Enam Kecamatan di Lombok Timur Masih Darurat Kekeringan

Pembangunan Sumur Bor Terus Diperbanyak

Enam Kecamatan di Lombok Timur Masih Darurat Kekeringan
BANTUAN AIR: Masyarakat di wilayah selatan Lotim sedang antri bantuan air bersih yang diberikan oleh pemerintah, termasuk sejumlah lembaga dan instansi yang peduli. (DOK/RADAR LOMBOK)

SELONG—Sebanyak enam kecamatan di Lombok Timur (Lotim) sampai saat ini statusnya masih darurat kekeriangan. Keenam  kecamatan itu diantaranya adalah Kecamatan Keruak, Jerowaru, Suela, Sembalun, Sambelia, dan Terara, termasuk Sakra Timur.

Akibat dampak dari kekeringan ini, beberapa desa yang ada di enam kecamatan itu sangat membutuhkan bantuan air bersih. Karenanya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat terus berupaya untuk melakukan pendropan bantuan air bersih ke desa-desa yang membutuhkan. “Pendropan air di enam kecamatan itu masih terus berjalan,” ungkap Kabid Kedarurat dan Logistik BPBD Lotim, Rusnan, Selasa kemarin (31/10).

BACA JUGA :  Atasi Kekeringan, Pemdes Keruak Bangun Sumur Bor

Pendroapan air bersih ini tidak hanya dilakukan oleh BPBD saja. Melainkan juga bekerjasama dengan sejumlah pihak terkait lainnya. Salah satunya dengan pihak Provinsi dengan menggunakan anggaran siap pakai.

Tindak lanjut dari kerjasama itu telah dilakukan penandatangan kontrak dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Kerjasama tersebut yaitu dalam bentuk pendropan air bersih sebanyak 7,5 juta  liter. Penyaluranya itu akan difokuskan ke enam kecamatan yang berstatus darurat kekeringan. “Baru kemarin sudah kita lakukan perjanjian. Kemungkinan penyaluran bantuan ini dalam waktu dekat sudah kita mulai,” imbuhnya.

Penanganan masalah kekeringan tidak hanya melalui solusi jangka pendek saja. Tapi berbagai upaya lain juga dilakukan, terutama untuk penanganan kekeringan di wilayah Lotim bagian Selatan.

Diantaranya dengan cara melakukan penanganan secara permanen berupa pembuatan sumur bor, pipanisasi, membuat sumur gali, dan menyiapkan bak-bak penampungan air di wilayah yang memiliki sumber mata air. “Disamping itu juga kita sudah bekerjasama dengan BPBD Provinsi, ESDM, dan lainnya, untuk melakukan survei geolistrik,” kata dia.

Dikatakan,  survei geolistrik ini sendiri telah mulai dilakukan sejak tahun 2016 lalu. Itu dilakukan di 11 titik yang tersebar di sejumlah wilayah di Lotim. “Sampai sekarang ini kita telah membangun di 11 titik sumur bor. Dan tahun ini juga kita melakukan upaya untuk melakukan survei geolistrik sebanyak 36 titik. Mudah-mudahan fisiknya sudah bisa kita bangun tahun 2018 mendatang,” harapnya.

Begitu juga upaya permanen lainnya dengan cara pembuatan bak penampungan air. Salah satunya dibangun di Desa Jenggik Utara. Dimana pembangunannya bekerjasama dengan pemerintah desa setempat. “Dengan pembangunan bak penampungan, air kita alirkan melalui pipanisasi ke setiap pemukiman warga,” lanjut dia.

BACA JUGA :  Korban Kekeringan di NTB Berharap Gubernur Turun Langsung

Darurat kekeringan yang terjadi di beberapa kecamatan di wilayah Lotim, diperkirakan akan berlangsung sampai bulan Desember mendatang. “Karena kita perkirakan musim penghujan akan datang pada bulan Januari,” tutupnya. (lie)