Anak Walikota Mataram Tidak Lulus CPNS

Bukti Rekrutmen Bersih Intervensi

Anak Walikota Mataram Tidak Lulus CPNS
PANTAU: Walikota Mataram berinteraksi dengan peserta tes CPNS di Mataram, kemarin (11/12). (Ali/Radar Lombok)

MATARAM—Proses rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Kota Mataram relative bersih tanpa intervene pihak manapun. Buktinya, anak kedua Wali Kota Mataram, H Ahyar Abduh, yang ikut adu peruntungan dalam tes juga tidak lulus.

Ahyar mengatakan, anak keduanya tidak lulus tes Seleksi Kompetensi Dasar (SKD). Sang anak disebutnya melamar formasi perencanaan tata ruang. Hasil tesnya menyebut yang bersangkutan tidak melampauui passing grade yang telah ditentukan.

‘’Iya anak kedua saya tidak lulus CPNS. Dia tamatan planologi UGM, tapi toh tidak lulus juga,” ucapnya, Selasa (11/12).

Apa yang dilontarkan Ahyar ini menegaskan bahwa pihak manapun tidak bisa mengintervensi proses rekrutmen CPNS, termasuk dirinya. Kegagalan anaknya lulus passing grade menjadi bukti rekrutmen tahun ini cukup bersih.

Apa yang dilontarkan Ahyar ini disampaikan kala memantau langsung pelaksanaan tes Seleksi Kompetensi Bidang (SKB) Kota Mataram di aula Makorem 162/WB, kemarin. Ahyar menyaksikan langsung pelaksanaan tes yang berjalan lancar.

Tes digelar sehari penuh dengan empat sesi. Peserta tes akan memperebutkan 262 formasi PNS Kota Mataram. ‘’Saya sudah pantau secara langsung. Saya juga sudah lihat persiapannya berjalan dengan lancar. Kita ingin jangan sampai ada gangguan-gangguan teknis,’’ ujarnya.

Ia berharap seluruh formasi Kota Mataram bisa terisi sesuai kebutuhan PNS Kota Mataram bisa bertambah. Terisinya semua formasi itu diharapkan pelayanan kepada masyarakat meningkat.

Saat memantau, Walikota juga menyapa langsung CPNS sebelum mengikuti tes. Ahyar terlihat santai berinteraksi dengan peserta. Ia mengatakan kepada peserta untuk mengerjakan soal sebaik-baiknya.

Selain itu, Ahyar juga menegaskan kepada peserta bahwa perekrutan CPNS tersebut bersih dari intervensi. ‘’Tidak ada itu intervensi atau ada yang bisa menjanjikan peserta bisa lulus CPNS,’’ ungkapnya.

Ditegaskannya, untuk peserta yang lulus SKD semua namanya masuk untuk ditandatangani pihaknya. Begitu juga dengan nama peserta yang lulus dari sistem perangkingan, seluruhnya masuk dari Panitia Seleksi Nasional (Panselnas). Nama-nama yang masuk murni dari Panselnas.

‘’Jadi saya hanya menandatangani saja, makanya jangan percaya terhadap pihak-pihak yang sifatnya menjanjikan kelulusan. Jangan dipercaya,’’ tegasnya.

Senada, Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Mataram, Baiq Nelly Kusumati mengatakan, dengan sistem tes berbasis Computer Asissted Tes (CAT), tidak ada yang bisa mengintervensi hasil seleksi. ‘’Itu murni hasil tes. Hasilnya juga bisa dilihat setelah tes selesai dilaksanakan. Bagaimana mau diitervensi sistemnya sudah seperti itu,’’ katanya.

Di tengah berlangsungnya tes, masih ada peserta yang mengeeluhkan soal yang ditampilkan. Peserta menganggap soal yang ditanyakan tidak sesuai dengan formasi yang dilamar.

Tira Novita Sari misalnya, salah satu peserta SKB ini menyebut dirinya melamar formasi guru SD. Ia sempat berpikir, soal SKB lebih kepada metode mengajar, tapi tidak demikian pada saat pelaksaan SKB. Soal yang ditampilkan hampir setengahnya terkait hitung-hitungan. Belum lagi soal terkait fisika, sehingga diyakininya  soal yang ditanyakan tidak sesuai dengan jurusan. Ia pun kebanyakan bingung menjawab soal.

‘’Tentu saja saya kebingungan karena kalau metode mengajar itu bisa saya jawab karena memang dipelajari. Tapi soalnya malah tidak sesuai,’’ ujarnya.

Diterangkannya, SKB terdiri 100 soal dengan 90 menit pengerjaan. Saat menjawab, hampir 50 persen terdiri soal matematika dan fisika, kemudian 10 persen soal metode keguruan dan soal lainnya 20 persen IPS dan PPKN.

Dikeluhkannya juga soal matematika yang ditanyakan bukan untuk materi pelajaran SD. Praktis, ia pesimis dengan materi soal SKB. ‘’Peserta yang lain saya tanya katanya sedikit soal hitungannya. Koq saya banyakan matematika. Mati dah saya,’’ katanya.

Peserta lainnya Wanda Febrianti menyampaikan pengakuan berbeda. Soal yang ditanyakan yang diterimanya masih sesuai dengan formasi yang dilamar. Soal hitungan hanya 10 persen terdiri dari empat soal, sedangkan soal lainnya didominasi metode mengajar.  Tes SKB diebutnya lebih susah dengan SKD.

‘’Dibanding tes SKD, tes SKB memang lebih sulit. Karena ini soalnya dicampur juga. Tapi ini beda komputer beda soal dan isinya. Jadi ini tergantung nasib saja kalau begini,’’ ungkapnya.

Menjawab keluhan ini, Kepala BKPSDM Kota Mataram, Baiq Nelly Kusumawati mengatakan, secara keseluruhan tes berjalan lancar. Mengenai adanya keluhan peserta tentang soal yang tidak sesuai formasi yang dilamar disebutnya terdiri dari SKB jabatan fungsional yang disusun oleh instansi pembina. SKB jabatan pelaksana yang disusun dan ditetapkan oleh Panitia Seleksi Nasional (Panselnas).

Namun demikian, keluhan peserta itu akan disampaikan ke Panselnas. “Kita baru tahu keluhannya. Nanti kita sampaikan ke Panselnas,’’ katanya. (gal)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Suka
  • Terhibur
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut