Penelitian KPJU Unggulan UMKM Bisa Jadi Acuan Pembangunan Daerah

BI NTB Diseminasi Hasil Kajian KPJU Unggulan UMKM

DESIMINASI
DISEMINASI : Kepala Perwakilan BI NTB Heru Saptaji bersama peserta diseminasi hasil kajian KPJU Unggulan UMKM NTB secara virtual, Kamis (24/2).

MATARAM – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB melaksanakan kegiatan diseminasi hasil kajian Komoditas/Produk/Jenis Usaha (KPJU) Unggulan UMKM Provinsi Nusa Tenggara Barat secara virtual, Kamis (24/2). Hadir dalam kegiatan desiminasi hasil kajian KPJU Unggulan UMKM NTB tersebut, Sekda se-Provinsi NTB bersama dengan OPD terkait di seluruh Provinsi NTB. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan diskusi panel dengan tema “Mendorong Pemulihan Ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Barat melalui Pengembangan Sektor UMKM Unggulan Daerah”.

Kepala Perwakilan BI NTB Heru Saptaji mengatakan penelitian KPJU dilaksanakan bekerja sama dengan Yayasan Berka Semi Strategika Bogor. Penelitian ini juga merupakan salah satu bentuk peran Bank Indonesia dalam rangka memberikan advisori bagi pemerintah daerah.

“Penelitian ini bertujuan untuk memahami profil daerah, kebijakan pemerintah dan perbankan dalam pengembangan UMKM,” kata Heru Saptaji.

Selain itu, lanjut Heru, dalam pelaksanaan diseminasi hasil kajian KPJU itu juga memetakan tentang komoditas/produk/jenis usaha unggulan daerah yang perlu menjadi prioritas untuk dikembangkan, serta memberikan rekomendasi kebijakan kepada pemerintah daerah di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi dalam pengembangan KPJU unggulan UMKM.

BACA JUGA :  BI Perluas Akses Penukaran UPK75 Secara Kolektif di Perbankan

“Hasil diseminasi ini juga dijadikan rekomendasi kepada pemerintah daerah untuk menjadi acuan untuk dikembangkan dalam pengembangan UMKM,” kata Heru.

Sekda NTB H Lalu Gita Ariadi menyampaikan apresiasinya atas penelitian KPJU unggulan yang dilaksanakan oleh Kantor Perwakilan BI NTB bekerja sama dengan Yayasan Berka Semi Strategika.

“Hasil penelitian KPJU unggulan ini bisa dimanfaatkan oleh seluruh Pemda di Provinsi NTB sebagai basis dalam menyusun dan melaksanakan kebijakan pengembangan UMKM di daerah,” kata Gita Ariadi.

Karebet Widjajakusuma, peneliti dari Yayasan Berka Semi Strategika memaparkan bahwa terdapat sepuluh KPJU Unggulan di NTB, yaitu padi, jagung, tenun, warung makan (campur), penjualan hasil pertanian, kopi bubuk, toko kelontong, ikan bandeng, udang vaname, dan kue tradisinal.

“Sepuluh KPJU Unggulan di tingkat provinsi NTB ini dihasilkan dari penilaian kembali terhadap KPJU Unggulan di tingkat kabupaten/kota di seluruh NTB,” kata Karebet.

Mengawali diskusi panel. Heru Saptaji memberikan penjelasan bahwa konteks dari pengembangan UMKM yang dilakukan BI di daerah, dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu pertama melihat eksisting potensial yang memang ada di suatu wilayah salah satunya melalui penelitian KPJU unggulan ini.  Kedua yaitu melalui pendekatan hilirisasi value chain, yaitu ketika pasarnya terbuka maka sasaran program pengembangan akan dimulai dari sisi hulunya.

BACA JUGA :  BI NTB Siapkan Rp3,6 Triliun Kebutuhan Penukaran Uang

“Sebagai contoh program NTB genjot ekspor bekerja sama dengan berbagai stakeholders terkait yaitu pemerintah daerah, aggregator/eksportir, atase perdagangan dan lain-lain untuk memunculkan produk potensial yang belum muncul ke permukaan, misalnya produk vanili, sarang burung walet, lobster, dan produk ekspor lainnya,” kata Heru.

Sementara itu, Kepala Bappeda NTB Dr H Iswandi sepakat bahwa penelitian KPJU ini penting sebagai acuan daerah, sehingga pelaksanaan pengembangan komoditas unggulan di daerah tidak mulai dari nol. Namun demikian, perlu ada kebijakan daerah yang mendukung implementasi pengembangan komoditas hasil penelitian KPJU.

“Kebijakan tersebut perlu dibangun berdasarkan 4 aspek penting, yaitu pengembangan produk, pengembangan SDM, pengembangan industri UMKM, dan pengembangan kawasan,” pungkasnya. (luk)