Tiga Gili Dipromosikan Sebagai Sport Tourism

TANJUNG—Tiga Gili (Trawangan, Meno dan Air), selain dikenal karena keindahan alamnya, sehingga menjadi pusat kunjungan wisatawan nusantara maupun mancanegara, ternyata juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai destinasi sport tourism (olahraga wisata).

Melalui kegiatan “Festival Pesona Gili Indah” yang dihelat Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Utara (KLU), dengan di back up penuh Pemerintah Provinsi NTB melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) NTB. Dimana salah satu item kegiatan selain menggelar aneka pertunjukan seni dan budaya tradisional hingga modern, juga dikenalkan potensi olahraga wisatanya melalui kegiatan lomba lari 10 kilometer (K) di Gili Trawangan, fun bike di Gili Air, dan lainnya.

“Pariwisata itu tidak hanya menjual keindahan alam atau mempertontonkan keunikan pagelaran seni budayanya saja. Lebih dari itu, juga harus dikembangkan pemikiran-pemikiran inovatif dan kreatif di sebuah destinasi wisata, untuk lebih menarik kunjungan wisatawan,” kata Gubernur NTB, TGH M Zaenul Majdi kepada media, usai mengikuti lomba lari Colour Run 10K, sebagai rangkaian kegiatan Festival Pesona Gili Indah yang berlangsung di Gili Trawangan, Sabtu lalu (5/11).

Tak hanya ikut berlari mengelilingi Gili Trawangan, bahkan berlari mendaki medan perbukitan yang merupakan jalur Colour Run 10K di pulau tersebut, gubernur juga sempat beradu seni tradisional ketangkasan khas suku Sasak-Lombok, Presean melawan Bupati KLU, H. Najmul Akhyar.

Menurut gubernur, berolahraga secara rutin itu akan membawa manfaat bagi kesehatan jiwa dan raga. Sehingga dapat mengalihkan perilaku-perilaku negatif yang biasanya sering terjadi di destinasi wisata, seperti Narkoba misalnya. “Kalau para pelaku usaha wisata di Tiga Gili ini semua memiliki jiwa dan raga yang sehat, maka pelayanan “sehat” (profesional) sudah pasti juga akan didapatkan para tamu (baca wisatawan) yang berkunjung,” ujar Majdi, yang pada kesempatan itu juga didampingi Bupati KLU, H. Najmul Akhyar, Karo Humas Setda NTB, Yusron Hadi, Karo Umum Setda NTB, Fathul Gani, dan Kadishub NTB, Lalu Bayu Windya.

Sementara Kepala Disbudpar NTB, HL Moh. Faozal, sebelumnya menyampaikan bahwa Festival Pesona Gili Indah 2016 merupakan kegiatan kali pertama yang didukung Disbudpar NTB. Tentunya kegiatan yang dilaksanakan juga menyesuaikan dengan tagline promosi secara nasional, Pesona Indonesia (promosi dalam negeri) atau Wonderful Indonesia (promosi luar negeri), maupun yang kini sedang digencarkan Pemprov NTB, Pesona Lombok Sumbawa. “Embrio dari Festival Pesona Gili Indah ini adalah Festival Gili Begawe yang setiap tahun dilaksanakan Dinas Pariwisata KLU,” tuturnya.

Menurutnya, ada tiga hal yang menjadi titik fokus Disbudpar NTB melalui suporting kali ini. “Pertama, yakni bagaimana menguatkan branding Tiga Gili ini agar lebih dikenal lagi. Untuk itu, Disbudpar NTB telah mempromosikan melalui pemasangan baliho maupun perangkat promosi lainnya di Lombok Internasional Airport (LIA), dan sejumlah bandara internasional lain di Indonesia seperti Bandara Internasional Ngurah Rai (Bali) dan Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Banten),” jelas Faozal.

Berikutnya lanjut Faozal, titik fokus yang kedua adalah menguatkan konten dari kegiatan Festival Pesona Gili Indah. “Kegiatan selain diisi pagelaran aneka seni dan budaya tradisional khas Lombok, khususnya Lombok Utara, juga dimeriahkan pertunjukan musik modern seperti jazz, reggae, dan lainnya. Selain itu juga ada lomba mural, dan sport tourism seperti Lomba Lari 10K di Gili Trawangan dan Fun Bike di Gili Air. Sedangkan di Gili Meno, digelar pembukaan acara Festival Pesona Gili Indah, yang dilakukan langsung oleh Bupati KLU, Bapak H. Najmul Akhyar, SH. MH,” paparnya.

Kegiatan memang tersebar merata di Tiga Gili sambungnya, agar masing-masing Gili memiliki branding yang kuat sebagai destinasi wisata unggulan NTB. “Ketika masih bernama Gili Begawe, kegiatan hanya terpusat di satu Gili saja, yang kemudian dilaksanakan secara bergiliran. Namun setelah Pemprov NTB terlibat, maka kegiatan disebar di Tiga Gili. Sehingga kalau selama ini hanya dua destinasi saja yang banyak dikunjungi wisatawan, Gili Trawangan dan Gili Air, maka dengan adanya kegiatan di Gili Meno, maka pulau kecil yang terletak di tengah-tengah ini juga akan banyak dikunjungi wisatawan,” harap Faozal.

Apalagi Gili Meno juga memiliki keindahan alam yang tak kalah eksotik, dengan keberadaan sebuah danau yang indah di ujung barat pulau. Airnya yang sangat asin, bahkan lebih asin dibandingkan air laut, ternyata didalamnya bisa hidup berjenis-jenis ikan air payau. Selain itu, sejak jaman dahulu Danau Gili Meno ini juga dimanfaatkan penduduk sekitar Tiga Gili untuk membuat garam, sehingga setiap tahun juga ada prosesi adat membuat garam.

“Pelaksanaan prosesi adat membuat garam ini tentu menjadi keunikan tersendiri bagi Gili Meno, dibandingkan dua Gili lainnya. Kita harus mempertahankan prosesi adat ini di Gili Meno, sehingga bisa menjadi atraksi dan branding pariwisata yang menarik di Gili Meno,” tekad Faozal.

Berikutnya titik fokus ketiga adalah penguatan manajemen even, dimana kegiatan dilaksanakan oleh sebuah manajemen yang terkoordinasi baik, sehingga menghasilkan output seperti yang diharapkan. “Karena itu selain menghelat berbagai kegiatan yang bersifat entertain (pertunjukan), kami juga menggelar kegiatan yang bersifat edukasi (pendidikan). Diantaranya adalah kegiatan hari terakhir (Minggu, 6 November), dilaksanakan clean up beach (aksi bersih pantai) serentak di Tiga Gili, serta penanaman 1000 bibit pohon bunga flamboyan, masing-masing 400 bibit di Gili Trawangan, 300 bibit di Gili Meno, dan 300 bibit di Gili Air,” pungkas Faozal. (gt)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid