Warga KLU Belum Bisa Beli Minyak Goreng Rp 14 Ribu Per Liter, Kenapa?

MAHAL: Minyak goreng di pasar tradisional masih mahal, sementara masyarakat KLU belum bisa mendapatkan program minyak goreng kemasan subsidi, karena tidak ada Alfamart dan Indomaret. (HERY MAHARDIKA/RADAR LOMBOK)

TANJUNG–Pemerintah pusat bekerja sama dengan produsen minyak goreng dan retail modern untuk menjual minyak goreng murah bersubsidi seharga Rp 14 ribu per liter. Kebijakan ini mulai berlaku Rabu (19/1) lalu di seluruh Indonesia.

Tetapi sayangnya, di Kabupaten Lombok Utara (KLU) sendiri, warga belum bisa menikmati kebijakan pemerintah pusat itu. Mengingat tak adanya retail modern seperti Alfamart dan Indomaret yang masuk ke KLU. Sehingga praktis warga KLU masih tetap membeli minyak goreng dengan kisaran harga Rp 20 ribu hingga Rp 22 ribu per liternya.

BACA JUGA :  Bulog akan Distribusi Minyak Goreng Seharga Rp14.000 Per Liter

“Mau bilang apa. Kita tidak punya Alfamart dan Indomaret, tidak bisa menikmati kebijakan minyak goreng kemasan subsidi itu,” ujar Kasi Pengembangan Pengawasan Perdagangan pada Bidang Perdagangan, Diskoperindag UMKM KLU Prihatin, Kamis (20/1).

Diungkapkan, kenaikan harga minyak goreng sudah dirasakan masyarakat KLU sejak November 2021 hingga sekarang. Adapun kebijakan minyak murah ini dikeluarkan oleh pemerintah pusat begitu cepat, sehingga daerah kesulitan mengantisipasi. “Kita perlu berkoordinasi dengan provinsi dulu soal kebijakan yang baru dari pusat, kendala kita hanya tidak ada Alfamart dan Indomaret itu saja,” terangnya.

BACA JUGA :  Pedagang di Pasar Tradisional Ogah Jual Migor Rp 14 Ribu

Solusi yang bisa diberikan pada saat ini menyarankan masyarakat lebih banyak merebus masakannya, mengurangi menggunakan bahan minyak goreng, kemudian membuat minyak kelapa secara mandiri. Apalagi KLU dikenal sebagai penghasil minyak kelapa.

Namun yang jelas, agar masyarakat dapat menikmati program pemerintah pusat ini, pihaknya akan berkoordinasi dengan provinsi supaya ada kebijakan khusus. Misalnya bekerja sama dengan toko-toko besar yang ada di KLU atau menggelar operasi pasar murah. “Kita masih mencarikan solusinya dulu berkoordinasi dengan provinsi,” katanya. (flo)