SREGIP Gandeng Koperasi Tani Pasok Kebutuhan Hotel

Reza Bouvier

MATARAM—Pertanian dan pariwisata merupakan sektor penting yang menjadi sumber pendapatan bagi penduduk di NTB, khususnya Pulau Lombok lebih dari 90 persen penghasilan keluarga di NTB diperoleh dari pertanian.

Dari segi pariwisata, sejak ditetapkannya Pulau Lombok sebagai salah satu dari 10 prioritas pembanguan destinasi wisata oleh Kementerian Pariwisata RI, ternyata turut mendorong pertumbuhan pariwisata NTB ke arah positif.

Untuk mendukung sektor pertanian dengan kemajuan pariwisata, SREGIP, salah satu lembaga donor asal Jerman yang dikenal juga dengan GIZ, bersama Hotel Santika Mataram (HSM) menggandeng sejumlah perusahaan dan koperasi untuk memasok produk hasil pertanian di NTB.

Hasil pertanian di NTB yang begitu potensial masuk di perhotelan, menjadi hal penting untuk diserap guna meningatkan kesejahteraan petani di NTB. “Hotel membutuhkan pasokan dari berbagai produk pertanian. Karena itu kami mengandeng sejumlah lembaga untuk memasok produk pertanian ke hotel,” kata General Manager Hotel Santika Mataram, Reza Bouvier di sela diskusi penciptaan keterkaitan antara petani/UMKM dengan hotel/industri pengolahan, serta penandatanganan MoU antara SREGIP, Hotel Santika Matara, PT Bali Asli, Koperasi Wisatani Sembalun, dan Koperasi Sugih Engger Sesaot, Rabu kemarin  (14/12).

Dikatakan, pariwisata sebagai sektor yang memiliki spektrum dampak yang luas, terbukti mampu menggerakan sektor lainnya. Bertambahnya jumlah hotel dan kamar, tentu membutuhkan pasokan bahan baku, makanan, minuman, buah-buahan, sayuran, bunga potong, dan kerajinan dalam jumlah besar.

Sementara hingga kini keterkaitan antara petani dan para pelaku usaha mikro di Lombok, dengan pihak perhotelan di NTB, khususnya di Kota Mataram masih terbilang sangat kecil.

Sebagian besar kebutuhan hotel Kota Mataram masih dipenuhi dari para pemasok besar yang mendatangkan produknya dari daerah luar NTB. Hal itu disebabkan karena para petani dan pelaku usaha mikro di Lombok belum memiliki akses kepada hotel di Kota Mataram.

Para petani dan pelaku usaha mikro lanjut Reza, belum memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk memenuhi kritera yang diajukan oleh hotel, yakni terkait dengan kontinyuitas pasokan, sistem pembayaran, spesifikasi produk dan sertfikasi halal.

BACA JUGA :  850 Kamar akan Dibangun di Mandalika Tahun Ini

Padahal kelayakan produk, khususnya untuk makanan dan minuman dari sektor pertanian untuk pariwisata sebagai sektor produktif, memiliki peluang dalam menciptakan tumbuhnya ekonomi inklusif bagi semua lapisan masyarakat di Lombok dan NTB.

Dikatakan, keterkaitan kedua sektor ini dapat membangun ketahanan ekonomi masyarakat desa dan menumbuhkan peluang penciptaan pendapatan dan lapangan kerja, dalam rangka mendukung pembangunan yang berkelanjutan.

Disamping itu, penguatan keterkaitan kedua sektor ini dapat membangun ketahanan ekonomi masyarakat desa. Sekaligus dapat menumbuhkan peciptaan pendapatan dan sektor pariwisata, serta pertanian berperan meminimalkan kebocoran dari impor  bahan baku, seperti bahan baku minuman untuk keperluan pariwisata di NTB.

Untuk mendukung peluang tersebut, SREGIP memfasilitasi penciptaan kerjsama dan model bisnis antara para pelaku di sektor pariwisata dan industri dengan petani, atau UMKM bersama Hotel Santika Mataram.

SREGIP memfasiltiasi kerjsama dengan Koperasi Sugih Engger Sesaot, terkait dengan penciptaan pasokan buah-buahan dan pengelolaan home stay. “Kerjasama tiga pihak ini difokuskan pada penguatan kapasitas pengurus koperasi, khususnya terkait aspek manajemen pasokan buah, dan membeli hasil panen buah dari petani melalui koperasi,” kata Reza.

Sementara itu, kerjasama dengan Bali Asli, SREGIP memfasilitasi model bisnis terkait penciptaan pasokan buah stroberi dari petani yag menjadi anggota Koperasi Wisatani Sembalun.

Bali Asli dalam hal ini melakukan alih pengetahuan kepada beberapa perwakilan koperasi mengenai teknik memanen, dan pengelolaan setelah panen, hingga pengemasan stroberi yang baik. Bali Asli juga berperan untuk membli stroberi hasil panen petani melaui koperasi wisatani Sembalun.

Bali Asli adalah perusahan pengolahan yang berdiri di Bali sejak tahun 1986, dan telah banyak memproduksi buah olahan dari berbagai buah. Selain itu produknya juga sudah masuk di berbagai supermarket.

Koperasi Sugih Enggar Sesaot sendiri telah berdiri sejak tahun 2010, dengan jumlah anggota 21 orang, dan potensi anggota sebanyak 398 orang. Koperasi ini merupakan koperasi tani HKm (hutan kemasyarakatan) yang dibentuk dengan tujuan menampung hasil produk Hkm. Sementara Koperasi Wisatani Sembalun, berdiir tahun 2015, dengan anggota 40 orang. (luk)