Dispar NTB Dituding Menghina Pelaku Pariwisata

Dewantoro Umbu Joka (DOK / RADAR LOMBOK)

MATARAM – Penghargaan pariwisata oleh Pemerintah Provinsi yang diberikan kepada salah stau organisasi pariwisata pada puncak HUT NTB ke 64 menui kritik dari sejumlah organisasi pelaku pariwisata di NTB. Pasalnya, parameter penilaian dinilai asal-asalan dan menciderai perjuangan seluruh asosiasi dan pelaku wisata terhadap kemajuan pariwisata NTB selama ini.

Ketua DPD Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) NTB Dewantoro Umbu Joka menyebut pemberian penghargaan oleh Dispar NTB tersebut mempermalukan asosiasi yang selama ini memberikan dukungan dan berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata NTB.

“Ternyata saya baru tau, kalau yang terkolaborasi hanya ASSPI dengan Pemprov NTB memajukan pariwisata. Jadi selama ini PHRI, ASITA, ASTINDO, MHA, IHGM, AHM tidak kolaborasi dengan Dispar NTB. Kalau ini sengaja mempermalukan kita,” sesalnya kepada Radar Lombok, Kamis (22/12).

Umbu mengatakan parameter penilaian tidak profesional alias abal-abal dan juga terkesan dipaksakan. Menurutnya banyak sekali pihak yang telah berkolaborasi dan berjasa membangun pariwisata NTB.

“Jangan asal copot , kurang hati-hati memberikan penghargaan di acara HUT NTB ini. Masih banyak sekali yang berjasa, ada pak Awan, Bu Wolini, mantan Kadispar NTB Lalu Faozal. Kalau kita hanya anak bawang yang baru 20 tahun ngurus pariwisata,” tegasnya.

Baca Juga :  BRIDA NTB Setop Pembiayaan Beasiswa Rekrutmen Baru

Dikatakan Umbu, menentukan parameter penilaian itu berat. Menentukan orang dan asosiasi yang sangat berjasa jangan hanya dilihat selama satu dua tahun saja, tapi dari zaman pariwisata NTB belum maju berapa tahun lalu sampai sekarang sudah maju, sehingga tidak sembrono dalam menentukan.

“Mestinya penilaian gak perlu juga sih, karena semua berjasa dan berkolaborasi,” ucapnya.

Dikatakanya, sejatinya momentum HUT NTB menjadikan semua insan pariwisata NTB semakin kompak untuk mencapai target. Tapi dengan membagi-bagi penghargaan, seolah-olah pihak lain tidak berkolaborasi dan berjasa terhadap kemajuan pariwisata NTB.

“Acara bersejarah HUT NTB tahun ini bukan kita dibuat semakin bersinergi, malah buat semakin tidak bersinergi. Saya tidak tahu apa parameter dan urgensinya buat asosiasi terkolaborasi dan tokoh pariwisata NTB,” katanya.

Umbu bersama asosiasi dan pelaku pariwisata lainnya mengaku sangat menyayangkan acara HUT NTB tahun ini dijadikan seolah-olah ajang perlombaan bagi mereka yang berjasa dan berkolaborasi, serta ada yang tidak. Sangat berbeda dengan perayaan HUT NTB sebelumnya, tetap kompak dalam kebersamaan.

“Mulai hari ini Asita sudah tidak mau juga berkolaborasi dengan Dispar NTB, sekalian saja. Baru pertama kali dalam sejarah HUT NTB acara kayak gini, dasar penilaian itu apa? siapa tim penilai? bukan semakin bersinergi, malah Dispar ini bikin kita jadi saling tidak bersatu,” tegasnya.

Baca Juga :  Diperiksa Jaksa, Langkir Sebut Nama Penerima Aliran Dana BLUD RSUD Praya

Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) NTB Sahlan M Saleh mengatakan pemberian penghargaan oleh Dispar NTB cenderung menciptakan polemik antar asosiasi pariwisata. Karena seperti memecah belah asosiasi yang selama ini telah berjuang untuk pariwisata NTB, sebab dilakukan tanpa parameter yang jelas.

“Silakan kerjakan pariwisata NTB hanya dengan mereka. Ya kami-kami ini tidak diperlukan lagi,” kesalnya.

Pihaknya tidak mempermasalahkan jika Dispar NTB menggelar penghargaan, namun lebih bijak dilakukan secara objektif dan jelas soal rekam jejak prestasinya untuk perkembangan pariwisata di Provinsi NTB.

“Ini baru muncul dan tidak mengerjakan apa-apa sudah diberikan penghargaan. Seperti menghina senior kami yang lama berjuang,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata NTB Yusron Hadi ketika dihubungi tidak merespon. Begitu juga dengan Sekretaris Dinas Pariwisata NTB Lalu Hasbulwadi di konfirmasi melalui aplikasi WhatsApp hingga berita ini diturunkan, tidak menjawab.

(cr-rat)

Komentar Anda