Lelah Tunggu Bantuan Pemerintah, Sukarno Bangun Rumah Terbalik

Rumah Terbalik
RUMAH TERBALIK: Sukarno, salah satu korban gempa berpose di depan "Rumah Terbalik" yang dibangun untuk hunian tetapnya pascagempa di Dusun Bug-Bug, Desa Bug-Bug, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, Senin (15/10). (IST FOR RADAR LOMBOK)

Bencana gempa bumi yang melanda Pulau Lombok beberapa waktu lalu, telah meluluh lantakkan ribuan rumah warga. Tak terkecuali rumah milik Sukarno, 44 tahun, warga Desa Bug-Bug, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat (Lobar), rumahnya juga rata dengan tanah.


SIGIT SETYO – LOMBOK BARAT


MEMANG, kedatangan bencana gempa itu belum ada satu pun lembaga, atau instansi yang bisa memprediksi kedatangannya. Sehingga kalau bencana melanda, maka kesiapan seseorang dalam menghadapi bencana (mitigasi), itu yang justeru dapat menyelamatkannya.

Demikian Sukarno, perawat di Puskesmas Lingsar yang hobi mendaki Gunung Rinjani ini sejak rumahnya hancur akibat gempa, terpaksa dia tinggal di tenda pengungsian. Namun meskipun di pengungsian, bukan berarti Sukarno tidak bekerja. Dia tetap bekerja memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Termasuk turut menjadi relawan bagi korban bencana lainnya di berbagai wilayah Lombok. Sembari menunggu bantuan stimulant dari pemerintah yang telah berjanji akan membantu masyarakat membangun kemali rumah warga yang roboh karena gempa.

Namun lebih dari dua bulan pascagempa, belum juga ada kejelasan soal bantuan dana stimulan dari pemerintah untuk dirinya. Ternyata, dari hasil pendataan pemerintah desa, namanya tidak tercantum sebagai calon penerima bantuan. Padahal rumahnya masuk dalam kategori rusak berat.

“Nama saya tidak masuk daftar penerima bantuan pemerintah. Ingin protes juga sih, karena saya merasa ada ketidakadilan. Tapi verifikasi juga tidak masuk. Itu yang saya sesalkan,” kata Sukarno kepada sejumlah media, Senin kemarin (15/10).

Tak ingin berlarut-larut dalam kekecewaan, karena berharap pada bantuan pemerintah yang tak kunjung tiba. Apalagi namanya juga tidak masuk dalam kategori penerima bantuan, meskipun rumahnya rata dengan tanah. Sukarno dengan dibantu teman-teman hobinya sesama pendaki Gunung Rinjani, mulai membersihkan puing-puing bangunan rumahnya yang roboh akibat gempa.

Selesai proses pembersihan, Sukarno pun secara swadaya membangun kembali rumahnya. Uniknya, rumah yang dibangun bukan rumah biasa. Model rumah mengusung konsep rumah terbalik. “Ya sengaja model seperti ini. Kita sebut rumah sujud, karena posisi rumah seperti sedang bersujud,” jelas Sukarno.

Menurutnya, hal ini menjadi penanda bahwa manusia tetap harus bersyukur kepada Allah SWT, dan menjadikan musibah sebagai sebuah ujian untuk meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan. Sukarno memang sengaja membuat konsep rumah yang menarik. Dia berharap hal ini bisa menjadi daya tarik bagi para wisatawan.

Sukarno memiliki harapan, warga sekitar mau mengikuti langkahnya membangun rumah dengan konsep serupa. Ide pembangunan rumah terbalik, dia katakana dibantu oleh sang kakak, Subhan, yang memiliki kemampuan dalam hal arsitektur. “Kita coba browsing-browsing dan cari yang paling sederhana, kemudian buat miniatur dulu, lalu konsultasikan ke tukang,” sebutnya.

Untuk membangun rumah terbalik itu, Sukarno mengaku menghabiskan biaya sekitar Rp 50 juta. Rumah terbalik yang dibangun itu menggunakan bahan material mulai dari genting ondovila untuk atap, kalsiplank untuk dinding, dan sisa puing rumahnya yang masih bisa digunakan seperti pintu dan jendela.

Pembangunan rumah terbalik seluas 6×5 meter itu pengerjaannya membutuhkan waktu sekitar tiga pekan. “Ini sudah jalan seminggu. Mungkin sekitar dua minggu lagi rampung. Dan arsitekturnya, Insya Allah tahan gempa juga,” ujar Sukarno.

Kalau sudah jadi, rencananya dia akan mengundang komunitas pendaki Gunung Rinjani untuk menghadiri peresmian rumah terbalik miliknya. Dia juga berencana menggalang dana untuk para korban gempa dan tsunami di Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) pada saat peresmian rumah terbalik nanti. “Ya bantuan dari korban gempa (Lombok), untuk korban gempa dan tsunami di Sulteng,” ujarnya.

Sukarno berkeyakinan idenya ini mampu menjadi daya tarik bagi sektor wisata baru di Lombok. Selain itu, nantinya warga sekitar juga bisa merasakan dampak ekonomi dengan kehadiran pengunjung. “Warga nantinya bisa berjualan makanan dan minuman, serta kerajinan tangan, yang kalau bisa ada ciri khas tentang bencana gempa,” katanya.

Tak sekadar sebagai objek wisata, Sukarno juga akan menampilkan sejumlah unsur yang berkaitan dengan perisitiwa gempa. Hal ini dimaksudkan sebagai pengingat dan juga mitigasi bencana ke depan bagi masyarakat sekitar dan juga wisatawan.

BACA JUGA: Daerah Dibebankan Triliunan Rupiah, Gubernur NTB Berharap Jokowi Datang Lagi

Sementara itu, kepala tukang rumah terbalik, Andi, mengaku kaget saat diminta Sukarno membangun rumah dengan model terbalik. Namun setelah dijelaskan, Andi akhirnya menyetujui permintaan tersebut.

“Kita kan sering bawa tamu ke Gunung Rinjani, namun kini ditutup. Apalagi katanya penutupan pendakian Gunung Rinjani sampai dua tahun. Jadi kenapa kita tidak mulai menciptakan objek wisata baru saja,” ujar Andi seraya berharap, langkah inovatif Sukarno ini bisa diikuti masyarakat lainnya yang ada di Lombok. (*)