Aminah, Relawan yang Membantu Mengurus Administrasi Kependudukan Warga

Aminah

Berangkat dari keperihatinan banyaknya warga di desa tidak memiliki akta kelahiran dan buku nikah,Aminah lalu mendedikasikan diri membantu mengurus administrasi kependudukan warga. Sudah banyak warga yang berhasil dibantu.


Ahmad Yani — Giri Menang


Perempuan berusia paruh baya tersebut cukup dikenal di Desa Jagaraga Induk Kecamatan Kuripan Lombok Barat. Betapa tidak, Aminah nama perempuan paruh baya tersebut mendedikasikan dirinya untuk membantu  warga yang berasal dari keluarga tidak mampu atau rata – rata keluarga miskin.

Keputusan dirinya membantu warga untuk mengurus administrasi kependudukan tersebut, tidak terlepas dari keprihatinan dan keresahan dirinya.  Kala itu tahun 2010 karena masih banyak anak – anak di kampungnya yang belum memiliki akta kelahiran dan buku nikah.

” Semua hal terkait administrasi kependudukan tidak terlepas dari buku nikah dan akta kelahiran. Misalnya, anak mau sekolah dan lainnya. Sementara banyak warga tidak punya itu,” tuturnya, kepada Radar Lombok Rabu kemarin (19/4).

Hal itu menjadi persoalan serius  yang selalu dirisaukan dan dikeluhkan warga di desanya. Hal itu makin dipersulit dengan minimnya akses informasi bagi warga terkait kepengurusan kepemilikan akta kelahiran dan buku nikah. Apalagi, sebagian besar warga tersebut memiliki pendidikan rendah dan mayoritas mereka bekerja sebagai petani, buruh dan pembantu rumah tangga.

Dengan kondisi yang  dihadapi di desa tersebut, Aminah pun berpikir keras membantu warga dan mengatasi masalah tersebut. Ia pun mulai mencari akses informasi terkait masalah administrasi kependudukan yang dialami warga.

Demi membantu warga, Aminah pun harus bolak balik dari kantor  desa setempat dan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Lombok Barat.

Berhadapan dengan birokrasi tak semudah dibayangkan. Bahkan, acap kali dalam sehari ia harus beberapa kali bolak balik dari Disdukcapil setempat. Namun, semua itu ia jalani dengan ikhlas dan sabar, demi membantu dan menolong sesama warga membutuhkan tenaganya.

Aminah sendiri pendidikannya tidak sampai tamat SD. Untuk memenuhi kehidupan ekonomi keluarga sehari – sehari, dia menjadi pembantu rumah tangga (PRT) tidak tetap.  Terkadang  sering menjadi buruh tani dan bersama kelompok perempuan yg dibentuknya  menanam padi, cabai maupun panen padi. Pemilik lahan biasanya menggunakan jasa mereka utk mengolah sawah. Sistem borongan akan memudahkan perempuan mendapatkan pekerjaan. Upah yang diperolehpun dibagi rata.  Suaminya sudah beberapa tahun bekerja sebagai TKI di Negeri Jiran Malaysia.

” Bahkan, sering kali saya tinggalkan pekerjaan sebagai PRT, demi membantu warga,” ungkapnya.

Dengan pendidikan rendah dan kehidupan ekonomi yang  masih kurang, tak menyurutkan dedikasi dan langkahnya terus membantu warga. Ia pun terus untuk mencari jalan mengatasi persoalan administrasi kependudukan itu. Kemauan untuk memperjuangkan persoalan yang dihadapi lingkungannya membuahkan hasil.  Pihak Disdukcapil kala itu sering datang kekampungnya untuk memberikan sosialisasi. Hasilnya, sudah mulai tumbuh kesadaran warga untuk menyelesaikan masalahnya.

Dari bantuannya itu,  sudah ratusan warga yang tidak memiliki akta kelahiran anak yang dibantu.  Terkadang Aminah hanya diberikan ongkos Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu. Tetapi lebih banyak yang tidak memberikannya uang. ” Andai untuk mencari ekonomi, saya tidak dapat apapun. Terlebih kita bantu sesama warga tidak mampu. Namun, semua terbayar dengan kepuasan batin,” lukasnya.

Tak mudah bagi dirinya melakoni hal tersebut. Namun, komitmen, keihklasan dan dedikasi dirinya untuk membantu dan menolong sesama warga makin menguatkan dirinya. Dengan apa dilakoni Aminah tersebut, membuat rumahnya yang  sederhana tidak pernah sepi dari warga. Hampir selalu ada warga datang dan meminta bantuan dirinya untuk menyelesaikan masalah kependudukan yang dihadapi tersebut.

Aminah pun selalu siap membantu dan menolong dengan sekuat tenaga yang  dimiliki. Bagi Aminah, memberikan manfaat bagi masyarakat disekitarnya merupakan kenikmatan dan kesenangan luar biasa baginya. ” Kebahagian tidak harus melulu diukur dengan materi. Tapi kebahagian paling utama bisa membantu orang lain,” pungkasnya.(*)