Pengalaman Paskibraka Asal Ntb Saat Bertugas Di Istana Negara (Bagian 2)

Sempat Deg-degan, Angin Kencang Menjadi Tantangan

Pengalaman Paskibraka Asal Ntb Saat Bertugas Di Istana Negara
PRESTASI: Fina Widianingrum bersama orangtuanya saat tiba di kantor Dispora NTB Jumat lalu (25/8) usai bertugas di Istana Negara. (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

Siswi kelas 2 SMAN 1 Aikmel, Fina Widianingrum tergabung dalam tim merah yang bertugas melakukan penurunan bendera pada 17 Agustus lalu di Istana Negara. Pengalaman tersebut diharapkan bisa membantu dalam mewujudkan cita-citanya.


AZWAR ZAMHURI – MATARAM


Fina Widianingrum yang masih mengenakan pakaian Pasukan pengibar bendera (Paskibraka) saat bertemu Radar Lombok, sekembali dari Jakarta, Jumat lalu (25/8). Gadis kelahiran 30 September 2001 ini dalam  kondisi tidak fit saat tiba di NTB.   Tenggorokannya belum stabil akibat latihan keras untuk mensukseskan peringatan 17 Agustus di Istana Negara. Suaranya  parau.

Pelajar yang akrab disapa Fina ini tidak akan melupakan pengalamannya menjadi Paskibraka di Istana Negara. Banyak kenangan yang masih membuncah di kepalanya. Apalagi, suasana kekeluargaan dan keharmonisan meski awalnya tidak saling mengenal.

Tugas menurunkan bendera merah putih juga masih jelas dalam benaknya. Persiapan yang begitu matang, latihan tidak mengenal lelah dan selalu semangat untuk mempersembahkan hasil terbaik. “Jadwal kita sangat padat, dari pagi hingga sore. Malamnya juga ada lagi jadwal,” ungkapnya.

Hari Kamis tiba (17/8), paginya barulah diumumkan siapa yang bertugas mengibarkan bendera dan menurunkan bendera pada sore harinya. Fina sendiri tentu sudah siap jika ditugaskan untuk pagi maupun sore.

Saling mendukung menjadi ruh Paskibraka. Petugas sore tetap membantu yang bertugas pagi hari. Tujuannya demi kesuksesan pengibaran bendera. “Tapi kita yang sorenya, sempat deg-degan merasa khawatir. Soalnya waktu itu angin cukup kencang,” kata alumni SDN 1 dan SMPN 1 Aikmel ini.

Pada Kamis sore, angin bertiup cukup kencang di Istana negara. Hal itu tidak bisa dianggap remeh. Angin akan memberi pengaruh untuk setiap pengibaran dan penurunan bendera. “Berkat latihan yang keras, kita bisa atasi angin waktu itu. Kita sangat hati-hati juga, jangan sampai ada kekeliruan atau kekompakan terganggu karena angin,” kenangnya.

Berbeda dengan Agus Putra Pratama Yudha, yang tidak pernah membayangkan bisa masuk Paskibraka nasional. Fina justru telah memimpikan sejak lama dirinya bisa menjadi Paskibraka nasional. “Dari kecil lihat di televisi, keren aja kakak-kakak yang langkahnya sama menjadi petugas pengibar bendera di hadapan Presiden. Kalau saya udah gede pengen deh masuk Paskibraka, dan alhamdulillah itu tercapai,” tuturnya.

Tidak mudah bisa mewujudkan cita-cita masa kecilnya itu. Fina harus bersaing dengan ratusan orang dari seluruh kabupaten/kota di NTB. Apalagi, dari SMAN 1 Aikmel saja ada 12 orang dikirim untuk mengikuti seleksi tingkat kabupaten.

Mimpi masa kecilnya mulai terlihat ketika Fina berhasil masuk 20 besar dari 480 orang yang diseleksi oleh Pemerintah Kabupaten Lombok Timur. “Setelah seleksi fisik, psikis dan juga kesehatan, kami 4 orang dikirim ke provinsi untuk diseleksi lagi. Dan saya ternyata terpilih sebagai Paskibraka putri yang akan mewakili NTB di tingkat nasional,” ucap alumni SDN 1 dan SMPN 1 Aikmel ini.

Fina dan Agus memang berbeda. Jika Agus akrab dengan Paskibraka sejak kecil, Fina justru mengenal semua itu ketika masuk di SMAN 1 Aikmel. Namun karena postur tubuhnya yang tinggi dan cekatan dalam Peraturan Baris Berbaris (PBB), tahun 2016 lalu Fina sempat dipercaya menjadi pengibar bendera 17 Agustus tingkat kecamatan.

Kecintaannya pada Paskibraka semakin kuat setelah Fina menjadi perwakilan NTB tahun ini. Ia bahkan ingin tetap aktif melalui Purna Paskibraka Indonesia (PPI). “Saya ingin lebih aktif lagi, karena Paskibraka itu tidak mengajarkan kita hanya tentang PBB atau senyum terus saat bertugas. Tapi juga mendidik kita, membentuk kepribadian yang sopan-santun dan beretika,” katanya.

Tugas menjadi Paskibraka di Istana Merdeka telah dilaksanakan Fina dengan baik. Mimpi masa kecilnya terwujud dengan manis setelah orang nomor satu di Indonesia, Presiden RI Joko Widodo puas atas hasil kerja Paskibraka.

Kini, mimpi yang sesungguhnya harus diraih juga. Fina tidak ingin menjadi seorang guru seperti ayahnya Ambarrodi. Gadis cantik ini juga enggan mengikuti pilihan hidup ibunya, Wiwik Suprihatin yang menjadi ibu rumah tangga.

Mimpi yang ingin diwujudkan begitu tinggi.  Fina bercita-cita menjadi Panglima TNI atau Kapolri. “Tidak mau Fina jadi guru, cita-citanya sih ingin jadi Kapolri. Atau bergabung dengan prajurit angkatan udara dan berkarier sampai menjadi panglima TNI,” ujarnya di hadapan kedua orangtuanya.

Alasan Fina menolak menjadi guru, bukan karena nilai akademiknya rata-rata. Meski beberapa waktu lalu hanya menjadi juara 11 di kelasnya, Fina telah bertekad untuk menggapai mimpinya itu. “Saya ingin mengabdi pada negara, ingin membela negara. Makanya mau masuk Akmil atau Akpol,” sebutnya.

Dengan pencapaian menjadi Paskibraka nasional, Fina tidak ingin hanya berhenti sampai disitu. Melalui Paskibraka yang digelutinya, ia berharap lebih mudah untuk menjemput mimpinya. Apalagi ayah dan bundanya telah memberikan dukungan penuh.

Sembari menunggu waktu itu tiba, Fina harus kembali menjadi pelajar di SMAN 1 Aikmel. Dan, menggeluti kembali hobinya yang selalu dirindukan. “Saya hobi kriya, senang aja kalau karya kita bisa bermanfaat bagi orang lain,” ucapnya.

Hobi unik tersebut memang sejak lama telah digelutinya. Fina bahkan berhasil menjadi juara II tingkat provinsi tahun 2017 ini. Salah satu karyanya yang cukup membanggakan, membuat lampu dari batok kelapa dan pipa. Barang yang sebelumnya dianggap sampah oleh orang, Fina bisa menyulapnya menjadi sesuatu yang memiliki nilai jual. (*)