Curahan Hati Warga Desa Beleka Pascabanjir Melanda

Harta Ludes Terseret, Bantuan Belum Kunjung Datang

Curahan Hati Warga Desa Beleka Pascabanjir Melanda
RUSAK: Inaq Juh salah seorang korban banjir bandang asal Dusun Sejagat Desa Beleka saat menunjukan rumahnya yang roboh akibat banjir, Senin kemarin (20/11). (M Haeruddin/Radar Lombok)

Bencana banjir bandang yang terjadi di sejumlah titik di Lombok Tengah Sabtu malam lalu (18/11), membuat masyarakat mengalami kerugian besar. Ada yang rumahnya hancur berantakan dan adapula yang tidak bisa menyelamatkan harta bendanya.


M HAERUDDIN-PRAYA


INAQ Juh hanya bisa meratapi puing-puing tembok rumahnya yang berantakan akibat banjir yang melanda desanya. Wanita 50 tahun ini seakan masih belum percaya dengan kejadian yang membuat rumahnya hancur berantakan. Tapi kenyataan tak bisa ditolak, bahwa bencanalah yang telah menyapu wilayah Dusun Sejagat Desa Beleka Kecamatan Praya Timur, tempat tinggalnya.

Janda yang ditinggal mati suaminya ini menceritakan, awal mula banjir itu ketika dirinya sedang asyik di rumah seorang diri untuk membereskan cucian. Kebetulan Inaq Juh merupakan janda yang sehari-hari membuka usaha laundry. Setelah selesai salat Maghrib, tiba-tiba ia kaget melihat air sungai di belakang rumahnya meluap.

BACA JUGA :  PDIP Bantu Korban Banjir Bandang Kabupaten Lombok Timur

Semakin lama, air bah itu bukannya itu bukannya surut, tetapi semakin deras. Dalam hitungan menit saja, ketinggian air sudah mencapai setengah meter dari sebelumnya. Tembok rumahnya pun mulai digerus hingga beberapa saat kemudian roboh diterjang air. Melihat situasi itu, Inaq Juh kemudian lari terbirit-birit meninggalkan rumahnya tanpa membawa apapun kecuali pakaian yang melekat di badanya. “Tiba-tiba di tengah derasnya air hujan, lagi air sungai menerjang rumah saya hingga ambruk. Sehingga saya langsung lari meninggalkan rumah, karena kondisi lagi gelap juga membuat saya tidak bisa menyelamatkan apapun kecuali diri saya,” tuturnya kepada Radar Lombok, Senin kemarin (20/11).

Akibatnya, pakaian pelanggan yang sedang dicucinya pun ikut hanyut terbawa arus. Kerugian itu membuatnya kebingungan jika pemiliknya meminta ganti rugi. Terlebih, seluruh harta bendanya diseret arus tanpa sisa sedikit pun. “Mesin cuci, televisi semuanya sudah rusak. Apalagi surat-surat sudah tergenang dan hanyut dibawa banjir,” bebernya.

BACA JUGA :  Paska Banjir di Lombok Timur, PLN Pastikan Pasokan Listrik Aman

Namun, sesal Inaq Juh, belum ada satu pun dari aparat pemerintahan yang memberikan bantuan. Padahal, ia sangat menginginkan adanya sekadar sembako untuk meringankan penderitaanya. “Beras semua hanyut, makanya kami berharap secepatnya ada bantuan dari pemerintah untuk kami,” ujarnya.

Penderitaan sama juga dialami Amaq Jumenin. Akibat banjir tersebut, harta miliknya sudah tidak ada yang tersisa lagi. Ia tidak bisa menyelamatkan hartanya lantaran baru pulang dari sawah saat kejadian. “Baru beberapa menit saya mau salat Maghrib, ternyata air sudah mulai masuk ke dalam rumah saya. Sehingga saya pun keluar dengan cepat,” ceritanya.

Saat kejadian, dia langsung mengungsi ke sekolah terdekat. Hanya saja, sekolah itu juga diterjang banjir sehingga membuat dirinya harus beristirahat di genangan air. “Kalau saya ingat saya merasa sedih, apalagi melihat situasi rumah yang semua harta tidak bisa diselamatkan. Sementara sampai saat ini pemerintah belum ada sedikit pun yang memberikan bantuan,” ungkapnya.

Sekdes Beleka Kamurta yang dikonfirmasi menyampaikan, ada sekitar 1000 kepala keluarga (KK) yang menjadi korban banjir bandang. Mereka berasal dari 16 dusun di Desa Beleka. “Kalau khusus di desa induk ada 14 dusun sementara di desa persiapan ada 2 dusun yang terkena dampak banjir itu,” jelasnya.

BACA JUGA :  Desain Bendungan Pandandure Dipertanyakan ?

Disampaikanya, ketinggian air mencapai 1,5 meter. Di mana ada juga masyarakat yang tidak bisa dilakukan evakuasi saking derasnya air. Terlebih saat kejadian, pihak BPBD Lombok Tengah juga tidak membawa peralatan lengkap. “Tapi alhamdulilah untuk saat ini warga sudah bisa kembali ke rumah masing-masing untuk membersihkan sisa-sisa bangunan. Kami berharap agar ada perhatian pemerintah daerah maupun provinsi untuk mengurangi beban warga kami,” harapnya.

Pasalnya, lanjut dia, belum ada bantuan dari pemerintah sampai kemarin. Sehingga pihaknya berharap agar pemerintah segera memberikan bantuan untuk mengurangi beban warganya. ‘’Kita belum bisa memperkirakan secara detail total kerugian yang dialami warga, karena masih didata,’’ pungkasnya. (**)