Alimudin Akhirnya Meninggal

DIMANDIKAN: Jenazah Alimudin, korban sengatan gardu listrik saat dimandikan keluarganya, kemarin.

PRAYA-Tukang bangunan masjid Darul Yaqin Desa Jelantik Kecamatan Jonggat, Alimudin akhirnya menghembuskan napas terakhirnya sekitar pukul 08.00 Wita, kemarin (2/3).

Alimudin merupakan tukang masjid yang menjadi korban sengatan listrik pada 18 Februari 2017 lalu. Waktu itu, Alimudin hendak memasang besi di lantai dua. Tiba-tiba saja tubuhnya terbakar dan langsung berteriak kepanasan. Alimudin tersengat aliran gardu listrik yang berada di area masjid setempat.

Menurut keterangan korban sebelumnya, jarak besi yang ia pegang dengan gardu sekitar 5 meter. Ia sama sekali tak menyangka jika daya gardu listrik itu begitu kuat hingga akhirnya membakar tubuhnya. Alimudin kemudian sempat dirawat di RSUD Praya selama beberapa hari.

Setelah pulang dari rumah sakit, Alimudin sering merintih kesakitan. Napasnya sesak dan rasa sakit di tubuhnya tak tertahan. Hingga akhirnya, sekitar pukul 08.00 Wita, kemarin ia meregang nyawa. ‘’Almarhum meninggal sekitar pukul 08.00 Wita,’’ ungkap Hazizi, ayah Alimudin, kemarin.

Atas musibah ini, pihak keluarga mengaku tak bisa berbuat banyak. Keluarga hanya bisa pasrah dan menyerahkan semua kejadian tersebut ke Tuhan Yang Maha Esa. ‘’Kami tidak bisa berbuat apa-apa, kami hanya bisa menyerahkan musibah ini kepada Allah SWT,’’ tutupnya.

[postingan number=3 tag=”meninggal”]

Kepala Desa Jelantik, Mahsun yang dikonfirmasi menyesali terjadinya musibah ini. Sejak awal, masyarakat setempat sudah menduga bahwa keberadaan gardu listrik itu sangat berbahaya. Sehingga Pemdes Jelantik menyurati PLN Rayon II Praya dan NTB untuk memindahkan gardu tersebut ke tempat lain. Namun, sampai sekarang PLN belum merespon keinginan masyarakat Jelantik. ‘’Sudah setahun ini kami usulkan, tapi belum ada respon dari PLN sampai sekarang,’’ sesal Mahsun.

Belakangan ini, beberapa petugas PLN memang sudah menyurvei gardu tersebut dan lokasi tempatnya dipindah. Konon, pemindahannya akan dilakukan seminggu lagi. Tapi, Mahsun mengaku tetap menyesali lambatnya respon PLN. Terlebih respon itu ditanggapi setelah terjadinya musibah. ‘’PLN ini mau enaknya saja. Kalau mereka yang butuh tidak ada permakluman kepada pemilik tanah, langsung tancap. Tapi kalau kita yang butuh administrasinya ruwet sekali,’’ ujarnya.

Seharunya, kata Mahsun, PLN sebagai perusahaan negera di bawah BUMN bekerja profesional. Begitu ada kejadian yang membahayakan keselamatan masyarakat, mereka harus tanggap. Tak semestinya menunggu terlalu lama dengan panjangnya administrasi. ‘’Tapi mereka ini sepertinya mau lihat adanya korban dulu, baru bertindak,’’ ketusnya.

Tadinya, tutur Mahsun, masyarakatnya hendak berunjuk rasa ke kantor PLN. Namun, pihaknya melarang dan meredam emosi masyarakat tersebut. Pihaknya berjanji akan menyelesaikan masalah ini secara prosedural, sehingga menggunakan cara administratif. ‘’Tapi kalau tidak secepatnya ditanggapi, bisa saja keinginan masyarakat untuk demo tidak terbendung nantinya. Karena PLN ini kalau kita tidak protes di media, tanggapan sulit sekali,’’ pungkasnya.

Manajer PLN Rayon II Praya, Deny Mahfuz yang dikonformasi mengaku, pihaknya sudah mendapatkan informasi atas meninggalnya Alimudin, korban sengatan gardu listrik. Pihaknya sudah mengutus staf untuk memberikan santunan kepada keluarga almarhum. (cr-ap)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid