PPKM Bikin Indeks Keyakinan Konsumen Anjlok

ILUSTRASI: IKK Juli 2021 menurun karena terdampak penerapan PPKM. (DEVI HANDAYANI / RADAR LOMBOK)

MATARAM – Survei Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) di NTB mengalami penurunan selama penerapan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Kota Mataram. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB mencatat IKK NTB pada Juli 2021 sebesar 79,83, lebih rendah dibandingkan dengan IKK pada bulan Juni 2021 sebesar 103,83.

Kepala Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi (APE) BI NTB Sarwoto menerangkan, pada bulan sebelumnya IKK memang lebih rendah dari Juli 2021.

Penurunan IKK pada Juli lalu disebabkan oleh turunnya kedua indeks pembentuknya, antara lain Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK). Hal ini dipicu oleh kebijakan pengetatan mobilitas untuk mengatasi peningkatan penyebaran varian delta Covid-19.

“PPKM berdampak pada pembatasan aktivitas ekonomi, seperti pembatasan jumlah pengunjung maupun jam operasional sebagian kegiatan usaha,” kata Sarwoto, Selasa (17/8).

BACA JUGA :  Peternak Lokal Belum Mampu Penuhi Kebutuhan Telur

Diterangkan Sarwoto, penurunan IKE utamanya dipengaruhi oleh penurunan penghasilan saat ini dibandingkan dengan 6 bulan yang lalu serta penurunan pengeluaran untuk pembelian barang tahan lama. Turunnya tingkat penghasilan dan pembelian barang tahan lama diduga disebabkan oleh kembali diberlakukannya PPKM pada Juli 2021 sehingga aktivitas ekonomi kembali terganggu. Namun ini dianggap masih sebagai fase penyesuaian terhadap kegiatan ekonomi masyarakat dan diharapkan bulan berikutnya akan lebih baik.

Lantaran terdampak dari PPKM tidak hanya mempengaruhi penuruan IKE. Hal tersebut juga berpengaruh terhadap upah tenaga kerja yang secara langsung memengaruhi daya beli masyarakat. Apalagi masih tingginya ketidakpastian berakhirnya pandemi berpengaruh kepada perubahan perilaku masyarakat untuk mengurangi konsumsi dan menggunakan pendapatan mereka untuk disimpan atau hemat.

“Penurunan IEK utamanya dipengaruhi oleh ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi Indonesia dan penghasilan untuk 6 bulan akan datang yang masih pesimis,” jelasnya.

BACA JUGA :  Insentif Pajak UMKM Diperpanjang Hingga Desember

Terpisah, Pengamat Ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram (Unram) Dr H Abdul Aziz Bagis mengatakan, dengan adanya kelonggaran dari PPKM diharapkan aktivitas semakin tinggi dan omzet penjualan semakin meningkat. Nantinya bisa berdampak pada daya beli masyarakat pulih secara bertahap.

“Kelonggaran dari PPKM sekarang ini bisa berdampak positif secara bertahap pada daya beli masyarakat. Meskipun sebelumnya karena membatasan, daya beli masyarakat turun,” ujarnya.

Sekarang ini karena ada kelonggaran aktivitas ekonomi masyarakat sudah mulai menggeliat, meskipun sebelumnya terganggu. Beberapa aktivitas produksi juga sudah mulai bergerak, pelayan dan penjualan juga meningkat.

“Selama ini daya beli masyarakat menurun, untuk meningkatkan itu perlu beberapa hal dilakukan, yakni rencana ekonomi produktif,” imbuhnya. (dev)