiapkan peralatan standar pendakian. “Bagi pendaki pemula bisa menggunakan pemandu guide atau temannya yang pernah mendaki,” sarannya.

Terpisah, Kepala Basarnas Mataram, Nanang Sigit mengatakan, bahwa Gunung Rinjani dan Gunung Tambora yang ada di NTB menjadi favorit bagi pendaki karena keindahan pemandangannya. Namun masalah keselamatan saat mendaki hal utama yang harus dikedepankan para pendaki. “Patuhi SOP pendakian itu di TNGR maupun di Taman Nasional Gunung Tambora. Jadi sebelum mendaki minta aja SOP nya, pendakian itu seperti apa, syarat-syaratnya juga seperti apa sehingga itu harus dipatuhi dengan baik. Terkait dengan perlengkapannya agar jangan sampai ketika mendaki tidak membawa perlengkapan yang sangat dibutuhkan,” ujarnya.

Baca Juga :  Warga Pagar Proyek Bypass Mandalika

Selain itu juga tidak memaksakan diri untuk mendaki jika kondisi cuaca kurang bersahabat. Jika terdapat imbauan dari BMKG maupun dari pihak Taman Nasional Gunung Rinjani dan Gunung Tambora, maka pendakian tidak dilakukan sebab akan mengancam keselamatan.
Kehati-hatian lanjutnya, juga diutamakan dengan tidak melakukan swafoto di tempat-tempat atau lokasi yang membahayakan keselamatan. “Beberapa kejadian terjadi karena kecerobohan dari para pendaki seperti melakukan swafoto di tempat yang tidak seharusnya untuk konten di media sosial yang berbeda dengan yang lainnya. Tapi tidak memperhatikan keselamatan dirinya maka hal ini harus dihindari,” ucapnya Nanang.

Lebih jauh disebutkan Nanang, Basarnas Mataram akan memberikan pendampingan jika dibutuhkan selama melakukan pendakian. Jikapun tidak maka akan tetap dilakukan pengawasan guna memastikan keamanan dan kenyaman para pendaki saat mendaki. “Misalanya ada komunitas atau kelompok dan juga rombongan yang melakukan pendakian mereka menyampaikan terlebih dahulu ke kami bahwa mereka akan melaksanakan pendakian, jumlah orangnya sekian, tanggalnya sekian dan waktunya sekian. Dengan penyampaiannya itu maka Basarnas Mataram akan melakukan pengawasan dan selalu ada kontak dengan mereka sehingga jika ada apa-apa maka cepat mengantisipasi,” pungkasnya. (sal)

Komentar Anda