Masyarakatkan Membatik, Gandeng Pemuda Putus Sekolah

Banyaknya kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara ke Provinsi NTB, berdampak besar terhadap para perajin. Hal itu juga dirasakan oleh Samsir, salah satu perajin Batik Lukis Sasambo asal Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah.

_______________________________

LUKMANUL HAKIM – LOMBOK TENGAH

_______________________________

SAMSIR menjadi satu-satunya perintis perajin batik lukis Sasambo di Kabupaten Lombok Tengah, sejak pertamakali diluncurkan tahun 2010 silam. Bahkan produk batik lukis yang dihasilkan Samsir sudah ada jauh sebelum adanya nama batik Sasambo di NTB.

Berada di Desa Rembitan dan jalur utama menuju obyek destinasi wisata Pantai Kuta, Lombok Tengah, Samsir mulai merintis membuat batik lukis sejak tahun 1991. Ketika itu belum ada nama khusus batik Sasambo yang diambil dari tiga suku terbesar di Provinsi NTB, yakni Lombok (Sasak), Sumbawa (Samawa) dan Bima-Dompu (Mbojo), dan hanya mampu terjual di bawah sepuluh potong dalam sebulan.

Minimnya penjualan batik yang tentu saja berdampak terhadap isi kantong untuk dapur mengepul sehari-harinya, tak lantas membuat Samsir berputus asa, dan berhenti membuat batik lukis. Karena selain sebagai jalan untuk mencari rejeki, membatik juga dimanfaatkan sebagai ajang sosial dalam membangun dan membantu anak-anak di sekitar lingkungan rumahnya untuk diajarkan keterampilan membatik. Karena selain aktif menjadi perajin batik lukis, keseharian Samsir juga menjadi tenaga guru honorer bidang keterampilan membatik di SMPN 7 Pujut.

Meski saat itu tanpa ada dukungan dari pihak manapun, dengan hanya modal kemampuan melukis serta ketekunannya, bapak tiga orang anak inipun mendapatkan buah dari perjuangan selama puluhan tahun merintis usaha batik lukis di Desa Rembitan, Kabupaten Lombok Tengah.

Hasil kegigihan dan kerja kerasnya selama belasan tahun di bidang perbatikan di Lombok, berbuah manis. Selain mendapatkan keuntungan dari sisi materi, Samsir juga mendapatkan pengakuan yang luar biasa dari Dewan Batik Nasional. Pada tanggal 2 Oktober 2013, Samsir mendapatkan penghargaan dari Yayasan Batik Indonesia, melalui Ketua Umum Dewan Batik Indonesia, Ny Jultin Ginandjar Kartasasmita, sebagai pelopor batik Indonesia untuk Provinsi NTB.

Samsir mengatakan, angin segar produksi batik lokal di NTB baru mulai dirasakan ketika Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB mulai melaunching Batik Sasambo yang dipusatkan di SMK Negeri 5 Mataram, yang langsung dicanangkan oleh Wakil Gubernur NTB saat itu, H.Badrul Munir pada tahun 2010.

BACA JUGA :  Protes AMNT, Pemuda KSB Gelar Demo

Perlahan namun pasti, peminat batik Sasambo terus meningkat dari tahun ke tahun. “Alhamdulillah, permintaan batik Sasambo setiap bulannya sejak tahun 2010 silam terus meningkat,” terang Samsir.

Samsir pertamakali membuat batik hanya bermodalkan kemampuan melukis. Alumi Sekolah Seni Rupa dan Industri di Yogyakarta ini juga tidak pelit dengan ilmu yang dimilikinya. Secara sukarela, Samsir melatih remaja asal Desa Rembitan dan sekitarnya untuk belajar membatik. Bahkan para remaja yang sebagian besar putus sekolah dan ada juga aktif duduk dibangku sekolah ketika itu, kini sudah banyak yang membuka usaha produksi batik sendiri secara mandiri.

Kemampuan membatik yang dimiliki Samsir juga diajarkan pada anak didiknya di SMP Negeri 7 Penujak. Bahkan membatik dijadikan sebagai pelajaran muatan lokal (Mulok) di SMP Negeri 7 Penujak. Alhasil, salah seorang siswanya di SMP Negeri 7 Penujak berhasil meraih juara satu di tingkat Provinsi NTB untuk Desain Grafis Batik dan dipercaya mewakili Provinsi NTB di tingkat nasional  pada tahun 2011.

Kesuksesan Samsir dalam kerajinan batik diakui tak terlepas dari bimbingan dan pembinaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi NTB dan juga Kabupaten Lombok Tengah. Disperindag NTB secara intens terus memberikan pendampingan, bahkan memberikan bantuan peralatan serta bantuan dari program corporate social responsibility (CSR) dari PT NNT untuk membangun tempat kerja. “Saya juga mendapat bantuan dari warga negara Kanada untuk mengembangkan industri batik di Lombok,” tuturnya.

Saat ini, usaha Batik Sasambo milik Samsir melibatkan puluhan orang karyawan tetap untuk produksi batik setiap harinya. Hingga saat ini sudah ratusan motif batik yang berhasil di buat dengan dua jenis batik, yakni batik tulis dan batik cap.

Samsir berharap, kerajinan membatik, hendaknya terus digelorakan oleh pemerintah daerah baik Pemkab Lombok Tengah dan Provinsi NTB. Pasalnya, perkembangan pariwisata yang semakin pesat, bahkan dengan adanya pengembangan kawasan Mandalika Resort yang telah mulai membangun berbagai fasilitas pariwisata dan lainnya akan memiliki potensi besar untuk menumbuhkan perekonomian masyarakat di bagian selatan Lombok Tengah.

“Peluang ini hendaknya dibaca oleh pemangku kebijakan dengan mulai mempersiapkan SDM di bidang kerajinan dan keterampilan apa saja yang bisa mensejahterakan masyarakat di kawasan Selatan. Sehingga ketika pariwisata di daerah Selatan ini maju, masyarakat sekitar tidak menjadi penonton, tapi pelaku ekonomi itu sendiri,”  pungkasnya. (*)