Selama Pandemi, Bandara Rugi Rp 66 Miliar

Nugroho Jati (M.HAERUDDIN/RADAR LOMBOK)

PRAYA—Penyebaran virus corona atau pandemi Covid-19, telah membuat berbagai sektor menjadi terpuruk, tidak terkecuali transportasi udara. Dimana akibat dari sepinya penerbangan, membuat pihak Angkasa Pura I yang mengelola Bandara Internasional Lombok (BIL) selama tahun 2020 mengalami kerugian hingga Rp 66 miliar.

General Meneger (GM) Angkasa Pura I, Nugroho Jati menegaskan bahwa dalam pembukuan rugi bersih yang dilakukan tahun 2020, pihaknya mengaku mengalami kerugian Rp 66 miliar. Jumlah tersebut sangat jauh jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelum Covid-19. Meski memang tidak bisa dipungkiri pada tahun 2019 pihak Bandara juga masih belum untung.

“Memang tahun 2019 kita juga posisinya belum untung. Masih rugi meski tidak sebesar tahun 2020. Penyebabnya memang recoveri paska gempa, sehingga tingkat kunjungan juga belum tinggi,” ungkap Nugroho Jati, Selasa kemarin (19/1).

Namun pada tahun 2019 kondisi mulai membaik, khususnya tingkat kunjungan ke Lombok, dan itu berlanjut hingga bulan pertama dan ke dua tahun 2020. Bahkan kalau dibandingkan dengan Bandara lainnya, Bandara Lombok dapat dikatakan cukup bagus untuk pertumbuhan penumpang sebelum pandemi.

“Hanya saja pada Maret ketika di umumkan ada pandemi Covid-19 membuat terjadinya penurunan drastis. Bahkan saat itu tidak ada penumpang kecuali barang dan logistik alat kesehatan. Dan ini terjadi dari pertengan Maret kemudian April, dan puncaknya pada Mei, tidak ada pergerakan sama sekali,” terangnya.

Nugroho menegaskan, pada awal Juni memang sudah mulai ada pergerakan atau pertumbuhan. Hanya saja, pertumbuhannya tidak cukup signifikan dibandingkan pada situasi normal tahun-tahun sebelumnya. “Perbandingannya adalah 50 persen ditahun 2019 paska gempa, dan untuk tahun 2020 selama Covid-19 kita hanya mampu 20 persen dari normal di tahun sebelumnya. Hal inilah yang membuat kita mengalami kerugian Rp 66 miliar,” terangnya.

Disampaikan, setiap tahun pihak Bandara mengeluarkan biaya operasional yang tidak sedikit, baik yang sifatnya biaya operasional dan biaya variabel. Dimana untuk biaya variabel salah satunya biaya rutinitas penggunaan listerik dan air. Meski pihak bandara selama tahun 2020 sudah melakukan penghematan.

“Tapi untuk biaya tetap ini yang sulit sekali kita lakukan pengendaliannya. Karena tujuan utama dari biaya tetap ini lebih kepada keselamatan, keamanan dan kenyamanan pelayanan penerbangan itu sendiri. Jadi hanya biaya listerik, air dan biaya lain yang bisa kita lakukan penghematan, sesuai kebijakan corporat yang dilakukan oleh pihak Angkasa Pura I, dan juga dari Kementerian BUMN,” terangnya.

Berbagai program penghematan ini nampaknya akan berlanjut pada tahun 2021. Hanya saja pihaknya berharap agar program vaksinasi dari pemerintah bisa dapat disegerakan, lebih khusus di destinasi-destinasi pariwisata bisa mendapatkan kesempatan yang lebih diprioritaskan dalam mendukung percepatan pemulihan ekonomi. “Dengan adanya vaksinasi ini saya kira sangat bagus. Apalagi Presiden RI sudah mendapatkan vaksin dan patut menjadi keteladanan kita agar masyarakat tidak ragu,” terangnya.

Namun meskipun pihak Bandara mengalami kerugian yang cukup besar, tapi sampai saat ini pihaknya tidak sampai melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Kalaupun dirumahkan, itu hanya untuk beristirahat, dan porsinya sangat kecil dan lebih pada keseimbangan. Mengingat memang selama pandemi diwajibkan untuk menjaga kesehatan seluruh karyawan, dengan cara mengatur jam kerja.

“Supaya tidak mudah terserang virus. Karena alasan itu kita lakukan rolling untuk giliran terhadap para karyawan, yakni masuk sehari maka libur sehari, atau bekerja dirumah. Selain juga agar kapasitas di kantor tidak penuh,” terangnya. (met)