Sempat Berjaya, Kini Sepi Pembeli

PERAJIN: Salah satu perajin anyaman bambu di Desa Loyok, Inaq Hadijah ketika sedang menganyam tas yang berasal dari bahan baku bambu (IRWAN/RADAR LOMBOK)

Kerajinan tangan anyaman bambu seperti telah melekat bagi sebagian besar warga Desa Loyok, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur (Lotim). Hanya saja, meskipun dahulu sempat berjaya sebentar, namun kini telah memudar.


JANWARI IRWAN – LOTIM


PERAJIN anyaman bambu di Desa Loyok, beberapa tahun belakangan ini seperti kesulitan memasarkan produk kerajinannya. Itu terjadi, setelah berbagai kebutuhan rumah tangga seperti wadah, tampah, dan bakul yang terbuat dari plastik semakin banyak di pasaran. Sehingga membuat pangsa pasar kerajinan dari bambu ini kian dilupakan masyarakat.

Salah satu perajin, Inaq Hadijah (60), yang sehari-hari membuat wadah besar seperti tas bambu ini menuturkan, dahulu dalam sehari dia bisa menjual hingga 5 tas dirumahya. Bahkan banyak juga pedagang keliling yang mengambil langsung kerumahnya, untuk kemudian dijajakan kembali keliling kampung di sekitar Lombok Timur hingga Lombok Tengah.

[postingan number=3 tag=”features”]

“Sekarang tidak seramai dulu. Bisa menjual dua tampah saja sehari itu sudah untung,” kata Hadijah, sambil tangannya tak henti menganyam tas bambu, dengan didampingi anaknya, Minggu (16/4).

Dirumahnya, Inaq Hadijah juga menampung berbagai produk kerajinan bambu yang telah dibuatnya sejak beberapa bulan lalu. Produknya macam-macam, mulai dari bakul, tempayan, kipas bambu, caping petani, sampai tusuk sate dan tas yang harganya beragam. ”Kalau masalah harga sesuai besarnya barang. Anyaman juga bisa kita buat sesuai pesanan,” terangnya.

Disampaikan, aktivitas sebagai perajin itu telah dilakoninya selama lebih dari 60  tahun. Rata-rata warga desanya bekerja sebagai perajin bambu, meneruskan usaha orangtua mereka yang didapatkannya secara turun-temurun. ”Saya tidak tahu kapan warga Desa Loyok mulai membuat anyaman bambu. Yang jelas umur saya sudah lebih 60 tahun,” terangnya.

Persoalan bahan baku bambu yang kian langka tuturnya, juga membuat usaha kerajinan bambu ini tidak seramai seperti dahulu. Sekarang bambu dibeli dengan harga Rp 20 ribu per meter, membuatnya kesulitan mendapatkan bahan baku anyaman.

Umumnya, usaha kerajinan ini dijalankan secara mandiri di rumah-rumah setiap warga. Sebagian besar yang terlibat adalah kaum perempuan, yang berupaya memperoleh uang untuk menambah penghasilan keluarga. “Menganyam bambu yang kita kerjakan saat ini merupakan pekerjaan sampingan, pada saat kita sedang berda dirumah dan tidak ada pekerjaan disawah. Sekaligus ketika sedang kumpul sama tetangga,” terangnya.

Menurutnya, di era tahun 90-an kerajinan bambu Desa Loyok ini rata-rata dijual ke Pasar Jelojok, Lombok Tengah. Bahkan kerajinan anyaman bambu ini juga tersebar hingga pasar-pasar seluruh Lombok. “Tapi sekarang, produk anyaman bambu saya ini hanya dijual ke pengepul yang ada di Desa Loyok saja. Selanjutnya pengepul yang kemudian menjualnya kembali ke pasar-pasar di Lombok, bahkan  hingga ke Pulau Bali dan Jawa,” ujar Hadijah.

Sementara perajin lainnya, Inaq Husnul Hotimah mengatakan, kerajinan anyaman bambu yang dia buat biasanya akan laris pada bulan Agustus. Dimana pada bulan itu merupakan bulan para wisatawan, baik wisatawan asing maupun lokal berkunjung ke wilayah wisata Tete Batu. Dimana para pengunjung akan melintasi Desa Loyok.

Namun kini karena sepi, dia membuat kerajinan anyaman bambu seperti tas, apabila ada pesanan dari pembeli yang sengaja datang ke Loyok. ”Dalam sebulan, kadang-kadang dua atau tiga orang saja yang datang memesan tas dan barang lainnya. Kalau sudah ada pesanan, baru kita membuat sesuai pesanan,” akunya.

Kini dia dan para perajin anyaman bambu lainnya di Desa Loyok hanya bisa berharap pada pemerintah mencarikan jalan keluar untuk pemasaran maupun promosi, sehingga Desa Loyok dapat kembali ramai dikunjungi wisatawan. Selain itu, pihaknya juga berharap bantuan Pemerintah Desa Loyok, memberikan peralatan seperti parang, pisau, gergaji, dan lainnya.

Tak  hanya itu sambungnya, agar kerajinan anyaman bambu ini bisa terus berkembang, dia juga minta anak-anak yang ada di Desa Loyok diberikan pelajaran menganyam bambu.

“Karena ini merupakan ilmu warisan leluhur, semua masyarakat Desa Loyok, baik laki-laki, perempuan, tua muda, termasuk anak-anak kecil yang masih duduk di bangku sekolah dasar, sudah sepatutnya menguasai keahlian anyaman bambu ini. Sehingga tak heran kalau anak-anak kecil di Desa Loyok sudah pandai menganyam bambu,” pungkas Husnul. (*)