Hafal 30 Juz, Dipercaya jadi Imam dan Penyuluh Termuda

BERPRESTASI : Zawil Fadli, S.P memperlihatkan piala yang diperoleh selama ini pada cabang tahfidz dan cabang tafsir golongan bahasa Inggris (HERY MAHARDIKA/RADAR LOMBOK)

Zawil Fadli hidup di lingkungan keluarga penghafal Alquran dan Qori’ah. Sejak kecil, dia  sudah termotivasi menjadi penghafal Alquran.


HERY MAHARDIKA–TANJUNG


Pemuda  berusia 25 tahun ini, lahir di Dusun Sigar Penjalin Desa Sigar Penjalin Kecamatan Tanjung pada tanggal 22 Maret 1991. Selain didukung lingkungan keluarga, Zawil memaknai tanggal lahirnya sangat istimewa yakni proses turunnya Alquran  selama 22 tahun. “ Orang tua saya berinteraksi dengan Alquran. Mamik (Bapak) memiliki hafalan 15 juz, sedangkan almarhumah Inaq Tuan (Ibu) seorang Qori’ah. Inilah yang menjadi inspirasi saya agar bisa menjadi seorang penghafal Alquran,” ujarnya kepada Radar Lombok pada saat dijumpai di rumahnya kemarin.

Dia pun digembleng ayahnya belajar mengaji sampai tahfidz.   Ketika duduk di  kelas VI SDN 1 Sigar Penjalin, pada tahun 2002 Zawil mulai mengikuti lomba cabang Tartil Quran tingkat kabupaten yang berlangsung di Gedung Bencingah Lombok Barat. Lomba pertama yang diikuti ini, ia tidak lolos ke babak berikutnya. “Dari sinilah motivasi menjadi penghafal semakin meningkat, setamat SD saya langsung mondok ke (Ponpes) Al-Aziziyah, Kapek,” kata putra  dari TGH Alwi Ayadi selaku Ketua Fatwa MUI Lombok Utara.

Pada tahun 2003, ia resmi menjadi santri di Ponpes  Al-Aziziyah Dusun Kapek Desa Gunung Sari Kecamatan Gunung Sari Kabupaten Lombok Barat. Selama tiga bulan pertama, ia mendapatkan pembinaan cara membaca Alquran yang baik dan benar sesuai   ilmu tajwid. Lalu saat di Madrasah Tsanawiyah (MTs) ia berhasil menghafal Alquran sebanyak 10 juz. Zawil  beberapa kali mewakili Kecamatan Maronge, Moyo Hilir, dan Pelampang Kabupaten Sumbawa   untuk mengikuti lomba MTQ cabang tahfidz 5 Juz tingkat kabupaten. “Pada waktu, saya mendapatkan juara dua tingkat kabupaten,” tuturnya sembari mengingat. 

Agar bisa  segera bisa hafal 30 juz, begitu Zawil duduk di Madrasah Aliyah (MA) memutuskan  pindah  dari umum ke Ma’had Darul Quran Hadist (khusus) di ponpes yang sama.

Setelah itu, ia rutin setiap tahun mengikuti perlombaan MTQ.

Ia merincikan, saat kelas X tahun 2008, ia mewakili Kecamatan Kuripan pada  cabang Tahfidz golongan 20 juz untuk tingkat kabupaten Lombok Barat yang berlokasi di Kediri dan berhasil meraih juara dua. Setahun kemudian, Kabupaten Lombok Utara mekar dari Lombok Barat, maka setiap perlombaan ia mewakili Lombok Utara.  Tahun 2009, Zalwi ikut MTQ tingkat provinsi pada  cabang Tahfidz golongan 10 Juz   dan berhasil meraih juara tiga. Kemudian, pada tahun 2010 kembali mewakili Lombok Utara pada MTQ tingkat provinsi di Lombok Timur dan  berhasil meraih juara tiga. “Seiring mengikuti perlombaan, setamat MA alhamdulillah saya berhasil menghafal Alquran 30 juz,” ucapnya bersyukur.

Zawil membutuhkan waktu 6 tahun untuk menghafal 30 juz. Bagi diri Zawil tidak ada tantangan yang berat.  Justru menghafal Alquran itu sangat ringan asalkan dilakukan dengan ihlas.  Bagi Zawil pribadi, dia  sejak muda telah mewakafkan diri kepada Alquran.  Dia berkomitmen untuk menghafal dan terus mempelajari Alquran.  “Usia muda, biasaya para pemuda begitu bebas memperluangkan waktu untuk berkumpul, pergi rekreasi tapi saya menutup diri semua itu karena ingin menjadi hafidz,” terangnya.

BACA JUGA :  Menembak Sasaran dengan Bantuan Cermin Kecil

Metode hafalan yang ia praktekan, mulai menajemen waktu, menghafal per ayat, manajemen tempat yang kondusif, keistikomahan, tidak gonta-ganti mushaf Alquran dan perhatikan ayat-ayat yang sama. Sementara, di dalam menjaga hafalan, ia setiap hari meluangkan waktu untuk murojoah (mengulang) hafalan. Selesai salat dia  mengulang dua lembar halaman, membaca ketika salat dan mendengar kaset.   Selain itu, harus bisa memotivasi diri, sebab pada dirinya menjadi apapun nanti ia harus menghafal Alquran 30 juz.

“Saya yakin sekali kecerdasan penghafal Alquran intelektualnya semakin tinggi. Selain itu, akan muncul ide-ide kreatif dan inovasi baru sesuai perkembangan zaman,” optimisnya.

Setamat MA, ia lalu melanjutkan ke Universitas Mataram (Unram) di Fakultas Pertanian. Meskipun telah kuliah, ia tetap mengikuti lomba. Pada tahun 2011 ia mengikuti Seleksi Tilawatil Quran (STQ) tingkat nasional di Banjarmasin,Kalimantan Selatan mewakili NTB cabang tahfidz golongan 10 juz namun tidak lolos. Meskipun tidak lolos, tidak menyurutkan motivasinya, Untuk menaikan kelas hafalan, pada tahun 2012 ia mengikuti 20 juz kategori mahasiswa tingkat nasional yang berlangsung di Makasar, tapi ia tidak mendapatkan juara. Kemudian, pada tahun yang sama ia mencoba pindah golongan 30 juz, namun pada waktu itu terbentur dengan usianya yang tidak memungkinkan. “Pada tahun itu, sudah mulai melihat klasifikasi umur,” tandasnya.

Akhirnya ia pun pindah cabang  tafsir golongan Bahasa Inggris. Pada tahun yang sama, ia mengikuti STQ tingkat kabupaten Lombok Utara berhasil meraih juara satu, kemudian mewakili Lombok Utara ke tingkat provinsi namun tidak mendapatkan juara.

Lalu pada tahun 2014 kembali mewakili Lombok Utara ke tingkat provinsi yang berlangsung di Sumbawa dan  meraih juara harapan tiga. Pada tahun 2015 mewakili Lombok Utara ke tingkat provinsi yang berlangsung di Kota Bima meraih juara harapan satu. “Dan pada tahun 2016 kemarin, penyelenggaraan STQ tingkat provinsi yang berlangsung di Lombok Utara, saya dipilih menjadi ketua official (pelatih) cabang Tahfidz 10, 20, dan 30 juz dan cabang tafsir untuk peserta Lombok Utara,” paparnya.

Zalwi  lalu membentuk yayasan bernama Abna Ul-Abror yang baru berdiri tiga tahun. Yayasan ini menaungi   TK dan SD Islam. Meskipun baru tiga tahun, telah memiliki 135 murid.

Zalwi juga didapuk sebagai pengajar tahfidz di Pondok Ma’had Darul Iman milik Bupati Lombok Utara. Ia dipercaya menjadi Ketua Dewan Tahfidz. Selain itu, ia   dikontrak menjadi penyuluh agama di Kemenag Lombok Utara selama tiga tahun. “Saya menjadi penyuluh termuda,” sebutnya.

Tidak hanya itu, ia juga pada bulan puasa suci Ramadan mendapatkan undangan berbagai masjid di Lombok Utara maupun di luar menjadi imam salat Isya sekaligus terawih. “Sejak dua tahun ini, setiap bulan puasa keliling menjadi imam,” jelasnya.

Bagi Zawil, menjadi seorang penghafal itu memberikan kebanggan kepada orang tua, keluarga besar dan teman sebayanya. Menjadi hafidz  memiliki kelebihan-kelebihan yang sudah dijamin oleh Allah SWT. Seperti apa yang ia rasakan yaitu menyerap ilmu dengan cepat dan kelebihan lainnya. “Dan semua urusannya akan bisa dicapai sembari berusaha,” pungkasnya.(*)