Pembangunan Tambatan Perahu di Pantai Pink Dihentikan Sementara

Pembangunan Tambatan Perahu di Pantai Pink Dihentikan Sementara
DIHENTIKAN SEMENTARA:Pembangunan tambatan perahu di pantai Pink ini dihentikan sementara waktu. Sejak beberapa hari belakangan ini, tidak ada aktivitas pembangunan. (Janwari Irwan/Radar Lombok)

SELONG—Paska mendapat penolakan dari sejumlah warga baik dari Desa Tanjung Luar maupun Desa Jerowaru, pembangunan tambatan perahu di pantai Pink, Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru untuk sementara dihentikan.

“Setelah saya cek bersama teman-teman, pembangunan tambatan perahu itu sudah dihentikan. Dan kalau itu dilanjutkan, berarti Dinas Pariwisata tidak paham akan pariwisata, membangun tambatan perahu di pantai seindah itu,” kata Lalu Junaidi, selaku pemerhati wisata, sekaligus Ketua Gumi Paer Lombok, Kamis kemarin (14/12).

Dikatakan,  pembangunan tambatan perahu seharusnya  dibangun berdasarkan kajian yang mendalam oleh pemerintah. Namun kenyataannya, pantai Pink yang panjang pantainya hanya sekitar 200 meter, maka keindahanya itu akan terasa pudar, paska tambatan perahu dibangun. Jika dilanjutkan, nantinya justeru bukan pengunjung yang akan tertarik mendatangi pantai pink yang sudah terkenal di dunia ini. Namun yang datang adalah para nelayan, yang hendak menjadikan tembatan perahu ini sebagai lokasi mancing. ‘’Yang namanya tembatan atau dermaga biasanya digunakan sebagai tempat mancing, yang tentunya akan membawa bekal dan sampah yang akan dibuang di pantai, dan membuat pantai menjadi jorok,” katanya.

BACA JUGA :  Tarif Pantai Pink Mahal, Dewan Anggap Memalukan

Selain sebagai tempat nelayan mancing, biasanya tambatan perahu juga akan digunakan sebagai tempat penjualan ikan. ”Bisa juga tambatan ini akan dirubah menjadi Tempat Penjualan Ikan (TPI). Kenapa saya katakan begini. Karena siapa yang berani menegur, kalau nantinya tambatan ini digunakan oleh masyarakat,” katanya.

Kalau pemerintah tetap ingin melanjutkan pembangunan tambatan perahu, sebaiknya melakukan kajian terlebih dahulu. Karena menurutnya, pemerintah membangun secara asal-asalan tanpa melakukan kajian mendalam, terhadap apa dampak dari pembangunan tambatan perahu yang jelas-jelas merusak keindahan alam pantai ini. “Silahkan bangun. Tapi bangun di pinggir tebing atau di tempat lain yang tentunya tidak berada di area pantai yang panjangnya hanya beberapa meter saja ini,” katanya.

Dia menyarankan agar dinas agar bertanya kepada para pelaku wisata sebelum membangun tambatan perahu ini. Pasti akan dijawab kalau dengan keberadaan tambatan ini akan mendapat kerugian yang banyak dari pariwisata.

BACA JUGA :  Polemik Proyek Tambatan Perahu Pantai Pink, Wagub akan Panggil Faozal

Sementara Ketua Pokdarwis Desa Tanjung Luar, Daeng Acuk menegaskan bahwa pembangunan tambatan perahu tidak boleh dilanjutkan. Karena menurutnya, dengan adanya tambatan perahu ini pemandangan pantai Pink menjadi rusak. ”Kenapa saya katakan rusak, para wisatawan biasanya mengambil foto dari atas tebing, agar pantai yang indah bisa tampak semakin bagus,” terangnya.

Dengan adanya tambatan perahu ini sebutnya, akan banyak kapal yang bersandar di dekat tambatan perahu. Sehingga pantai yang dulunya indah dengan koral dan alam bawah lautnya, tidak akan dilihat oleh wisatawan, lantaran deretan kapal yang nyandar. ”Kalau nantinya kapal ini kita minta untuk pindah, tentunya akan terjadi masalah. Sehingga saya sarankan untuk pembangunan tambatan perahu di pantai yang di sebelah tebing,” pungkasnya. (cr-wan)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid