Bulog Bakal Kesulitan Beli Gabah Petani

Stok Beras di Gudang Melimpah, Bulog Kesulitan Pasar

BULOG
STOK BERAS: Stok beras di gudang melimpah, Bulog kesulitan untuk memasarkan beras yang sudah dibeli dari petani untuk kembali dipasarkan ke tengah masyarakat.

MATARAM – Memasuki panen raya ketersedian gabah akan melimpah, sehingga serapan dari Bulog NTB akan lebih banyak. Alhasil, Bulog NTB was-was jika tidak bisa menyerap gabah dan beras petani, karena ditakutkan akan menumpuk di gudang.

Pasalnya, serapan pada tahun ini saja masih banyak di gudang Bulog hasil serapan pada panen raya. Bahkan sudah dikurangi dengan disalurkan untuk bantuan bagi masyarakat yang terdampak PPKM level 4 pada Agustus 2021. Penumpukan stok beras dan gabah terjadi, karena rendahnya pembelian beras masyarakat. Bahkan ada kebijakan pemerintah mencabut saluran beras Bulog melalui bantuan-bantuan pangan kepada masyarakat tidak lagi ditugaskan kepada Bulog, dilepas bebas kepada swasta.

“Pemerintah memberikan penugasan ke Bulog untuk menyerap gabah dan beras petani dengan standar harga pembelian pemerintah (HPP). Tapi saluran beras-beras dari Bulog ditutup,” kata Pimpinan Wilayah Perum Bulog NTB, Abdul Muis Senin (8/11).

Diterangkan, biasanya beras Bulog digunakan untuk bantuan-bantuan pangan kepada masyarakat, bahkan kebutuhan beras ASN diserahkan kepada Bulog. Mekanisme seperti itu membuat serapan dan distribusi beras menjadi lancar.

BACA JUGA :  Komisi IV DPR RI Soroti Keberadaan TPS Dekat Gudang Beras Bulog

“Raskin sudah tidak lagi disalurkan melalui Bulog. Disuruh serap beras dan gabah petani, tapi tidak disiapkan salurannya. Ini menjadi masalah,” ungkapnya.

Saat ini untuk stok beras dan gabah yang ada di gudang bulog masih banyak, sedangkan kapasitas gudang tampung hanya 60 ribu ton. Artinya belum bisa lebih banyak menyerap, mengingat di musim panen raya ketersedian beras dan gabah semakin meningkat. Selain itu, untuk bisa menyerap beras dan gabah petani bulog menyewa gudang.

Adapun, realisasi target pengadaan Bulog NTB tahun 2021 ini sebesar 127 ribu ton setara beras. Realisasinya sudah mencapai 21.737 ton beras, dan 125.017 ton gabah atau setara dengan 79,62 persen pencapaian dari target tahun 2021 ini. Sementara dari target pembelian, Bulog sudah mengeluarkan sebesar Rp 830 miliar, di mana dananya menggunakan kredit dari BRI. Beban bunga pinjaman harus dibayar Rp 72 miliar setahun atau setara dengan Rp 6 miliar sebulan dan Rp 200 juta sehari.

BACA JUGA :  Kualitas Rendah, Pedagang Kurang Tertarik Jual Beras Bulog

“Kalau tidak ada penjualan, dari mana kami membayar kredit dan bunganya.  Seharusnya bank juga memberikan penghargaan ke kami. Kalau tidak terserap, bagaimana juga kami bisa membayar cicilannya,” tuturnya.

Ia berharap pemerintah daerah dan stakeholders juga membantu Bulog untuk menyerap cadangan stok pangan yang ada di gudang Bulog, sehingga tidak menumpuk, dan Bulog dapat melakukan serapan kembali saat panen

Sementara itu, pada 2018 penjualan setahun mencapai 10.201.934 Kg beras. Di 2019 sebanyak 19.713.510 Kg. Lalu 2020 penjualan beras sebanyak 39.630.169,48 Kg. Sedangkan tahun ini baru terjual hanya 9.178.850,30 Kg per 7 November 2021 atau sekitar 10 persen dari total serapan. Penurunan penjualan sangat tajam. Harga beras yang sebelumnya sebelumnya Rp9200/Kg sesuai HET, turun menjadi Rp8.300/Kg.

“Bayangkan saja kita beli Rp 8.300 per kg, kita jual dengan harga segitu juga, tidak ada bisnis,” ujarnya. (dev)