Belajar Otodidak, Manfaatkan Barang Bekas

SANDAL : Anggota Karang Taruna “Tunas Karya” Desa Karang Bongkot Kecamatan Labuapi Irawan (kanan) dibantu Hadika (kiri) sedang memproduksi sandal dengan bahan daun pandan dan eceng gondok (ZUL/RADARLOMBOK)

Kreativitas pemuda-pemudi Desa Karang Bongkot Kecamatan Labuapi patut diacungi jempol. Mereka merintis usaha kerajinan sandal memanfaatkan barang bekas. Seperti apa?


ZULKIFLI – GIRI MENANG


Produksi sandal adalah salah satu program pemberdayaan pemuda yang digagas oleh Karang Taruna “ Tunas Karya” Desa Karang Bongkot Kecamatan Labuapi. Ini setelah karang taruna cukup sukses mengakomodir minat dan bakat pemuda setempat lainnya seperti dengan menggelar event Presean dan sepak bola. 

Karang Taruna “Tunas Karya” sendiri punya satu orang anggota yang memiliki keahlian di bidang produksi sandal bernama Irawan. Ia belajar membuat sandal secara otodidak sejak 2010. Ia sempat mendapatkan pelatihan di Sidoarjo pada 2015. Namun waktu itu salah kamar, seharusnya mendalami produksi sandal dan sepatu, malah masuk ke kelas manajemen. Tetapi ia tidak menyerah. Laki-laki yang juga bekerja sebagai tukang cat ini tetap mencuri pelajaran dari ahlinya. Bahkan sebelum pulang dia membeli 22 pasang duplikat ukuran kaki untuk perempuan dan laki-laki sebagai modal mengembangkan produksi sandal. “Dulu sebelum saya beli ini, saya ngukur ukuran kaki itu ya langsung saya suruh taruh kakinya. Tetapi sekarang sudah lebih mudah,” ungkap lulusan SMPN 2 Labuapi ini, Selasa (14/3).

Diungkapkannya, nyaris semua kemampuan yang dimiliki berawal dari otodidak, baik dengan coba-coba atau belajar di internet. Bahkan pada awal produksi itu menggunakan barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai. Misalnya saja bekas sandal, kain bekas dan lain sebagainya. Sandal dari barang bekas sendiri bisa dijual sekitar Rp 30 ribu pada awal-awalnya.

[postingan number=3 tag=”features”]

Untuk pemasaran sendiri belum bisa dilakukan dalam skala besar, karena bahan-bahan untuk produksi pun terbatas. Kalaupun menggunakan barang bekas ataupun eceng gondok, itu ada banyak bahan ikutan lainnya. “Jadi kalau ada yang mesan saja baru dibuat. Kadang lewat facebook, dia ngirim gambar, kemudian saya buat. Saya kemudian jual sekitar Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu,” jelasnya.

Banyak kendala lanjut Irawan yang menyebabkan proses produksi masih terbatas termasuk pemasarannya, yakni peralatan. Saat ini belum ada alat pres. Alat ini berfungsi untuk mengepres lapisan sandal yang sudah dilem. Dengan menggunakan alat pres, lapisan lem akan lebih kuat dan lebih rapi. “Karena tidak ada makanya hanya dipakai palu, dipukul-pukul,” terangnya.

Selain itu lanjutnya ketiadaan mesin jahit biasa dan mesin jahit sandal. Ketiadaan mesin jahit biasa diakali dengan melakukan penjahitan di tempat yang menyewakan jasa menjahit atau meminta bantuan kepada anggota karang taruna yang bisa menjahit. Sementara ketiadaan mesin jahit sepatu diakali dengan menjahitnya sendiri. “Tetapi dijamin hasil produksi sepatunya bagus dan tahan lama. Harganya juga murah. Kalau di toko-toko mungkin ratusan ribu,” jelasnya.

Kemudian juga alat pemotong. Seharusnya ada alat pemotong khusus sesuai model ukuran sandal yang ada. Selama ini ketiadaan alat pemotong khusus tersebut diakali dengan cutter. Kemudian untuk memperhalus dipergunakan gerinda.

Saat ini lanjutnya, kalau ada pesanan, setidaknya dalam sehari bisa diproduksi sekitar empat sandal itu pun harus dibantu dengan teman-teman karang taruna. Andai saja ada mesin pres maka diyakini produksi bisa sampai 10 per hari. “Makanya sekarang kita di karang taruna sedang perjuangkan bagaimana agar kita memperoleh alat pres, mesin jahit dan alat potong, agar produksi tidak sebatas pesanan,” ungkapnya.

Dalam waktu dekat ini kata Irawan, Karang Taruna “Tunas Karya” diminta menjadi wakil Kecamatan Labuapi dalam lomba Karang Taruna tingkat Lobar pada April  2017. Kesempatan ini lanjutnya, tentu tidak akan disia-siakan dirinya dan anggota Karang Taruna yang ikut aktif dalam pengembangan produksi sandal. Dengan harapan ke depannya nanti bisa mendapatkan bantuan peralatan yang diharapkan. “Makanya ini sekarang kita sedang memproduksi sandal yang bisa menarik minat pihak dinas, agar tertarik dengan kreasi kami. Seperti ini, kita pakai enceng gondok, kemudian pandan, ada juga kain batik,” terangnya.

Adapun pengadaan bahan-bahan pembuatan sandal dibantu oleh Pemerintah Desa Karang Bongkot melalui program yang diajukan Karang Taruna. Adapun anggota Karang Taruna yang sudah bisa membantu membuat sandal sekitar tiga orang, mulai dari pemotongan bahan, pengeleman, penjahitan hingga pengepresan menggunakan palu. “Mereka sudah kita kita ajari,” jelasnya.

Ketua Karang Taruna “Tunas Karya” Feriadi mengungkapkan, Karang Taruna sangat berkomitmen untuk mengembangkan produksi sandal yang sementara ini diberi merek “Side Doank”. Sejauh ini Karang Taruna lanjutnya baru sebatas memberikan bantuan pengadaan bahan. Kemudian mengumpulkan anggota yang memiliki minat yang sama untuk membantu pekerjaan.(*)