Ayah Korban Ungkap Diajak Berdamai, Pihak Ponpes: Hanya Datang Mendoakan

MATARAM–Ayah kandung NI, santriwati asal Desa Rukun Lima, Kecamatan Ende Selatan, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang anaknya diduga menjadi korban penganiayaan sesama santriwati di Ponpes Al-Aziziyah mengaku pernah didatangi pihak ponpes untuk mengajak menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan.

“Iya begitu (minta damai). Saya nggak mau,” ungkap ayah kandung NI, Mahmud H Umar via panggilan WhatsApp, Selasa (25/6).

Yang datang minta persoalan tersebut diselesaikan secara kekeluargaan ialah pihak asrama, saat berada di Rumah Sakit dr. Raden Soedjono Selong, Lotim. Adanya ajakan damai itu membuat dirinya bingung.

“Saya bingung itu, bilang damai secara kekeluargaan. Ya saya nggak mau,” timpalnya.

Umar mengungkap kondisi anaknya sekarang ini koma, sejak dibawa ke rumah sakit pada Sabtu (22/6/2024). “Masih kritis. Tidak bisa bicara. Masih koma anaknya,” katanya.

Pihak keluarga belum menerima hasil laboratorium NI. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, di kepala NI ditemukan adanya sebuah benjolan dan sudah dilakukan scan. Namun apa penyebab benjolan tersebut belum diketahui pasti.

Baca Juga :  Jenazah Santriwati Al-Aziziyah yang Diduga Dianiaya Siap Diautopsi

“Ada sesuatu di kepala anak ini. Iya (ada) benjolan. Udah di-scan tapi hasilnya belum ada. Kita belum tahu, hasil scan-nya belum keluar,” ungkapnya.

Menyinggung soal pernyataan pihak ponpes yang menyebut adanya benjolan atau jerawat di hidung NI, Mahmud merasa heran. Selama ini NI tidak pernah mengeluh sakit di bagian hidung.

“Saya kurang tahu itu. Cuma kita sempat komunikasi sebelum sakit, ananda kami hanya batuk pilek. Kata pihak ponpes ada bisul? Tapi nyatanya ada benjolan di kepala kan,” ujarnya.

Pembina Asrama Ponpes Al-Aziziyah Lobar Amirudin membantah jika pihak ponpes meminta berdamai. “Tidak ada itu. Minta damai itu kan konotasi kita salah,” kata Amirudin.

Menurutnya ketika pengurus datang menjenguk korban pada Sabtu (22/6/2024) itu tidak pernah berkomunikasi dengan pihak keluarga. “Hanya datang mendoakan saja oleh ustazahnya. Cuma itu kemarin,” jelas Amirudin.

Dugaan penganiayaan kini ditangani Satreskrim Polresta Mataram. Dalam penanganannya, Amirudin mengaku pihaknya siap dimintai keterangan Kepolisian jika dipanggil nanti. “Kami siap untuk dimintai keterangan nanti,” tandasnya.

Baca Juga :  Santriwati Al-Aziziyah Diduga Korban Penganiayaan Meninggal Dunia

Sementara, Kasatreskrim Polresta Mataram Kompol I Made Yogi Purusa Utama mengatakan, pihaknya sudah mengajukan permintaan hasil rekam medis rumah sakit tempat korban dirawat.

“Surat sudah kita ajukan kemarin ke rumah sakit. Kami tinggal menunggu,” ungkap Yogi.

Dirinya tidak bisa memastikan kapan rumah sakit akan memberikan hasil rekam medis korban. Mengingat, pihak rumah sakit memiliki prosedur sendiri dalam memberikan hasil rekam medis.

Kasus ini masih tahap penyelidikan dan masih pengumpulan bahan keterangan. Sejumlah saksi telah dipanggil untuk dimintai keterangan, baik dari pihak keluarga NI, ibu teman dari NI, sopir travel yang menjemput NI ke ponpes dan membawanya ke rumah teman NI.

“(Pemanggilan) Untuk pihak ponpes nanti setelah kami mendapatkan hasil rekam medis dari rumah sakit. Pokoknya semua saksi akan dipanggil,” tutupnya. (sid)

Komentar Anda