Berkunjung ke “Kampung Cokelat” Senara di Lombok Utara

Berwisata Sambil Belajar Mengolah Cokelat

kampung-coklat
KAMPUNG COKELAT : Ketua Kelompok Tani Bunga Mekar, Pardan, memperlihatkan mesin dan hasil produksi pengolahan cokelat warga. (HERY MAHARDIKA/RADAR LOMBOK)

Badan Pusat Statistik (BPS) menetapkan Kabupaten Lombok Utara (KLU) sebagai penghasil cokelat (kakao) terbesar di NTB. Pemerintah KLU telah melaunching Dusun Senara Desa Genggelang Kecamatan Gangga sebagai kampung cokelat pada tahun 2017. Kini, kampung ini menjadi objek wisata edukasi baru.


HERY MAHARDIKA-KLU


Kampung ini bisa dijangkau setelah menempuh jarak sekitar 5 kilometer dari jalan raya utama Gangga-Bayan. Pengunjung bisa menggunakan  kendaraan baik roda dua maupun roda empat. Tiba di depan Polres KLU, pengunjung melanjutkan perjalanan menuju areal perkebunan. Jangan khawatir, jalan menuju lokasi mulus beraspal. Jika takut tersesat, jangan sungkan bertanya ke warga.

Selama perjalanan dari Dusun Sembaro pengunjung disuguhkan segarnya udara karena terdapat pepohonan rimbun. Di kiri-kanan jalan terlihat pohon cokelat, jambu mente, kelapa, manggis, durian, rambutan, dan berbagai pohon lainnya.

BACA JUGA: Kisah Para Guru Guru Honor di Pulau Terpencil Lombok Timur

Ini kunjungan kedua koran ini. Kunjungan pertama dilakukan sebelum terjadi musibah gempa yang meluluhlantakkan KLU. Kini ada penambahan fasilitas seperti adanya papan penunjuk jalan, gapura, dan tata letak hiasan di sudut-sudut rumah warga. Di tambah lagi dengan adanya rumah-rumah tradisional, pengunjung akan menikmatinya.

Terpilihnya Dusun Senara sebagai kampung cokelat di latarbelakangi oleh adanya sekitar 100 hektar lahan perkebunan masyarakat yang ditanami pohon cokelat. Bertani cokelat sudah menjadi mata pencaharian utama warga selama lebih dari 20 tahun. Hasilnya mereka pakai membiayai hidup sehari-hari. “ Tanam cokelat sudah turun-temurun. Sejak kecil orang tua saya menanamnya, dan sekarang saya menikmati hasilnya,” ujar Ketua Kelompok Tani Bunga Mekar, Pardan, kepada Radar Lombok saat ditemui di kediamannya, Selasa (22/1).

Usaha mereka berkembang setelah pemerintah melibatkan mereka dalam kegiatan studi banding ke kampung cokelat yang ada di Blitar Jawa Timur. Mereka mendapat tambahan ilmu dan motivasi. Apalagi sumber daya alam KLU lebih unggul dibanding Blitar. Di KLU sendiri terdapat ribuan hektar lahan cokelat dengan hasil produksi mencapai 500-600 Kg per hektar per tahun. Dalam satu tahun bisa menghasilkan sekitar 24 ribu ton.” Setelah studi banding itu saya bentuk kelompok yang berjumlah awalnya 36 orang, sekarang berkurang menjadi 20 orang, karena lebih banyak mengelola sendiri,” ungkapnya.

Selama ini masyarakat menjual cokelat mentah setelah dikupas dengan pendapatan kotor Rp 3 juta hingga Rp 4 juta per bulan. Sementara produksi aneka olahan hanya bisa 2 Kg per hari. Untuk meningkatkan pendapatan, pemerintah daerah turut membantu dengan program pembinaan baik lewat program pembersihan pohon cokelat, pemberian pupuk, dan pemberdayaan lainnya. “Ada dua dinas yang intens selama ini, yaitu Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag),” terangnya.

Selama pembinaan itu, pemerintah membangun gapura dan penunjuk arah. Baru kemudian menetapkan dan meluncurkan kampung cokelat tingkat kabupaten tahun 2017, yang menjadi rujukan untuk desa-desa lainnya. “Kampung cokelat terbesar dan pertama di NTB,” katanya bangga.

Kampung ini terus mendapat dukungan pemerintah. Selanjutnya, pemerintah pusat melalui Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) memberikan bantuan mesin pengolah cokelat, mesin sangrai bubuk, mesin pembubuk kakao, mesin pengayak bubuk, dan lain-lain. Bantuan diberikan pada akhir September 2018 lalu. Berkat bantuan mesin ini kelompok kian produktif. Masing-masing bisa memproduksi cokelat 10 Kg dengan menghasilkan 3,5 Kg bubuk cokelat murni, 1,8 Kg lemak cokelat per hari. Bubuk murni itu diolah menjadi aneka makanan berbahan dasar cokelat. Selain itu, ada juga bentuk minuman berupa cokelat original, cokelat rasa jahe, dan cokelat rasa kopi. Khusus minuman dikemas dalam bentuk sasetan.”Kami belum bisa menghitung berapa laba karena pengolahan secara mesin baru berjalan sebulan,” jelasnya.

BACA JUGA: Menengok Prosesi Praja Sunatan di Desa Batujai

Tidak hanya itu, yang bisa dijual juga lemak dan mentahnya. Yang baru bisa diolah 300 Kg per bulan, mentah masih banyak dijual ke pengepul seperti biasa. Kelebihan adanya mesin pengolah bisa membuat produksi aneka cokelat, dan bisa menjual bubuk cokelatnya. “ Kalau dulu kami membelinya baru bisa diolah. Yang belum bisa kami buat cokelat batang, karena belum ada mesin pengolahnya. Sekarang pun masih cokelat permentasi,” paparnya.

Bahan mentah cokelat yang diolah kelompok diambil dari petani. Satu orang petani di sini punya lahan 50 are hingga 7 hektar. Luas lahan yang dikelola kelompok ada 50 hektar. Pasar yang disasar masih di wilayah KLU, juga Mataram. Wisatawan banyak datang. Mereka berwisata sambil belajar mengolah cokelat. “ Kalau sekarang masih sepi pasca gempa, dan show room yang dibangun juga rusak. Tapi kami sudah perbaiki,” katanya.

Ada lahan baru seluas 3 hektar yang akan menjadi lokasi pembangunan pusat produksi. Ini merupakan bantuan Kementerian Perkebunanan. Kampung ini menjadi destinasi edukasi.(*)