Timbulkan Kerumunan, Penyaluran Bantuan Tuai Kritikan

KERUMUNAN: Inilah kerumunan yang berada di depan kantor BNI Cabang Praya, Selasa kemarin (13/4). (M HAERUDDIN/RADAR LOMBOK)

PRAYAPenyaluran berbagai jenis bantuan oleh pemerintah pusat ke masyarakat penerima melalui PT Bank Nasional Indonesia (BNI) menuai keritikan. Pasalnya beberapa hari terakhir seperti di kantor BNI di jalan Janderal Sudirman Praya ini, padat oleh nasabah dan warga penerima bantuan.

Direktur Lombok Update Lembaga Pemerhati Kebijakan Publik, M Samsul Qomar menegaskan bahwa, kerumunan masa di tengah pandemi Covid-19 ini memang sangat rentan menyebabkan penyebaran virus Covid-19 ini.  Sehingga pemerintah sebenarnya harus sigap dalam mengatasi persoalan ini. “Saya khawatir akan ada klaster baru yakni klaster BNI kalau melihat kerumunan yang padat ini,” ungkap M Samsul Qomar, Selasa kemarin (13/4).

Disampaikan secara rinci bahwa data yang didapat, jika bantuan yang disalurkan dari BNI terdiri dari bantuan BOS madrasah, UMKM dan bantuan tunai pra kerja. Jika ini diberikan dalam satu bank, maka praktis kerumunan dan antrian panjang akan tetap terjadi. “Ini berbahaya yang datang menerima bantuan ini banyak usia senja bahkan jompo, ada juga yang terpaksa membawa balita, ini harus di carikan solusinya,” terangnya.

Mantan anggota DPRD Lombok Tengah dua periode ini menambahkan, semestinya ada regulasi khusus terkait penyaluran bantuan ini. Karena memang jika terus dibiarkan, maka rentan akan menimbulkan penularan dan menaikkan angka Covid-19 di Lombok Tengah, yang saat ini masig zona orange. “Untuk itu kami meminta kepada pihak terkait, agar melakukan upaya dengan mengurai para penerima bantuan dan menerapkan protokol kesehatan (prokes) yang ketat diarea BNI cabang Praya, agar tidak terjadi penumpukan masa yang banyak. Karena ini kita masih sedang dalam masa pandemi,” tambahnya.

Pihaknya menegaskan bahwa yang paling miris, ada nasabah atau penerima bantuan yang sampai menginap untuk mengambil nomer antriannya, ini membuktikan bahwa kondisi masyarakat memang dalam kondisi sudah dan serba terbatas secara ekonomi dan sosial dan pemerintah harus hadir memberikan solusi dalam permasalahan ini. “Terkait adanya transfer ke bank penerima selain BNI yang ternyata di blokir, kita minta agar harus segera di carikan jalan keluarny, ini yang menyebabkan keramaian luar biasa itu kan mereka ini rutin dan kontiniu menerima bantuan jadi datanya sudah jelas,” tegasnya.

Informasi yang berhasil dihimpun bahwa beberapa warga yang ditemui menyampaikan bahwa mereka datang dari berbagai wilayah. Bahkan ada juga warga dari jam 12 malam sudah mengantre karena takut tidak dapat jatah. Hingga saat ini penumpukan antrean dan kerumunan masih terjadi belum ada tindakan dari satgas kabupaten atau pihak kepolisian selain petugas Satlantas yang mengatur jalur lalu lintas di depan bank tersebut. “Kejadian kerumunan ini sudah berjalan lama, tapi diabaikan oleh Pol PP. Maka baiknya Kasatpol PP ini mundur saja kalau tidak ada gairah kerja,” tegasnya.

Kasatpol PP Lombok Tengah, Lalu Aknal Afandi belum memberikan respons terkait dengan kerumunan yang terjadi di pertokoan atau tepatnya di kantor BNI Cabang Praya. (met)