Garam Lotim Masih Berkualitas Rendah dan Mahal

GARAM : Petani garam di Dusun Tutuk Desa Jerowaru Kecamatan Jerowaru sedang panen garam belum lama ini. (Janwari Irwan/Radar Lombok)

SELONG-Dinas Perikanan dan Kelautan Lombok Timur  mengakui kualitas garam petani di daerah ini masih sangat rendah. Kondisi inilah yang membuat garam petani sulit menembus pasar luar.

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Lombok Timur, Hariadi Surenggana, mengakui kualitas garam Lombok Timur masih hitam. Hal inilah yang membuat garam daerah ini kalah saing dengan garam-garam yang berasal dari luar daerah yang banyak dijual di Lombok Timur. Dinas mengklaim terus mencari solusi agar hasil panen garam bisa memiliki kualitas yang sama dengan garam luar.”Selain garam kita kualitasnya masih hitam, juga garam petani kita saat ini harganya masih mahal, tidak seperti garam yang berasal dari luar yang kondisinya bagus tetapi harganya juga murah,”katanya kemarin.

Berbicara harga, garam luar dijual dengan harga Rp 500 per kilogram, sementara garam Lombok Timur dijual dengan harga Rp 1 ribu. Bahkan di lapangan seperti di Kecamatan Keruak harga garam lokal per kantong plastik kecil mencapai Rp 5 ribu. Padahal kualitasnya masih buruk.

Buruknya kualitas garam asal lombok Timur ini katanya, disebabkan tambak garam petani masih standar. Petani garam di luar daerah menggunakan lapis membran. Sehingga hasil panen tidak bercampur dengan  tanah.  Selain tidak menggunakan alas, juga faktor umur garam yang masih sangat muda membuatnya menjadi buruk.”Idealnya garam ini dipanen setelah tujuh hari, tetapi petani kita baru lima enam hari sudah dipanen,”katanya.

Untuk itu agar garam lokal tidak salah saing dengan garam asal daerah lain, ia meminta untuk menekan biaya produksi. Selain itu, pada saat ini ada satu program yang dikerjasamakan dengan pemerintah dengan membentuk tambak integrasi. Yaitu petani garam dengan tambak seluas 15 hektar itu dikumpulkan menjadi satu kelompok. Agar penampungan air semakin besar, dan petakan tambak semakin besar.

Potensi lahan yang dipunyai saat ini katanya, sebanyak di atas seribu hektar. “Tetapi saat ini kita bersaing dengan garam impor yang terus – menerus masuk, dan garam Jawa juga banyak yang masuk. Hal ini disebabkan harganya jauh lebih murah. Yang membuat garam luar ini lebih murah karena mampu menekan biaya produksi,”ujarnya.

Diakatakannya, agar garam Lotim ini bisa bersaing dengan garam impor, biaya produksi harusnya sebanyak Rp 300 rupiah per kilogram. Karena kalau mengirim ke Pulau jawa, harga garam hanya dibanderol Rp 700 per kilogram. Padahal di Jawa harga garam lokalnya hanya Rp 500 saja.”Melihat ini kita berada di posisi sulit, sehingga kami berpikir bagaimana agar stok yang ada saat ini bisa dikonsumsi oleh orang Lombok Timur saja dengan catatan tidak ada droping lagi garam dari luar daerah, tapi itu ndak bisa kita lakukan sehingga cara yang lain hanya meningkatkan kualitas saja,” tandasnya.(wan)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid