Sayang Harus Tumbang

Sayang Harus Tumbang
TUMBANG: Sprinter andalan Indonesia Lalu Muhammad Zohri gagal menyumbangkan juara pada saat berlaga di World Championships Doha,Qatar, sekitar pukul 23.45, Sabtu malam (27/9).(ist/radar lombok)

Penampilan Zohri Kedua Terbuntut

MATARAM – Indonesia terpaksa harus meneteskan air mata.  Sprinter andalan Lalu Muhammad Zohri tak mampu menyumbangkan juara pada World Championships Doha, Qatar, sekitar pukul 23.45, Sabtu malam (27/9). 

Zohri beradu pada lintasan nomor 2 paling pinggir. Kecapatannya saat latihan di lapangan Gelora Bung Karno (GBK) berbeda jauh dengan waktu rekornya kali ini. Waktu latihan di GBK, Zohri sukses memecah rekor dengan catatan waktu 9.36 detik (menggunakan hand time dan 9.45 detik menggunakan electric time.

   Di Doha, Zohri hanya mampu mencetak rekor dengan kecepatan 10.36 detik. Ia tertinggal jauh oleh para pesaingnya. Dalam Kejuaraan Dunia Atletik di Doha tadi malam, hanya mampu menduduki urutan ke-6.

Urutan pertama diraih sprinter asal USA, Christian Coleman dengan catatan waktu 9.98 detik. Kemudian urutan kedua disusul spriter asal Italia, Lamont Marcell Jacobs dengan catatan waktu 10.07 detik. Urutan ketiga ditempati spirinter asal Jepang, Abdul Hakim Sani Brown dengan catatan waktu 10.09 detik.

Baru kemudian urutan keempat pelari asal Brasil, Radrigo Do Nascimento dengan catatan waktu 10.25 detik. Urutan kelima pelari asal Barbados, Mario Burke dengan catatan waktu 10.31 detik. Disusul Indonesia, Lalu Muhammad Zohri dengan catatan waktu 10.36 detik. Baru kemudian disusul pelari asal Swiss, Alex Wilson dengan catatan waktu 10.36, dan terakhir pelari asal Vietnam, Ngan Ngoc Nghia yang tak ikut.

Padahal, penampilan Lalu Muhammad Zohri pada Kejuaraan Dunia Atletik di Doha, Qatar ini sangat ditunggu-tunggu. KONI NTB menyelenggarakan nonton bareng di Gedung Padepokan Pencak Silat, GOR 17 Desember. Sejumlah pejabat tampak ikut andil tak mau ketinggalan menyaksikan penampilan Zohri. Namun sayang, mereka harus menelan pahit kekecewaan atas penampilan Zohri. “Kami masih belum percaya atas hasil yang diraih Zohri. Gak tau apa penyebabnya,” kata Ketua Umum KONI NTB H Andy Hadianto dengan wajah lemas, Jumat (27/9).

Meski demikian, penampilan Zohri disebutnya harus tetap diapresiasi. Karena perjuangannya hingga tiba ke Doha, tentu tidaklah mudah didapat. Apalagi belakangan, ada catatan cidera yang dialami, sehingga bisa saja belas cedera yang sempat dialaminya itu masih dirasakan. Zohri yang berlaga bersama sprinter dunia seperti Christian Coleman USA, Jacobs Italia, Abdul Hakim Jepang, Rodrigo Brazil, Mario Burke, Alex Wilson, dan Ngan Ngoc Nghia. Semuanya merupakan sprinter terkenal dunia. Pengalaman mereka juga jauh lebih banyak, dibanding Zohri. “Kita tetap apresiasi penampilan anak kami. Kami tetap bangga sama Zohri,” lanjutnya.

Zohri saat ini, tentu bukanlah atlet yang asing di telinga masyarakat Indonesia. Pasalnya, prestasi yang ditoreh selama ini terbilang sangat jauh dari kata buruk. Bahkan beberapa orang mancanegara sudah pasti banyak yang mengenalnya.

Seperti diketahui, pemuda 18 tahun itu, di tahun ini terpantau dirinya sudah melesat dengan sejumlah prestasi. Bahkan tidak itu saja, beberapa rekor juga sukses digoreskan di tahun 2019.

