Krisis Air Bersih, Gili Trawangan Terancam Ditinggalkan Wisatawan

PENGINAPAN SEPI: Penginapan di kawasan Gili Trawangan kini mulai sepi, dan banyak ditinggalkan para wisatawan, imbas dari persoalan air bersih yang tak kunjung ada solusi. (RATNA/RADAR LOMBOK)

TANJUNG — Krisis air bersih di Gili Trawangan hingga saat ini masih belum teratasi, atau ada solusi. Akibatnya, para wisatawan  mulai enggan datang, bahkan yang telah booking-pun akhirnya membatalkan kunjungan.

Kepala Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Wardana mengatakan bahwa sampai sekarang distribusi air bersih oleh PT Tiara Cipta Nirwana (TCN) tak kunjung dibuka, sejak ditutup pada 21 Juni lalu. “Belum sampai sekarang,” katanya, Selasa (25/6).

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, masyarakat terpaksa membeli air dari daratan. Ia sendiri mengaku tidak tahu sampai kapan masyarakat bisa bertahan dengan kondisi ini. “Kita berharap pemerintah daerah segera mencari solusi,” harapnya.

Ketua DPRD KLU, Artadi mengatakan bahwa menindaklanjuti hasil hearing puluhan pengusaha yang tergabung dalam Gili Hotel Association (GHA) yang mengeluhkan krisis air ke DPRD KLU, pada Senin (24/6), pihaknya langsung  bersurat ke PT TCN agar mendistribusikan kembali air bersih ke masyarakat.

Pihaknya juga mengirim undangan ke PT TCN untuk hadir ke Kantor DPRD KLU pada Selasa (25/6), guna membahas persoalan yang terjadi. Hanya saja kata dia, PT TCN menolak untuk mendistribusikan air di Gili Trawangan, karena masyarakat Gili Meno belum menandatangani surat persetujuan terkait pengolahan air menggunakan sistem penyulingan air laut menjadi air bersih sebagai salah satu syarat mengurus izin-izinnya ke pemerintah pusat.

“Kemarin sore setelah rapat kita langsung bersurat ke PT TCN, tetapi oleh PT TCN tetap tidak mau dilakukan. Mereka mengaku mau membuka saluran air, asalkan masyarakat Gili Meno mau tanda tangan,” ujarnya.

Persoalannya kata Artadi, meyakinkan masyarakat Gili Meno untuk mau menandatangani surat persetujuan itu tidak gampang. Diakui, setelah bertemu dengan pengusaha ia langsung bertemu dengan masyarakat Gili Meno di Taman Fantasi, Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, guna meyakinkan masyarakat agar mau tanda tangan.

“Hanya saja, para tokoh-tokoh dan juga masyarakat Gili Meno menolak. Sebab, jika mereka tanda tangan, yang mendapatkan air hanya Gili Trawangan saja, sementara mereka tetap tidak dapat menikmati air, karena PT BAL (Berkat Air Laut) masih tutup,” bebernya.

Atas kondisi ini, politikus Partai Gerindra ini meminta Bupati KLU turun tangan untuk meyakinkan masyarakat Gili Meno, agar mau menandatangani surat persetujuan yang dibutuhkan PT TCN. “Kalau Sekda, Asisten ataupun Dirut Perumda Air Minum Amerta Dayan Gunung tidak akan mau. Maka silakan bupati yang turun meyakinkan masyarakat Gili Meno. Bila perlu ajak Forkopimda,” pintanya.

Baca Juga :  Dana Pinjaman Rp 500 Miliar Dicairkan 2022

Artadi mengaku bahwa dirinya terus mendapatkan panggilan telepon dari para pengusaha Gili Trawangan yang mengeluhkan kondisi yang terjadi. “Tadi mereka mengancam akan membuat spanduk penolakan terhadap wisatawan, karena takut komplain terhadap kondisi air yang ada di Gili Trawangan. Makanya dengan kondisi ini, bupati harus segera cari solusi,” bebernya.

Asisten II Setda KLU, Hermanto mengatakan bahwa Perumda Air Minum Amerta Dayan Gunung sudah bersurat ke PT TCN, agar mendistribusikan air bersih di Gili Trawangan. Kemudian oleh DPRD juga sudah diundang untuk bertemu. Hanya saja PT TCN bersikukuh untuk tidak mendistribusikan air sebelum mendapatkan tanda tangan masyarakat Gili Meno.

“Saat ini kita berusaha cari solusi. Kalau kita antar air ke Trawangan, kan tidak mungkin. Apalagi dengan jangka waktu yang lama. Jadi kita masih berupaya meyakinkan masyarakat Gili Meno untuk tanda tangan,” ujarnya.

Diketahui, PT TCN sudah membangun fasilitas pengolahan air laut menjadi air bersih di Trawangan. Namun belakangan ditutup, karena izinnya belum lengkap. Sementara di Gili Meno belum dibangun, karena sejumlah tokoh masyarakat menolak, dan mereka lebih memilih dilayani PT BAL. Sementara operasional PT BAL sendiri bermasalah, karena tidak memiliki izin pengeboran air tanah. Akibat penolakan demi penolakan, akhirnya dua Gili menjadi krisis air bersih.

Untuk Gili Air sendiri masih aman, karena jaraknya paling dekat dengan daratan (Lombok), sehingga pipa bawah laut Perumda Air Minum Dayan Gunung bisa menjangkau pulau yang menjadi pusat pemerintahaan Desa Gili Indah itu.

Terpisah, Asisten II Setda NTB, Fathul Gani mengatakan Bupati Lombok Utara H. Djohan Sjamsu sudah melayangkan surat ke Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Benoa di Denpasar, meminta agar membuka segel saluran pipa yang ada di Trawangan.

PSDKP Benoa diharapkan dapat memberikan izin melakukan aktivitas penarikan pipa intake oleh PT. TCN. Adapun akibat dari dampak yang dihasilkan dari pengeboran tersebut, PT TCN akan melakukan rehabilitasi. “Hari ini Pak Bupati (KLU, red) ke Bali. Kemungkinan akan menemui pihak TCN,” kata Fathul Gani saat dikonfirmasi Radar Lombok, kemarin.

Sebelumnya, Pemda KLU sudah mengundang pihak PT TCN bersama Kapolres, PHRI dan semua unsur terkait di Kantor Bupati KLU, Kamis (13/6) lalu. Pertemuan itu menghasilkan sejumlah berita acara kesepakatan, antara lain Bupati KLU melayangkan surat ke (PSDKP) Benoa di Denpasar Bali.

Kemudian sebagai syarat pengurusan izin melalui OSS, Pemda KLU meminta tanda tangan atau dukungan masyarakat dan pengusaha Gili Trawangan dan Gili Meno. “Apabila ketiga persaratan ini tidak bisa dipenuhi sampai tanggal 21 Juni, maka air di Gili Trawangan akan disetop kembali,” jelasnya.

Baca Juga :  Ini Lokasi Salat Idul Fitri Jumat 21 April 2023 di Mataram

Pemda KLU sendiri menurutnya sudah melakukan sosialisasi di Gili Trawangan, Kamis (20/6) lalu, untuk meminta dukungan dari masyarakat dan pengusaha di Gili Trawangan. Hasilnya pun direspon baik oleh masyarakat maupun pelaku usaha di Gili Trawangan, namun mendapatkan penolakan dari warga Gili Meno.

“Di Gili Meno sih 5 kali dilakukan sosialisasi, masyarakat tetap menolak. Karena dari kesepakatan berita acara tanggal 13 Juni, hanya bisa dipenuhi 1 syarat dukungan saja, yakni dari masyarakat Gili Trawangan. Sedangkan Gili Meno tidak ada. Maka sejak tanggal 21 Juni, distribusi air ke Gili Trawangan kembali ditutup,” ujarnya.

Terkait penanganan air bersih di Gili Meno, PDAM sambung Fathu Gani, sudah menyiapkan spot-spot atau titik pengambilan air di Gili Air dan di Muara Mutat. Kemudian mulai pekan ini sampai dengan 46 hari kedepan, PDAM dan Dinas PU akan mengangkut air ke Gili Meno menggunakan tongkang.

Sebelumnya, para pengusaha yang tergabung dalam Gili Hotel  Association (GHA) mendesak Pemda bersama DPRD KLU untuk segera mengambil tindakan agar distribusi air segera dibuka kembali oleh PT TCN.

“Ini sudah urgent. Kita sudah tidak ada pilihan lagi. Bukan berarti mengancam pemerintah, kita hanya ingin mengamankan bisnis kita. Kalau air ini tidak segera didistribusikan, maka kita akan menutup hotel. Ini demi menjaga nama baik hotel,” ungkap Ketua GHA, Lalu Kusnawan.

Distribusi air di Gili Trawangan oleh PT TCN telah dihentikan sejak Sabtu (22/6) lalu. Akibatnya pengusaha terpaksa harus membeli air ke daratan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal ini berimbas kepada terganggunya kenyamanan tamu hotel, karena mendapatkan pelayanan kurang maksimal.

Bahkan kata dia, tamu yang belum datang juga sudah banyak yang membatalkan pesanannya, setelah mengetahui kondisi yang terjadi di Gili Trawangan. “Imbasnya ini bukan saja kepada teman-teman yang punya property, tetapi juga usaha transportasi, restoran dan sebagainya, juga kena imbas,” bebernya.

Kusnawan mengaku tidak ingin gara-gara pelayanan kepada tamu hotel tidak maksimal, kemudian kepercayaan tamu menurun. Untuk itu, jika masalah air tidak terselesaikan, maka lebih baik hotel ditutup sementara waktu. Meskipun saat ini kata dia, wisatawan sudah mulai ramai berdatangan. “Kadang bisa sampai 2.500 wisatawan per hari,” pungkasnya. (der/rat)

Komentar Anda