Perjuangan Amaq Fahri, Penjual Gula Gending Keliling dari Kampung ke Kampung

GULA GENDING
GULA GENDING: Amaq Fahri berjalan kaki keliling kampung berjualan sambil memainkan alat musik Gula Gendingnya. (Lukmanul Hakim/Radar Lombok)

Amaq  Fahri  tetap semangat di usianya yang sudah tua, berkeliling menjajakan   gula (permen tradisional) kepada anak-anak untuk membeli jualannya sambil memainkan alat musiknya. Sudah banyak tempat disinggahinya untuk berjualan.


LUKMANUL HAKIM – MATARAM


Amaq Fahri satu dari sedikit penjual manisan tradisional yang dikenal dengan sebutan Gula Gending yang masih bertahan. Profesi ini kini banyak ditinggalkan karena kalah bersaing dengan panganan lain yang dijajakan toko dan kios.

Gula Gending  begitu populer di era tahun 1980-an sampai 1990-an.  Gula Gending  sejenis gulali atau manisan yang dijual dalam wadah yang sekaligus berfungsi sebagai gendang yang dimainkan untuk menarik calon pembeli. Ada dua unsur sekaligus yang tertuang dalam Gula Gending ini, yakni unsur kesenian dalam wadah gendang dan juga unsur kuliner dalam gulali atau manisannya.

Wadah Gula Gending ini  sejenis  perkusi  dan memiliki bentuk setengah lingkaran. Wadah ini terbuat dari seng dengan 6 kantong kotak di sisinya, dan 2 lubang  tempat menaruh manisan Gula Gending yang akan dijual.  Pedagang  harus menggendong wadah sembari memukulnya sehingga menimbulkan irama yang enak didengar.  Alunan musik Gula Gending juga bisa dikombinasikan dengan berbagai  lirik lagu. Misalnya, lagu-lagu Sasak, dangdut dan lainnya.

Sementara manisan yang dijual dibuat dari adonan tepung terigu, gula, dan air yang digoreng dalam minyak panas. Cara membuat Gula Gending tergolong mudah, adonan harus selalu diaduk selama setengah jam. Selanjutnya, ketika adonan matang langsung diangkat dan diletakkan di atas lempengan aluminium. Adonan lalu  ditarik-tarik kemudian ditaburkan tepung, hingga menjadi serabut. Untuk lebih tampak menarik adonan dicampur pewarna roti. Namun kini pembeli gula gending ini terus berkurang.

Pedagang yang masih bertahan harus bekerja keras dan  butuh perjuangan berat. Setiap hari , Amaq Fahri berjalan kaki puluhan kilometer dari kampung ke kampung di wilayah Kota Mataram hingga Kabupaten Lombok Barat.   Amaq Fahri meninggalkan kampung halamannya  di Desa Kembang Kerang Daya, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur. Di desa ini, banyak pedagang Gula Gending yang masih bertahan, salah satunya Amaq Fahri.

Usia tua, bukan halangan bagi Amaq Fahri untuk keliling berjualan untuk mencari nafkah. Justru dari kerja kerasnya setiap hari itu, digunakan untuk membiayai anaknya mengenyam pendidikan di madrasah di kampung halamannya.

Setiap harinya, Amaq Fahri mulai berangkat berjualan  pada pukul 07.00 Wita. Sejak pagi, dirinya berjalan menyusuri jalan perkampungan yang ada di Kota Mataram. Sambil memainkan alat musik   yang terdengar merdu dan khas menarik perhatian dari anak-anak yang sedang bermain ataupun berada dalam rumah langsung keluar menyapa Amaq  Fahri untuk kemudian membeli Gula Gending tersebut.

Harga yang ditawarkan setiap satu bungkus Gula Gending yang dibungkus dengan kertas buku tulis bekas/koran ini tidak ada batasan minimal. Pembelian tergantung keinginan dari pembeli, bisa dari Rp 500 dan Rp 1.000.  “Dalam sehari kalau rameai saya dapat jualan ratusan ribu,” tutur Amaq Fahri. Namun tidak setiap hari, Amaq Fahri beruntung pembelinya banyak. Lebih sering, dia malah sepi pembali.

Amaq Fahri tetap bertahan. Dia  merasa memiliki tanggungjawab terhadap anaknya yang paling bungsu masih duduk di bangku Madarasah Aliyah dan juga istrinya yang selalu setia menunggu di kampung halaman yakni di Gubuk Karang Dalam, Kembang Kerang. “Meski usia saya sudah tua begini, saya tidak mau berharap sama anak-anak. Karena mereka punya tanggungan juga istri dan anak mereka,” ungkapnya.  Setiap bulannya, uang yang berhasil dikumpulkan  Amaq Fahri dibawa pulang kampung diberikan kepada istrinya serta biaya pendidikan anaknya.

Amaq Fahri dengan semangat menuturkan bahwa ia mulai jualan Gula Gending ketika usianya masih 23 tahun. Setelah mendapatkan anak tiga, barulah dia  merantau ke sejumah daerah di Pulau  Kalimantan dan Pulau Sulawesi untuk berjualan Gula Gending.  Tak hanya di  Kalimantan dan Pulau Sulawesi, dia  juga membawa alat musik Gula Gendingnya hingga ke  Batam. “Sekitar 6 bulan lalu saya pulang dari Batam jualan Gula Gending. Sekarang sudah menetap saja jualannya di Mataram karena usia sudah tua begini” ucapnya sambil tersenyum.

Di Mataram Amaq Fahri bersama sembilan orang rekan seperjuangannya tinggal di rumah kontrakan dengan  sewa per tahunnya Rp 1,5 juta. Amaq Fahri bersama teman seperjuangannya menyewa satu rumah yang berlokasi di wilayah Cakranegara. Di rumah kontrakan itu pula dia bersama rekan lainnya membuat gula gending setiap malamnya  untuk kemudian dijual dari pagi hingga sore hari.(*)