Sadari Bahwa Orang Tua Memegang Peran Utama

Lizatul Hilmi, Mahasiswi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Mataram

Oleh Lizatul Hilmi, Mahasiswi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Mataram

Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam keluarga.

Pada umumnya pendidikan dalam rumah tangga itu bukan berpangkal tolak dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan mendidik, melainkan karena secara kodrati suasana dan strukturnya memberikan kemungkinan alami membangun situasi pendidikan. Situasi pendidikan itu terwujud berkat adanya pergaulan dan hubungan pengaruh-memengaruhi secara timbal balik antara orang tua dan anak. Dalam pendidikan Islam, merupakan amanah dari Allah SWT. Dengan demikian, semua orang tua berkewajiban untuk mendidik anaknya agar dapat menjadi insan yang soleh atau sholehah, berilmu, dan bertakwa.

Anak merupakan investasi unggul untuk melanjutkan kelestarian peradaban sebagai penerus bangsa, maka haruslah diperhatikan pendidikan dan hak-haknya. Orang tua memiliki tugas yang amat penting dalam menjaga dan memperhatikan hak-hak anak.

Menurut Islam bahwa  makhluk yang paling dicintai Allah adalah anak-anak. Dalam mendidik anak, orang tua harus dapat memahami perkembangan anak berdasarkan tahapan usia perkembangannya, sehingga diharapkan tidak ada kekeliruan dalam mengenali dan menyikapi mereka. Dengan demikian, proses mendidik pun dapat berjalan dengan lancar. Memahami tahapan usia perkembangan anak dapat membawa orang tua menghargai proses belajar anak.

Proses belajar adalah suatu proses yang dilakukan terus-menerus dari sebuah pengalaman yang akan membuat individu berubah, terutama anak perempuan. Anak perempuan adalah para calon ibu yang mana ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Seperti yang dikatakan dosen pembimbing saya pada mata kuliah konsep dasar-dasar pendidikan semester 1. Untuk mendapatkan anak yang baik, soleh, cerdas, dan kuat maka diperlukan seorang ibu yang memiliki karakter yang baik, soleh, cerdas, dan kuat pula.

Pendidikan dalam keluarga memiliki nilai strategis dalam pembentukan kepribadian anak. Sejak kecil anak sudah dapat pendidikan dari orang tuanya melalui keteladanan dan kebiasaan hidup sehari-hari dalam keluarga. Baik tidaknya keteladanan yang diberikan dan bagaimana kebiasaan hidup orang tua sehari-hari dalam keluarga akan memengaruhi perkembangan jiwa anak.

Keteladanan dan kebiasaan yang orang tua tampilkan dalam bersikap dan berperilaku tidak terlepas dari perhatian dan pengamatan anak. Peran orang tua adalah seperangkat tingkah laku orang tua ayah ibu dalam bekerja sama dan bertanggung jawab berdasarkan keturunannya sebagai tokoh panutan anak semenjak terbentuknya pembuahan atau zigot secara konsisten terhadap stimulus tertentu baik berupa bentuk tubuh maupun sikap moral dan spiritual serta emosional anak yang mandiri.

Adapun peranan orang tua dapat di bedakan menjadi dua macam yaitu orang tua berfungsi sebagai pendidik keluarga dan orang tua berfungsi sebagai pemeliharaan serta pelindung keluarga.

  1. Peran sebagai pendidik, orang tua perlu menanamkan kepada anak-anak arti penting pendidikan dan ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan dari sekolah. Selain itu nilai-nilai agama dan moral terutama nilai kejujuran perlu ditanamkan kepada anaknya sejak dini sebagai bekal dan benteng untuk menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi.
  2. Peran sebagai pendorong, sebagai anak yang sedang menghadapi masa peralihan, anak membutuhkan dorongan orang tua untuk menumbuhkan keberanian dan rasa percaya diri dalam menghadapi masalah.
  3. Peran sebagai panutan, orang tua perlu memberikan contoh dan teladan bagi anak, baik dalam berkata jujur maupun dalam menjalankan kehidupan sehari-hari dan bermasyarakat.
  4. Peran sebagai teman, menghadapi anak yang sedang menghadapi masa peralihan. Orang tua perlu lebih sabar dan mengerti tentang perubahan anak. Orang tua dapat menjadi informasi, teman bicara atau teman bertukar pikiran tentang kesulitan atau masalah anak, sehingga anak merasa nyaman dan terlindungi.
  5. Peran sebagai pengawas, kewajiban orang tua adalah melihat dan mengawasi sikap dan perilaku anak agar tidak keluar jauh dari jati dirinya, terutama dari pengaruh lingkungan baik dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
  6. Peran sebagai konselor, orang tua dapat memberikan gambaran dan pertimbangan nilai positif dan negatif sehingga anak mampu mengambil keputusan yang terbaik.
BACA JUGA :  Indahnya Ramadan di Kota Tarim

 

Berdasarkan uraian diatas maka maksud peran orang tua adalah pola tingkah laku dari ayah dan ibu berupa tanggung jawab untuk mendidik, mengasuh dan membimbing anak-anaknya untuk menncapai tahapan tertentu yang mengantarkan anak untuk siap hidup dalam kehidupan bermasyarakat dan lain-lain.

Adapun peran antara ibu dan ayah adalah sebagai berikut:

Peran Ibu

Kebanyakan dalam keluarga, ibulah yang memegang peranan yang terpenting terhadap anak-anaknya. Sejak anak itu dilahirkan, ibulah yang selalu di sampingnya. Ibulah yang memberi makan dan minum, memelihara dan bercampur gaul dengan anak-anak.

Itulah sebabnya kebanyakan anak lebih cinta kepada ibunya daripada anggota keluarga yang lainnya. Pendidikan seorang ibu terhadap anaknya merupakan pendidikan dasar yang tidak dapat diabaikan sama sekali. Maka dari itu, seorang ibu hendaklah seorang yang bijaksana dan pandai mendidik anak-anaknya. Sebagian orang mengatakan kaum ibu adalah pendidik bangsa. Nyatalah betapa berat tugas seorang ibu terhadap anaknya akan berpengaruh terhadap perkembangan dan watak anaknya di kemudian hari.

Seorang ibu dapat memberi teladan pendidikan yang baik kepada sang bayinya sejak dalam kandungan. Yakni dengan mengupayakan berpikir, berkata, berbuat yang cerdas, baik dan benar, memberi zat makanan yang halal dan memberi suasana yang indah.

Pendidikan sejak dalam kandungan yang dilakukan seorang ibu akan menjadi teladan awal sang ibu kepada bayi. Mendidik dengan cara memberi teladan akan lebih efektif daripada mendidik yang bersifat oral memerintah.

Setelah bayi lahir, peran ibu yang sangat penting adalah memberi air susu ibu (ASI). Dan menurut petunjuk Rasulullah SAW, sang ibu hendaknya menyusui bayinya minimal sampai 2 tahun. Di sinilah peran penting seorang ibu yang kodrati, yakni mengandung, melahirkan, dan  menyusui, suatu peran yang tidak dapat diganti oleh suami.

Dalam pendidikan, peran ibu lebih dahulu bermain daripada peran ayah, karena seorang ibu lebih dekat kepada anak, dan anak adalah bagian dari dirinya, serta emosi ibu kepada anak lebih kuat daripada emosi seorang ayah.

Allah SWT telah membekali seorang ibu dengan naluri keibuan yang tidak diberikan kepada laki-laki. Naluri ini secara fisik merupakan naluri yang paling kuat dari semua naluri fisik lainnya. Dalam dua tahun pertama memiliki pengaruh besar terhadap kepribadian seseorang. Di antara fenomena itu, bahwa bayi dapat mengenali ibunya dari baunya, kemudian mengenali suaranya. Sebagaimana pula bahwa bahasa ibu merupakan bahasa pertama yang diikuti anak.

BACA JUGA :  Pengasuhan dan Pendidikan di Masa Pandemi

Mayoritas emosi seorang anak pada tahun pertama berkaitan dengan dan terpusat pada ibu, atau orang yang menggantikan peran ibu tersebut. Kemudian sejak bulan keenam telah mulai terbentuk hubungan sosialnya dengan lingkungan sekitarnya, maka jelaslah pentingnya peran ibu bagi pendidikan anak.

Di samping itu, faktor keibuan akan mendorongnya untuk mengasihi dan menjaga anaknya, maka dapat kita simpulkan bahwa peranan ibu dalam pendidikan anak-anaknya adalah sebagai sumber dan pemberi rasa kasih sayang, pengasuh dan pemelihara, tempat mencurahkan isi hati, pengatur kehidupan dalam rumah tangga, pembimbing hubungan pribadi, dan pendidik dalam segi-segi emosionaL

Peran Ayah

Ayah sebagai pemimpin adalah panutan bagi anggota keluarga terutama anak-anaknya. Bagi anak yang berusia tiga tahun tumbuh pandangan bahwa ayahnya adalah manusia yang ideal yang akhirnya membawa kepada pemikiran seolah-olah ayahnya itu Tuhan.

Kedudukan ayah dalam pribadi anak sungguh mengagumkan sebagai seorang yang sempurna dan tidak akan mati. Anak memandang orang tua dengan khayalannya bukan atas dasar kenyataan yang ada dan ini merupakan pertumbuhan awal dari rasa agama bahwa kekaguman dan penghargaan terhadap ayahnya penting untuk membina jiwa, moral dan pikiran sampai usia lebih kurang lima tahun dan inilah yang akan menumbuhkan kepercayaan kepada Allah.

Sebagian ayah masih beranggapan bahwa mendidik anak-anak adalah tanggung jawab ibu saja, tidak ada kewajiban baginya kecuali menjamin kebutuhan materi bagi istri dan anak-anaknya. Sebenarnya, seorang ayah itu memiliki peraan dalam pendidikan anak yang secara sederhana dimulai sejak bulan kedua atau ketiga dari masa kelahiran anak.

Anak mulai mengenal suara ayahnya sejak tiga bulan pertama. Pada tahun kedua, seorang ayah dianjurkan untuk bermain dengan permainan sang anak, dan dengan cara-cara yang menggembirakan dan membuatnya puas. Kemudian anak telah mencapai usia empat tahun, sang ayah sebaiknya mengajak anaknya itu ke masjid atau ke pasar bersamanya atau menumbuhkan jiwa sosial yang baik, dan menanamkan nilai-nilai luhur pada anak.

Di samping ibu, seorang ayah pun memegang peranan yang penting pula. Anak memandang ayahnya sebagai orang yang tertinggi gengsinya atau prestasinya. Kegiatan seorang ayah terhadap pekerjaannya sehari-hari sungguh besar pengaruhnya kepada anak-anaknya, lebih-lebih anak yang telah agak besar.

Meskipun demikian, di beberapa keluarga masih dapat kita lihat kesalahan-kesalahan pendidikan yang diakibatkan oleh tindakan seorang ayah. Karena sibuknya mencari nafkah, si ayah tidak ada waktu untuk bergaul mendekati anak-anaknya.

Maka dapat saya simpulkan untuk orang tua, selain menjadi panutan bagi anak-anaknya juga sebaiknya selalu memperhatikan dan membimbing mereka. Sudah barang tentu orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendidik anak dengan penuh kesabaran dan kesungguhan, sehingga diharapkan mereka dapat menjadi anak yang beriman dan tanggung jawab kepada Allah SWT, serta berakhlak mulia.

 

Untuk anak, sebaiknya patuh berbakti kepada orang tua, karena semua orang tua tentu mengharapkan memiliki anak yang kelak bisa membanggakan kedua orang tuanya dan berguna bagi agama dan negara. (**)