Polisi Antisipasi Kerumunan Massa Bau Nyale

ABSEN: Pemkab Lombok Tengah memastikan absen untuk pelaksanaan event bau nyale tahun 2021 ini. (M HAERUDDIN/RADAR LOMBOK)

PRAYA – Pemkab Lombok Tengah memastikan tidak ada pelaksanaan event bau nyale tahun 2021 ini. Agenda budaya tahunan ini sengaja absen karena pandemi Covid-19 yang masih mengancam. Ditakutkan, jika event ini tetap diselenggarakan maka akan berpotensi menimbulkan klaster baru karena kerumunan massa.

Penegasan ini disampaikan Bupati Lombok Tengah, HM Suhaili FT, tidak ada pelaksanaan event bau nyale tahun ini. Kesimpulan ini diambil s etelah melalui rapar koordinasi antara Pemkab Lombok Tengah dengan pihak terkait. ‘’Kecuali misalkan dilakukan oleh masyarakat sekitar lokasi di waktu Subuh. Kita intinya tidak ada kegiatan seremonial seperti malam hari tahun-tahun sebelumnya yang membuat kerumunan warga,’’ terang Bupati Suhaili, Senin (1/2).

Meski tidak ada bau nyale secara seremonila, Suhaili mengaku, akan tetap melakukan penjagaan. Pihaknya sudah berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk tetap berjaga mengantisipasi kerumunan massa. Jika ditemukan, maka sudah barang tentu akan dibubarkan. ‘’Kalau warga sekitar yang sekadar menangkap nyale, mungkin tidak masalah. Tapi persoalannya ini adalah orang yang datang menonton dan berkerumun,” tegas Suhaili.

Bupati dua periode ini tak menafikan bahwa tidak ada yang bisa menjaga kalau hanya menangkap nyale pada pagi hari oleh warga sekitar. Namun yang menjadi permasalahan dikhawatirkan banyaknya datang dari luar. Sehingga pihaknya juga sudah membuat surat edaran (SE) terkait tidak adanya event bau nyale yang sudah masuk menjadi event nasional ini. “Apalagi permasalahan Covid-19 ini meningkat terus, karena apa yang kita khawatirkan ternyata terjadi gelombang kedua. Makanya saya mengajak semua masyarakat agar menjaga kesehatan. Karena siapa lagi yang bisa menghalau dan mengantisipasi Covid-19 ini kalau bukan diri kita sendiri,” imbaunya.

Kapolres Lombok Tengah, AKBP Esty Setyo Nugroho menegaskan, pihaknya akan mempersiapkan anggota untuk pengamanan dan mengantisipasi terjadinya kerumunan saat puncak acara bau nyale pada 3-4 Maret berlangsung. Sesuai hasil rapat jajaran Forkopimda bahwa bau nyale ditiadakan khususnya kegiatan hiburan. “Tapi kita juga tetap melaksanakan pengamanan kegiatan, kalaupun ada yang melakukan setidaknya tidak di satu tempat. Intinya kita mengimbau kepada masyarakat angka penyebaran Covid-19 masih tinggi. Kita imbau kepada masyarakat untuk menyadari dan membantu pemerintah dengan cara tetap menjaga protokol kesehatan menggunakan masker,” timpal Esty.

Esty tidak bisa menafikan bahwa sekarang masyarakat lebih abai menerapkan protokol Covid-19 dari sebelumnya. Aparat sendiri sudah melakukan penindakan dan berencana melakukan swab secara random pada kerumunan massa. Tapi pihaknya tidak membeberkan kapan rencana swab ini. “Tapi yang jelas tahun ini sudah disepakati tidak ada bau nyale. Posisi pemda saat sangkep warige hanya sebagai tamu undangan. Karena sangkep warige ini bagian dari adat yang terus dilaksanakan. Tapi karena tidak semua yang datang untuk bau nyale, makanya pemda tidak mengizinkan terutama hiburan. Kalau ada kerumunan akan kita bubarkan,” terangnya.

Esty juga mengaku, tidak menutup kemungkinan nantinnya juga akan dilakukan penutupan akses masuk di lokasi yang sering menjadi tempat bau nyale. Pihaknya sudah mempersiapkan sekitar 600 personel untuk antisipasi kerumunan. “Yang 600 ini belum termasuk dari TNI dan pemda. Yang jelas larangan ini dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran virus Covid-19,” tegasnya. (met)