Inaya dan Anaya Bayi Kembar Siam yang Miliki Satu Organ Hati

CERIA: Inaya dan Anaya, bayi kembar siam asal Desa Jurit Selatan Kecamatan Pringgasela tampak terlihat ceria saat digendong ayahnya, Muhammad Jufri, kemarin (24/6). (MUHAMMAD GAZALI/RADAR LOMBOK)
CERIA: Inaya dan Anaya, bayi kembar siam asal Desa Jurit Selatan Kecamatan Pringgasela tampak terlihat ceria saat digendong ayahnya, Muhammad Jufri, kemarin (24/6). (MUHAMMAD GAZALI/RADAR LOMBOK)
Advertisement

Celomes bayi kembar siam Inaya dan Anaya sangat memperihatinkan. Kondisi inilah yang membuat berbagai pihak menaruh gelebah. Dan, tak sedikit dari mereka yang iba memberikan derma kepada bayi dempet ini.


Dokter RSUD dr Raden Soedjono Selong Kabupaten Lombok Timur sudah mengizinkan Inaya dan Anaya pulang, kemarin (24/6). Muhammad Jufri dan Husniati, orang tua bayi dempet ini langsung menggelar syukuran molang malik. Yakni, acara syukuran setahun kelahiran bayi kembar siamnya.

Inaya dan Anaya sebetulnya sudah berumur 13 bulan, atau satu tahun satu bulan. Dia lahir bulan Mei 2019 lalu. Namun, Muhammad Jufri dan Husniati baru bisa menggelar syukuran hari ulang tahun anak ketiga dan keempatnya ini. Semua itu tak terlepas dari kondisi ekonomi orang tua bayi kembar siam ini.

Warga Desa Jurit Selatan Kecamatan Pringgasela ini tergolong sebagai masyarakat tak mampu. Muhammad Jufri sendiri tak punya pekerjaan tetap. Ia bekerja serabutan sebagai buruh bangunan. Husniati sendiri tak bisa berbuat banyak membantu suaminya mencari nafkah. Dia lebih banyak meluangkan waktu untuk mengasuh anak-anaknya, terutama si kembar. Bayi ini membutuhkan perawatan ekstra.

Kondisi itu terpancar jelas dari mimik wajah Husniati, ibu si kembar saat Koran ini bertandang ke rumahnya, kemarin. Inaya dan Anaya sendiri sedang tertidur pulas di sebuah amben depan rumahnya. Di sampingnya ada sang ayah sedang setia menunggu. ‘’Maaf lagi ramai, karena ada acara molang malik (selamat hari lahir Inaya dan Anaya, red). Sekarang bisa kita laksanakan karena baru ada uang,‘’ kata Husniati membuka pembicaraanya setelah menyambut hangat Koran ini.

Husniati, dari raut wajahnya terlihat masygul, sedu dengan kondisi anaknya. Apalagi lagi sejak beberapa hari terakhir ini, media ramai memberitakan kondisi bayi kembarnya. Dia tampak trenyuh selain sibuk menerima kunjungan penderma belakangan ini.

Getir itu sebenarnya sudah ditanggung Husniati sejak kandungannya berumur sebulan. Awal mengandung anak ketiga dan keempatnya ini, Husniati tak merasakan apa-apa. Tak terjadi keanehan apapun saat mengidam. Tapi setelah kandungannya berumur sebulan, Husniati mulai merasakan kejanggalan di perutnya. Tubuhnya sering sakit, lemah, mual, muntah, dan selalu ingin tidur. ‘’Ketika mengandung anak-anak saya sebelumnya (pertama dan kedua, red) tidak seperti itu . Saya akhirnya pergi periksa ke dokter kandungan. Dari hasil USG, dokter memberitahukan jika bayi di dalam kandungan saya dempet,’’ tutur Husniati.

Saat mengetahui kondisi itu, Husniati terasa lara. Dia kaget karena anak dalam kandungannya kembar siam. Namun, Husniati dan suaminya akhirnya membesarkan hatinya. Mereka mencoba menerima dengan ikhlas apa yang digariskan Tuhan terhadap dirinya.

Sebagai orang tua, Husniati dan suaminya juga sadar. Mereka harus menerima apapun kondisi dan bentuk darah dagingnya. ‘’Dokter tempat saya periksa itu juga terus memberikan saya motivasi. Kami berpikir ini adalah titipan. Saya harus jaga, apalagi ini adalah darah daging saya. Saya sama sekali tidak malu dengan kondisi anak saya seperti ini,‘’ Husniati mengelus dada.

Husniati juga mengaku, proses kelahiran Inaya dan Anaya tidak normal seperti anak biasanya. Inaya dan Anaya lahir saat usia kandungannya delapan bulan. Itu pun proses persalinannya dilakukan dengan cara operasi sesar. ‘’Ketika lahir, perasaan saya gimana melihat kondisi anak saya seperti itu,‘’ kenangnya.

Sejak lahir, Inaya dan Anaya hanya punya satu organ hati. Seiring pertambahan usianya, kondisi kedua anaknya itu tetap tetap sehat dan sangat aktif. Tapi yang membuatnya miris, karena tidak bisa melihat anaknya beraktivitas seperti anak-anak lainnya. Apalagi di usianya yang sudah menginjak satu tahun satu bulan, semestinya sudah bisa berjalan. ‘’Sehari-harinya saya pangku dan gendong. Kalau capai, saya tidurin. Begitu terus. Saya mengasuhknya begitu luar biasa. Saya tidak bisa ungkap kan dengan kata-kata. Cara mengasuhnya sangat beda, mulai dari menggendong, menyusui, bahkan sampai menidurinya,‘’ imbuh Husniati.

Dalam mengasuh putri kembar siamnya ini membutuhkan kesabaran. Apalagi kondisi keduanya sangat aktif. Ketika salah satu dari mereka tidur, yang satunya terkadang menggangu. Begitu juga ketika salah satunya sakit, maka satunya juga akan ikut sakit. ‘’Kalau Inaya sakit, Anaya juga pasti ikut sakit. Begitu sebaliknya,‘’ tambahnya.

Sebagai orang tua, Husniati tentunya tak ingin melihat anaknya seperti itu selamanya. Dia berharap pemerintah segera membantu operasi bayi dempetnya. Terlebih lagi, operasi pemisahan telah beberapa kali tertunda.

Setelah kembali ada perhatian dari Pemkab Lombok Timur, dia miminta supaya segera bisa direalisasikan. Karena dia sendiri sama sekali tidak punya uang untuk biaya operasi kedua putrinya tersebut. Bisa makan setiap hari saja, ia merasa sangat bersyukur. Apalagi suaminya hanya sebatas buruh bangunan dengan penghasilan tidak menentu. Apalagi dengan kondisi sekarang ini, suaminya tidak pernah bekerja. ‘’Bagi saya, apapun risikonya, anak saya harus tetap dioperasi,’’ pinta dia.

Muhammad Jufri juga tidak bisa berkata banyak melihat kondisi anaknya. Harapannya hanya satu, bagaimana supaya kedua putri kembarnya itu bisa segera dioperasi. ‘’Cuma itu keinginan saya sebagai orang tua,’’ timpalnya singkat.

Kepala Dinas Kesehatan Lombok Timur, dr Hasbi Santoso berujar soal operasi pemisahan bayi kembar siam ini. Tugas mereka hanya sebatas perawatan dan pemeliharaan kondisi kesehatan bayi. Sedangkan untuk pelaksanan operasi sendiri, sepenuhnya menjadi kewenangan RSUD Selong.

Sejak awal mengetahui kondisi Inaya dan Anaya, mereka langsung mengambil tindakan dengan pengawasan langsung Puskesmas Pringgasela. Ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, supaya langsung dilaporkan ke rumah sakit untuk ditangani. ‘’Mengenai biaya pengobatannya semua dibebaskan,‘’ ujar dia.

Untuk pelaksanaan operasi pemisahan, lanjut Hasbi, masih terkendala kondisi pandemi corona. Tim dokter ahli yang akan menangani operasi bayi kembar siam ini belum bisa didatangkan karena situasi yang tidak mungkinkan. Operasi sendiri nantinya akan melibatkan 40 tenaga dokter. Enam di antaranya merupakan dokter spesialis yang akan didatangkan dari Surabaya. ‘’Dokter ahli ini terdiri dari dokter ahli bedah, ahli syaraf anak, dan jantung. Secara keseluruhan ada 40 orang tim dokter yang akan menangani,’’ bebernya.

Berapa besar peluang keselamatan bayi kembar ini setelah dioperasi? Hasbi berkeyakinan harapan hidup keduanya sangat besar. Keyakinan Hasbi ini diketahui setelah melalui proses kajian tim dokter.

Apalagi, kedua bayi ini telah memenuhi syarat untuk dioperasi. Baik itu dari segi usia maupun yang lainnya. Untuk organ tubuh bagian dalamnya, hanya organ hatinya saja yang satu. Sedangkan organ jantungnya berbeda.

‘’Inaya dan Anaya masing-masing punya jantung. Cuma hatinya satu. Tapi kalau hati meskipun kita sudah dewasa, kalau dipotong tetap bisa tumbuh lagi. Kita berharap mudah-mudahan bisa segera dioperasi,‘’ tutupnya. (muhammad gazali)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid