Harga Minyak Goreng Melambung Tinggi

Stok dan Pasokan Minyak Goreng Tetap Aman

MINYAK-GORENG
MINYAK GORENG: Bahan baku naik, harga minyak goreng tinggi

MATARAM – Harga jual minyak goreng, baik kemasan pabrikan dan minyak goreng curah semakin melambung tinggi. Jika dua bulan sebelumnya harga jual minyak goreng kemasan Rp12.500 per pcs kemasan 1 liter, kini sudah tembus Rp 19 ribu per pcs. Begitu juga dengan harga minyak goreng curah dari harga sebelumnya Rp 11 ribu per liter, kini sudah tembus Rp 19 ribu hingga Rp 20 ribu.

Tingginya harga minyak goreng disebabkan bahan baku produksi minyak yang mahal. Dampaknya, pabrik menaikkan harga kepada distributor. Kenaikan harga minyak goreng kemasan dan curah ini sudah terjadi sejak beberapa bulan lalu. Sekarang ini rata-rata harganya berkisaran Rp 19 ribu hingga Rp 20 ribu per liter untuk minyak curah.

Sedangkan untuk minyak kemasan berkisaran di harga Rp18.000-Rp.20.000, harganya tergantung dari merek. Tingginya harga minyak goreng banyak dikeluhkan oleh masyarakat.

“Kenaikan harga minyak goreng bukan semata –mata mekanisme pasar. Tapi memang bahan bakunya yang naik. Di pasar minyak goreng sudah Rp 19 ribu per liter untuk curah, kemasan tergantung merek harganya,” ungkap Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Prihatin Haryono, (Senin (15/11).

Sejauh ini selama terjadinya kenaikan harga yang cukup tinggi dan banyak dikeluhkan masyarakat antisipasi sebelum terjadi kenaikan biasanya Disdag akan menggelar pasar murah. Bahkan sudah digelar di beberapa kabupaten/kota di NTB. Namun setelah terjadinya kenaikan belum dilakukan.

“Labulia Lombok Tengah, Karang Pule dan Cakra Square untuk Mataram dan di Suranadi Lombok Barat. Untuk mengatasi harga yang tinggi, biasanya melalui operasi pasar, tapi belum kita lakukan,” terangnya.

Sementara, untuk produksi minyak goreng lokal di NTB masih sedikit dan harganya memang terbilang tinggi, sehingga belum bisa mendorong masyarakat menggunakan minyak goreng lokal. Mengingat biaya produksinya jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan produk pabrikan.

“Biaya produksi minyak goreng masyarakat juga tinggi, mengingat harga bahan bakunya juga tidak murah. Kita tunggu mudah mudahan TPID segera menggelar rapat untuk ini,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Pasar Induk Mandalika, Ismail mengatakan, sebelumnya harga untuk minyak goreng kemasan berkisaran Rp 14 ribu – Rp 15 ribu per liter dan minyak goreng curah Rp 15 ribu – Rp 16 ribu per liter. Kini sudah ada kenaikkan mencapai Rp 17 ribu per liter dan minyak goreng curah Rp 18 ribu per liter.

BACA JUGA :  Alfamart Kesulitan Suplier Minyak Goreng

“Harga minyak sawit lagi naik dari pedagang. Sudah naik dari beberapa bulan lalu Rp 1.000, sekarang sudah naik lagi,” terangnya.

Kendati demikian, untuk pasokan dipastikan aman dan stok juga melimpah. Hanya saja harganya terus mengalami kenaikan dan harga mahal iin bukan pengaruh dari Mualid Nabi dan gelaran event yang ada di Lombok. Karena kenaikannya sudah terjadi sebelum Maulid Nabi dan langsung dari pabrik.

“Pasokan minyak goreng aman, masih cukup,” ucapnya.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram Uun Pujianto mengakui jika minyak goreng kemasan mengalami kenaikan sejak bulan Oktober. Tetapi untuk stok tetap tersedia.

“Kenaikan ini, dikarenakan bahan baku sawit yang mulai dipakai menjadi biosolar yang membuat harganya naik. Stok tetap ada, tidak ada yang limit,” katanya Uun Pujianto kepada Radar Lombok.

Dikatakan Uun, awalnya minyak curah yang mengalami kenaikan. Selama ini, pemantauan terus dilakukan di beberapa distributor besar di Kota Mataram. Ia juga meminta para pengusaha tidak nakal menaikkan harga. Karena ini, juga salah satau kebutuhan pokok masyarakat.

“Kita terus ingatkan, termasuk memantau beberapa pasar tradisional saat ini. Kenaikan harga minyak goreng tidak terlalu signifikan selama ini, kenaikan tidak terlalu tinggi, stok terutama yang harus tetap dijaga dan masih tersedia sampai akhir tahun,” ujarnya.

Sementara itu, Kabid Pengendalian Bahan Pokok dan Penting (Gapokting) Disdag Kota Mataram Sri Wahyunida, menyebutkan, kenaikan harga minyak kemasan sudah dilakukan koordinasi dengan Pemprov NTB.

“Sudah kita rapat dengan Pemprov NTB, menjelang WSBK, kebutuhan di lapangan, termasuk harga kita terus pantau di distributor,” katanya.

Untuk harga eceran tertinggi (HET) komoditas minyak goreng yang sampai saat ini, mengalami kenaikan sangat tinggi. Menjadi ranah pemerintah pusat, beberapa distributor sudah dilakukan pengawasan terkait dengan kenaikan harga. Kalangan distributor mengklaim kenaikan karena bahan baku yang mulai menipis saat ini, untuk minyak kemasan maupun curah.

BACA JUGA :  Warga KLU Belum Bisa Beli Minyak Goreng Rp 14 Ribu Per Liter, Kenapa?

“Kita sudah minta ke pemprov NTB, untuk kenaikan ini diantisipasi,” ujarnya.

Berdasarkan data dari Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok, rata-rata harga minyak goreng jenis kemasan berada pada kisaran Rp 18 ribu liter. Harga minyak goreng tertinggi tercatat di Kota Mataram yang mencapai Rp 18 ribu per liter dan terendah Rp 17 ribu per liter. Sementara pantauan di pasar tradisional, harga minyak goreng curah mencapai Rp 17 ribu per liter sampai Rp 19 ribu per liter. Padahal, berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) 7/2020, harga minyak goreng kemasan sederhana diatur Rp 11.000 per liter.

Dikatakan Sri, kenaikan harga minyak gorengan kemasan maupun curah mulai naik tahun 2020 lalu. Alasan distributor selama ini, kurang, kayak sawit. Sri mengaku jika sudah mengumpulkan beberapa distributor di Kota Mataram. Menurut informasi dari pusatnya, kemungkinan untuk turun mungkin tidak ada, namun ada kenaikan. Saat ini, minyak goreng curah juga mengalami kenaikan Rp 17 ribu per liter di pasar Mandalika, pasar Dasan Agung Rp 18 ribu, pasar Cakranegara Rp 19 ribu. Kenaikan mulai dari harga Rp 13 ribu. Sedangkan kemasan, apapun mereknya normalnya tidak jauh beda Rp 15-16 ribu per liter. Tetapi sekarang di pasaran kisaran harga sudah diatas Rp 20 ribu per liter.

“Kita terus ingatkan para distributor untuk tidak menaikan harga sembarangan,’’ pungkasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Mataram H Muhtar mengatakan, kebutuhan bahan pokok harus dipantau secara ketat saat ini. Karena akhir tahun, biasanya para pemain harga kerap terjadi.

“Kita harapkan harga bahan pokok ini stabil, jangan sampai ada yang melambung tinggi. Apalagi sekarang masih dalam kondisi pandemi covid-19,” katanya.

Ia meminta agar dinas terkait, harus tetap memantau para distributor besar di Kota Mataram. sehingga tidak memainkan harga yang terlalu tinggi. Karena minyak goreng salah satu kebutuhan pokok masyarakat yang harus diperhatikan. (dev/dir)