Jika berkaca dari hal tersebut, target tembus Olimpiade Tokyo 2020 yang dibebankan kepadannya sangat terbuka peluangnya untuk dipenuhi. Apalagi kini dirinya juga tidak terlampau jauh peringkatnya di International Association of Athletics Federation (IAAF), dengan batas untuk masuk pagelaran olahraga akbar itu. “Kehebatan Zohri ini, dia langsung menang di ajang pertamanya pada tahun 2019,” kata Ketua Umum KONI NTB H Andy Hadianto di sela-sela nonton bareng penampilan Zohri di GOR 17 Desember, Jumat (27/9).

Pasca Asian Games bisa dikatakan, Malaysia Open Grand Prix 2019 pada bulan maret lalu adalah tournament internasional pertama yang dijajalnya. Meski terbilang pertama, rupanya pemuda 18 tahun ini langsung melesat hingga menyabet prestasi. Seperti di ketahui, penampilan epic-nya membuatnya menjadi nomor satu di ajang tersebut.

Ketika itu, pemuda asal KLU ini turun di nomor 100 meter putra, Sabtu (30/3/2019) lalu. Zohri saat itu berhasil menjadi tercepat dengan catatan waktu 10.20 detik. Torehan tersebut juga membuatnya menumbangkan atlet lari tuan rumah yaitu Zulfiqar Ismail, yang hanya mampu catatkan waktu lebih lambat 10.44 detik. Meski menang, tapi ia saat itu mengaku belum memenuhi target pribadi Zohri.

Tidak berhenti sampai disana, di ajang selanjutnya. Zohri rupanya menjadi orang pertama Indonesia raih perak setelah 34 tahun di Asian Athelics Championships. Ajang Asian Athletics Championships 2019 ini meeupakan tournament internasional ke dua Zohri di 2019. 

Turun di nomor 100 meter putra, pemenang kejuaraan dunia Finlandia pada bulan Juli 2018 silam ini, mampu tampil memukau dengan menyabet medali perak. Sekaligus menjadi sprinter pertama Indonesia mampu raih medali tersebut setelah 34 tahun. “Prestasi serta rekor Zohri terus meningkat setiap kali mengikuti turnament,” lanjutnya.

Kepala Dispora NTB Hj. Husnanidiaty Nurdin menyebut, bukan hanya itu saja, torehan positifnya di kejuaraan itu, juga membuatnya menjadi atlet pertama mampu meraih medali di ajang tersebut sejak 2009. Saat merengkuh gelar tadi, Zohri menorehakn waktu yang tergolong cepat yaitu 10.13 detik. Dan hebatnya lagi, hasil bagus itu diperoleh dengan catatan reactin time paling lambat di antara yang lain.

Selain capaian tadi, di tahun 2019 juga membuat pemuda ini sukses menjadi pemegang rekor nasional baru. Hal ini diperoleh setelah waktu larinya di Asian Athletics Championships 2019 berhasil memecahkan rekor milik Suryo Agung. Dari sejumlah data, Lalu Muhammad Zohri mengungguli catatan Suryo yang 10,17 detik dengan 10,13 detik. “Kalau kita lihat sejarahnya, ternyata rekor lari Suryo Agung tadi sudah bertahan dengan waktu yang lama. Bahkan kabarnya Suryo telah memegang rekor nasional itu selama 10 tahun,” bebernya saat menunggu penampilan Zohri.

Bahkan fantastisnya lagi, atlet yang pernah dibina PPLP NTB tersebut mampu memecahkan rekor tersebut sampai dua kali dalam sehari. Pertama dengan catatan 10,15 detik di babak semifinal dan di partai pamungkas dengan catatan waktu 10,13 detik.

Saat ini, usianya masih sangat muda, tentu capaian ini sangat terbuka peluangnya bisa tambah dahsyat lagi ke depan. Termasuk di laga Kejuaraan Dunia Atletik yang berlangsung di Doha. Namun, hal itu bisa dicapai kalau pemuda ini bisa menjaga dirinya dan terus bekerja keras. Besar harapan nantinya, dirinya dan atlet Indonesia mampu tembus kejuaraan olahraga akbar Olimpiade. “Bagi saya peluangnya sangat terbuka, bahkan di babak Kualifikasi malam ini pasti lolos,” pungkasnya.(rie)