Tiket Pesawat Mahal, Omzet Toko Oleh-oleh Anjlok 70 Persen

Omzet Toko Oleh-oleh Anjlok 70 Persen
SEPI : Salah satu toko oleh-oleh khas NTB yang berada di jalan Adi Sucipto, Ampenan sepi dari wisatawan yang singgah untuk berbelanja. (DEVI HANDAYANI/ RADAR LOMBOK)

MATARAM Gara-gara adanya kenaikan harga tiket pesawat seluruh maskapai penerbangan domestik, membuat seluruh toko oleh-oleh khas NTB gigi jari. Pasalnya, pembeli yang didominasi 99 persen pembelinya dari wisatawan asing maupun domestik yang berkunjung ke NTB, kini sepi yang datang. Kondisi tersebut kian diperparah juga dengan pemberlakuan bagasi berbayar oleh maskapai penerbangan domestik.

Sejumlah toko oleh-oleh di Kota Mataram mengeluhkan sepinya pembeli dan wisatawan. Hal ini membuat omzet penjualan mereka turun drastis. Kondisi ini memang sudah terjadi pascagempa bumi akhir Juli 2018 lalu. Disaat kondisi anjlok karena dampak gempa bumi, hal tersebut semakin diperparah lagi dengan kebijakan kenaikan harga tiket pesawat dan pemberlakuan bagasi berbayar yang semakin mematikan pelaku usaha dan juga pariwisata NTB.

BACA JUGA: Harga Tiket Lion Air Masih Mahal

Salah satu toko oleh-oleh di jalan Adi Sucipto Ampenan mengaku, kondisi saat ini sangat sepi. Bahkan kunjungan atau yang membeli hanya hitungan jari saja. Dalam sehari saja sekitar 1-2 kendaraan travel membawa wisatawan datang untuk membeli pernak-pernik oleh-oleh khas Lombok, namun tidak semua membeli, ada hanya melihat-lihat saja.

“Kalau dibandingkan sebelum ada gempa, kita bisa dapat sehari itu Rp 10 juta, sekarang paling tinggi hanya Rp 2 juta hingga Rp 2,5 juta,” tutur Ali salah satu karyawan, Senin kemarin (8/4).

Dikatakannya, sebelum terjadi bencana alam gempa bumi, wisatawan mancannegara yang datang paling banyak dari Malaysia, Singapura dan Korea Selatan untuk mampir membeli beberapa kerajinan. Namun kini justru sudah tidak ada lagi, meskipun ada wisatawan datang, mereka tidak membeli barang terlalu banyak, meskipun harga telah turun, tetapi tetap saja kondisi pariwisata masih sepi.

“Tidak ada pengaruh untuk harga tiket naik, walaupun sudah turun lagi, karena pariwisata kita sekarang belum pulih,” ujarnya.

Ia menyebut, penurunan untuk omzet sangat anjlok mencapai 70 persen. Ia berharap, agar kondisi pariwisata segera pulih, karena sangat merugikan bagi pelaku usaha. Pemerintah daerah dan pusat juga diminta dapat segera melakukan pemulihan pada pariwisata, sehingga perekonomian di NTB juga segera pulih.

Sementara itu, berbeda dengan toko oleh-oleh di daerah Ampenan untuk omzet mereka, tetap turun, meski tidak tidak sangat anjlok bawah. Meskipun ada penurunan, tetapi masih ada beberapa pembeli yang datang. Dalam sehari sekitar 4-5 orang berbelanja, kondisi ini juga terjadi sejak adanya bencana alam ditambah dengan naiknya harga tiket dan pemberlakuan bagasi berbayar beberapa waktu lalu.

BACA JUGA: Penumpang LIA Turun 2.500 Orang Per Hari

“Ada pengaruhnya, dari harga tiket yang naik sama gempa itu juga sekitar 50 persen. Apalagi toko oleh-oleh di bandara juga sekarang ikut sepi,” ujar Nurul karyawan toko oleh-oleh Rinjani.

Dampak belum benar-benar pulihnya pariwisata membuat sejumlah toko oleh-oleh mengalami penurunan omzet. Tak hanya itu sebagian diantaranya di daerah Senggigi, sejumlah toko oleh-oleh tutup hanya ada beberapa diantaranya buka. Mengingat pariwisata di sekitar daerah situ juga terlihat lengang.

“Karena sepi, makanya banyak yang tutup tokonya. Padahal disana paling banyak wisatawan,” ujarnya. (cr-dev)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid