BI NTB Bantu Perluas Promosi Desa Wisata Hijau Bilebante

PRAYA – Bank Indonesia menyadari bahwa pariwisata memiliki peranan penting dalam perekonomian yang berkelanjutan di NTB untuk mendorong pertumbuhan sektor jasa, menyerap tenaga kerja, serta mendorong pembangunan daerah. Potensi sumber daya alam dan budaya yang melimpah menjadikan NTB sebagai salah satu destinasi tujuan utama wisata.

Kepala Perwakilan BI Provinsi NTB Berry Arifsyah Harahap mengatakan melihat banyaknya potensi desa wisata di NTB, Perpustakaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB memilih Pasar Pancingan, Desa Wisata Hijau Bilebante, Kabupaten Lombok Tengah sebagai lokasi utama penyelenggaraan acara World Book Day 2024 dalam rangka meningkatkan pemahaman kelompok Desa Wisata akan promosi digital melalui Bedah Buku Unboxing Insight karya Elliza Rohati yang disiarkan secara langsung ke seluruh Kantor Perwakilan Bank Indonesia dan anggota Generasi Baru Indonesia (GenBI).

“Hal ini memungkinkan Desa Wisata Hijau Bilebante untuk menjangkau pengunjung yang lebih luas,” kata Berry.

Berry menyampaikan bahwa pada tahun 2024, Departemen Ekonomi Keuangan Syariah Bank Indonesia juga memilih Desa Wisata Bilebante sebagai pilot project untuk pembuatan tempat wisata ramah muslim. Hal tersebut tidak lepas karena potensi Desa Wisata Bilebante yang dapat menyuguhkan keasrian alamnya dan masih memiliki banyak lahan persawahan juga beberapa fasilitas yang dijadikan paket wisata bagi para pengunjung yang ingin menikmati keindahan alam khas pedesaan.

Desa Bilebante dinamakan juga sebagai desa wisata hijau. Disarankan agar pengunjung Desa Wisata Hijau Bilebante singgah di pasar pancingan untuk melakukan aktivitas memancing di kolam yang telah disediakan. Yang membuat kegiatan memancing ini berbeda adalah hasil tangkapannya bisa langsung diolah menjadi hidangan ikan yang lezat.

Baca Juga :  Kembali Gelar Seleksi Wirausaha Unggulan Bank Indonesia NTB 2023

Selain wisata mancing, di Desa Wisata Bilebante juga terdapar budidaya yang dihasilkan masyarakat dijadikan bahan baku kuliner untul disajikan. Seperti rumput laut yang dimanfaatkan sebagai bahan baku serabi. Selain itu, kuliner lokal yang menjadi ciri khas Desa Bilebante ialah klepon, lupis, hingga secang. Pastinya, bahan-bahan masakan pun alami dari hasil perkebunan desa ditambah dengan produk unggulan minuman jamu, yaitu mule gati atau serbat.

Selain itu, Desa Bilebante juga menawarkan berbagai paket wisata alternatif. Dimulai dengan pelajaran kuliner, di mana para pengunjung diawasi oleh instruktur dalam pembuatan jamu, sayur daun kelor, ayam merangkat, dan pelecing ala kota wisata Bilebante. Suasana cooking class yang menyenangkan dikelilingi perkebunan di sekitar pasar pancingan.

Para tamu juga dapat mengikuti tur ATV ke kebun dan sawah di Desa Wisata Hijau Bilebante. Mengendarai ATV melintasi sawah seluas 226 hektar, kebun herbal dengan 135 jenis tanaman obat, mengunjungi sekretariat pertemuan Bilebante dan berfoto di tugu sepeda. Beberapa lokasi terbaik untuk pengunjung berfoto di Bilebante dilengkapi pemandangan Gunung Rinjani, Gunung Saak, dan berbagai hasil kebun yang ditanam oleh penduduk setempat.

” Kita berharap berbagai penawaran wisata yang menarik di Desa Bilebante akan meningkatkan produktivitas dan nilai tambah masyarakat, serta mendorong pertumbuhan ekonomi pariwisata,” harapnya.

Selain itu, kata Berry desa wisata ini juga dapat menjadi upaya untuk melindungi sejarah kearifan lokal, lingkungan, sumber daya dan budaya di Desa Wisata Hijau Bilebante.

“Bank Indonesia akan terus melakukan sosialisasi dan edukasi yang berkesinambungan terkait pengembangan pariwisata dalam rangka mendukung pariwisata dan ekonomi daerah,” tambahnya.

Baca Juga :  Bank Indonesia Dukung Industri Fesyen Muslim NTB Tembus Pasar Global

Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan BI NTB Winda Putri Listya mengatakan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi tantangan tersendiri dalam promosi pariwisata yang ada di Desa Wisata Bilebante. Di mana pengembangan SDM tidak hanya seputar melaksanakan capacity building saja, namun membutuhkan wadah yang dapat terus melayani pengunjung, mengelola dan struktur wisata yang aman sehingga dapat menarik minat pengunjung untuk datang kembali.

“Sejak tahun 2021, Bank Indonesia telah hadir bersinergi mendukung pengembangan desa wisata dengan memberikan pelatihan perencanaan penyusunan milestone dan grand design mulai dari standarisasi wisata,” imbuhnya.

Adapun dalam rangka mendorong pemasaran digital, sambung Winda, penting untuk membangun suatu branding desa wisata untuk menjadi lebih dikenal oleh banyak pengunjung. Selain itu, dengan adanya hexahelix collaboration dapat mengangkat potensi yang dimiliki agar dunia mengetahui potensi pariwisata NTB. HexaHelix Stakeholders sebagai bentuk koordinasi semua peran penting dari para pemangku kepentingan dalam berkontribusi untuk bersama-sama bersinergi mencapai tujuan pengembangan wisata NTB.

“Adanya kontribusi masyarakat setempat sebagai penerima manfaat meningkatkan dampak yang lebih besar bagi Desa Wisata Hijau Bilebante,” ujarnya.

Winda menambahkan, Bank Indonesia juga akan terus mendukung promosi desa wisata dengan pemasaran digital seperti menggunakan jasa influencer dalam kegiatan promosi. Adanya influencer seperti anggota GenBI yang mempunyai pengikut di social media dapat membantu desa wisata Bilebante untuk dikenal pengunjung lebih cepat.

“Harapannya dengan promosi digital tersebut dapat menarik wisatawan untuk datang dan berkeinginan kembali lagi ke Desa Wisata Hijau Bilebante,” tandasnya. (luk)

Komentar Anda