Berkenalan dengan Anjing Pelacak Milik Polda NTB

Bisa Cemburu, Punya Nama-nama Panggilan

anjing-pelacak
ANJING : Pawang bersama anjing yang dirawatnya. Anjing-anjing inilah yang selama ini membantu Polda NTB mengungkap kasus. (Dery Harjan/RADAR LOMBOK)

Anjing memang binatang yang bisa diandalkan oleh polisi untuk membongkar kasus-kasus yang sedang ditangani. Anjing-anjing ini dilatih dengan baik.


DERI HARJAN – MATARAM


Beberapa anjing khusus menggonggong dengan keras saat koran ini mendatangi Mako Polisi Satwa Polda NTB di Jalan Majapahit Mataram kemarin. Inilah anjing-anjing yang selama ini membantu kerja polisi membongkar kejahatan. Anjing dirawat oleh unit satwa atau K9. Ada delapan ekor jumlahnya. 

Anjing-anjing ini diseleksi dan dilatih khusus dan memiliki kemampuan luar biasa seperti melacak lokasi narkotika, kriminal umum, menstrerilkan bahan peledak (handak), membantu membubarkan massa hingga digunakan untuk membantu tim SAR mencari korban bencana.

BACA JUGA: Lebih Dekat Al–Hamuddin, Qori Tuna Netra Tingkat Nasional

Dari delapan ekor itu, dua ekor adalah spesialis melacak narkotika, dua ekor ekor lagi bertugas melacak bahan peledak, sisanya sebagai pelacak kasus kriminal umum dan membantu tim SAR. Semuanya berasal dari luar negeri seperti anjing jenis Malinois dari Belgia, Labrador Retiver dari Inggris maupun jenis Sherved yang berasal dari Jerman.” Delapan anjing K9 yang kita punya ini  berasal dari luar negeri dan ini berbeda dari anjing biasa,” ungkap Kanit Satwa Polda NTB IPTU I Komang Sudiana, Jumat (02/11).

Kemampuan luar biasa yang dimiliki anjing-anjing ini membuatnya bernilai tinggi.

“Harganya mahal-mahal semua,” jelas Komang Sudiana.

Untuk jenis Malinois yang digunakan untuk melacak narkotika, harganya di atas Rp 180 juta. Bahkan, anjing yang digunakan untuk SAR harganya menembus Rp 190 juta. Anjing-anjing dikirim ke Polda NTB dari Mabes Polri saat berumur 2,5 tahun. “ Jadi memang sangat mahal. Ini semuanya dikirim langsung dari Mabes Polri. Kita disini hanya mengajukan dan menerima saja,” katanya.

Setelah didatangkan, anjing-anjing tidak langsung dilatih, melainkan pawang akan mengakrabi mereka dulu. Proses ini disebut oleh satwa dengan istilah simbiosis. “Jadi tidak ujug-ujug langsung dilatih. Dipelajari dulu karakter mereka. Karena anjing itu ada yang cuek, egois bahkan dipanggil saja tidak mau. Jadi dasarnya menyatukan diri dulu baru dilatih,” imbuhnya.

Satu ekor anjing akan dilatih dan dipelihara oleh satu pawang. Pawang ini juga tidak diperbolehkan melatih anjing lain. Karena anjing pertama dilatih bisa cemburu.” Kalau pawangnya dilihat melatih anjing lain, anjing yang dilatih pertama bisa cemburu dan marah. Kalau sudah cemburu dia bisa menyerang pawangnya,” ungkapnya.

BACA JUGA: Mengintip Latihan Polwan Penembak Taktis Sat Brimob Polda NTB

Hanya pawang yang bisa mengendalikan anjing-anjing ini. “ Kalau diperintah oleh orang lain itu tidak mau. Kalau pun mau nanti dia asal-asalan saja saat diperintah. Ini tidak segampang mengoperasikan mesin atau alat. Jadi harus dipegang oleh pawangnya,” tambahnya. 

Untuk makanan, anjing-anjing ini juga ada menu khususnya.  Seperti diberikan butiran khusus dicampur telur. K9 ini juga diberikan susu. Selain itu juga disediakan vitamin dan kalsium untuk menguatkan tulang.” Untuk makanan satu anjing itu dijatah Rp 45 ribu per hari. Itu sudah disediakan oleh rekanan. Kita hanya mengajukan saja makanan apa yang dibutuhkan,” ungkapnya.

Melatih anjing ini juga ada kendalanya. Karena berasal dari luar negeri,  pada musim kemarau anjing-anjing akan mengeluarkan darah dari hidung (mimisan). “Kalau sudah begitu kita bawa ke dokter dan kita kompres pakai es batu,” terangnya.

Sudah tidak terbilang kasus yang berhasil diungkap oleh K9 ini. dimulai dari penemuan narkotika, kasus pembunuhan di Lombok Tengah, kasus pencurian di Ampenan dan belum lama ini salah satu anjing yang bernama Sita  berhasil menemukan beberapa mayat korban gempa. “ Sudah beberapa mayat yang mampu ditemukan oleh anjing ini terutama di wilayah Lombok Utara. Seperti di Dompo, Gangga, dan masjid Bangsal.” jelas Komang.

Semua anjing sudah memiliki nama masing-masing.” Ada Sita, Lupita, Ema, Juwiti, Cuska, namanya. Ada lagi yang lain tetapi lupa saya namanya,” ungkapnya.

Masing-masing anjing bisa paham bahasa Sasak, Indonesia dan juga bahasa Inggris. “Tergantung pawangnya biasa menggunakan bahasa apa,” jelasnya.

Khusus untuk Sita, dirawat oleh pawang  Bripka Andre yang biasa menggunakan bahasa Inggris.

BACA JUGA: Lelah Tunggu Bantuan Pemerintah, Sukarno Bangun Rumah Terbalik

Bripka Andre mengatakan dirinya sudah cukup lama bersama Sita. Ia juga mengaku memerlukan waktu untuk menyatukan diri. Sebelum akhirnya dilatih untuk bisa diperintah. “ Perlu saling mengenal dulu untuk menyatukan diri. Setelah itu baru dilatih. Kalau tidak begitu dia tidak akan mendengar perintah dari saya. Jadi tahapan dan kualifikasi sebelum dilatih itu ada,” katanya.

Terkait apakah pernah digigit atau tidak, Andre mengungkapkan bahwa digigit itu adalah hal biasa. Hanya saja itu tidak berbahaya. Mengingat anjing-anjing yang ada semuanya bebas dari virus.(*)