Polisi Selidiki Jaringan Bulgaria

MATARAM—Polisi mendalami kasus pembobolan mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dengan modus  pencurian data (Skimming)

paska menangkap Warga Negara Asing (WNA) asal Bulgaria bernama Yulee Stefanov, 51 tahun.

Yulee  membobol   mesin ATM Bank Mandiri di Gili Air pekan lalu. " Kita sedang mengembangkan kasus ini terkait dengan jaringan internasional khususnya kelompok Bulgaria sebagai negara asal pelaku," ujar Dirreskrimsus Polda NTB melalui Kasubdit II AKBP Darsono Setyo Adjie  Sabtu lalu (16/7).

Ia menyebut  indikasi kelompok Bulgaria ini memiliki jaringan yang lain. Darsono juga mengindikasikan ada tiga kasus serupa yang dilakukan oleh kelompok ini di Bali. Polda NTB disebutnya sudah berkoordinasi dengan Polda Bali terkait dengan hal ini. Koordinasi yang dilakukan juga bertujuan untuk memastikan modus maupun hal lainnya dari kasus yang ditangani oleh Polda Bali selama ini. " Waktu kita tangkap kemarin juga sudah kita koordinasikan karena di Bali ada beberapa kasus yang ditangani," sebutnya.

Selain itu, Polda NTB juga berkoordinasi dengan pihak Konsulat Jendral (Konjen) Bulgaria. Hal ini dipastikannya untuk meminta  kepada pihak Konjen Bulgaria terkait dengan catatan kejahatan pelaku. " Kita sudah meminta data terkait dengan catatan kejahatan pelaku ini. Kita tunggu saja hasilnya nanti," ungkapnya.

Sementara itu, Kapolres Lobar AKBP Winky Adityo Kusumo mengatakan kepolisian saat ini memang sedang mendalami jaringan internasional dari kelompok ini. Terlebih ada indikasi pelaku terhubung dengan kelompok dari Bulgaria sesuai dengan negara asalnya. Apalagi jaringan tersebut diindikasikan melakukan kasus seruap di Bali dan Jakarta. "Sedang kita dalami dengan jaringan internasional seperti Bulgaria. Tapi dia (pelaku, red) tidak ngaku. Nanti akan terus kita dalami," katanya.

Winky kemudian menyebut pelaku dari Bulgari ini berbeda dengan pelaku dari Turki yang beberapa waktu lalu diduga membobol ATM Bank CIMB dan ditangkap oleh petugas. Pelaku dari negara Bulgaria ini disebutnya memiliki alat yang lebih canggih.  " Jaringannya berbeda dengan yang Turki. Ini lebih canggih," jelasnya.

kasus dugaan pembobolan ATM dengan dengan skimming ini   modus baru di NTB walaupun didaerah lain atau kota besar seperti Jakarta sudah cukup sering terjadi. " Untuk di NTB modus seperti ini memang baru kalau dilihat dari kasusnya," ujar Darsono Setyo Adjie.

BACA JUGA :  Pemukulan Anggota Polantas Berakhir Damai

Sebagai antisipasi terjadinya kasus tersebut, Darsono mengimbau   pengguna ATM untuk lebih teliti dengan mengecek ada tidaknya keanehan di mesin ATM. Keanehan tersebut bisa dilihat melalui tampilan di ATM, antara lain, alat pencuri data (Skimmer) yang digunakan ini bentuknya menempel diatas panel keybord ATM. Kemudian, ada juga yang ditempelkan di mulut lubang ATM. " Bisa dicek dengan benar selain tampilan ATM yang tidak seperti biasanya. Karena itu pasti bisa terlihat dengan kasat mata perbedaannya," katanya.

Kemudian, ia juga meminta kepada masyarakat untuk tidak percaya kepada siapapun selain pihak yang berkompeten. Seperti umpamanya jika ATM tertelan di mesin ATM, maka masyarakat diminta Untuk menghubungui pihak bank dan petugas kepolisian. " Kalau ATM tertelan, segera melakukan komplain kepada  pihak bank untuk memblokir rekening. Itu langkah yang aman," ungkapnya.

Kemudian, bank juga disebutnya harus memperhatikan sisi keamanan dan kenyamanan pengguna ATM. Hal tersebut dapat dilakukan dengan melakukan kontrol mesin ATM yang sudah di pasang ditempat yang sudah ditentukan. " Kontrol terhadap mesin-mesin ATM harus tetap dilakukan untuk menghindari modus skimming ini," jelasnya.

Darsono menegaskan, jika kasus seperti ini terjadi dia meminta kepada  bank agar segera melapor kepada kepolisian terdekat. Bank diminta  jangan menangani sendiri. Akibatnya pelaku bisa kabur dengan cepat.  " Contohnya seperti yang di salah satu hotel di Gili Air itu. Coba dilaporkan pada saat pertama kali diketahui, hari itu juga sudah pasti ketangkap pelakunya," katanya.

Pihak bank juga menurutnya tentu harus bertanggung jawab terhadap permasalahan yang diderita akibat kejahatan ini. Karena kepercayaan nasabah harus diperhatikan oleh pihak bank. " Ya kalau nasabah dirugikan seperti ini tentu bank harus beratanggung jawab," katanya.(gal)