Jalur Pendakian Aik Berik Sepi Peminat

Layanan Online Banyak Kekurangan

Jalur Pendakian Aik Berik Sepi Peminat
DIKRITIK : Sistem pendakian Rinjani dari jalur Aik Berik dikritik pendaki. (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Bagi para pencinta alam yang ingin melakukan pendakian ke Gunung Rinjani, hanya bisa memilih jalur Aik Berik Lombok Tengah untuk saat ini. Jalur tersebut dibuka secara resmi sejak tanggal 19 November lalu pasca bencana gempa. Rinjani menjadi salah satu andalan pariwisata NTB. Apalagi saat ini statusnya telah masuk menjadi geopark dunia. Setelah tiga minggu jalur dibuka, jalur ini masih sepi dan kurang diminati.

Salah seorang pendaki asal Lombok Timur, Rendy Dobo, yang mencoba jalur Aik Berik bersama temannya asal Jakarta mengatakan hal itu. “ Rute Aik Berik memang berikan keindahan, tidak jauh beda dengan rute yang lain. Tapi banyak kekurangannya rute yang baru ini,” kata Rendy saat bertemu Radar Lombok, Senin (10/12).

Seperti diketahui saat ini tiga jalur pendakian lain yang cukup populer masih ditutup. Jalur Timbanuh dan Sembalun di Kabupaten Lombok Timur, serta jalur pendakian Senaru, Kabupaten Lombok Utara belum dibuka lagi pasca bencana gempa. 

Rendy merunut pengalamannya mendaki melalui Aik Berik pada tanggal 8-9 Desember. Mulai dari layanan sistem online yang diterapkan. “ Kita beli tiket online. Tapi tidak ada disiapkan untuk guide, ini kan masalah,” ucapnya. 

Akibat tidak adanya fitur memesan guide, Rendy bersama temannya harus mencari saat tiba di lokasi.” Di sana kita ditanya mau pakai guide atau tidak, seharusnya sudah ada pilihan sejak pesan tiket. Terus kami bilang pakai guide, eh malah guide-nya gak siap. Katanya kenapa mendadak, terus dicariin kita yang siap. Sistem seperti ini sama sekali buat kita gak nyaman,” terang pecinta buku ini.

Setelah mendapatkan guide, Rendy yang beberapa kali pernah mendaki melalui jalur Sembalun, merasakan perbedaan nyata dengan Aik Berik. Terutama minat pengunjung yang jauh berbeda. Pada hari pertama mendaki, Rendy bersama temannya hanya ditemani guide saja. Tidak ada orang lain yang mendaki. “ Cuma kami saja. Sepi sekali. Bahkan sampai di Pelawangan, ya hanya saya bersama teman saya. Untung ada guide, jadinya bertiga,” tuturnya. 

Hal yang harus diketahui juga, rute Aik Berik memang jauh berbeda. Banyak lintah di sepanjang jalan hingga pos dua. “ Lihat kaki saya, ini terus keluarkan darah karena lintah. Sangat tidak nyaman. Padahal kita mendaki itu untuk refreshing, tapi jadi begini. Malah saat saya baru mau naik, ada lebah juga yang menyengat. Tapi kalau indah sih, ya indah jalurnya. Benar banyak mata air juga. Cuma mungkin memang perlu masukan untuk TNGR. Dan evaluasi diri, kenapa sepi sekarang pendakian. Kalau bagi kami, musim hujan bukan halangan,” tutup Rendy Dobo. 

Berdasarkan aturan, pendaki hanya bisa sampai ke Pelawangan untuk saat ini. Mengingat kondisi Danau Segara Anak masih berbahaya akibat bencana gempa. Apalagi di Pelawangan saja, banyak tanah yang retak. 

Kepala Balai TNGR, Sudiyono yang dikonfirmasi Radar Lombok mengakui berbagai kendala yang terjadi saat ini. Termasuk terkait masih sepinya peminat dari jalur Aik Berik. TNGR sendiri telah berupaya melakukan sosialisasi. Namun belum menunjukkan hasil signifikan. Sistem online yang digunakan, sama sekali tidak efektif. Sudiyono bahkan malu menyebut angka kunjungan setelah 3 minggu jalur tersebut dibuka. “ TO,  guide dan porter belum siap. Selain itu situasi masyarakat terhadap TO  dari luar juga belum kondusif,” katanya. 

Sudiyono tidak ingin menyalahkan diri sendiri. Apalagi mengakui kelemahan dari pihak TNGR. “ Info yang kami dapat, ada TO dari Senggigi yang punya izin kita. Mau bawa tamu via Aik Berik, tapi ada oknum masyarakat yang mencegah,” terang Sudiyono.(zwr)