Pedagang Pasar Montong Beter Menolak Direlokasi

Pasar Montong Beter
PASAR MONTONG BETER: Tampak bangunan Pasar Montong Beter yang meskipun telah jadi, namun para pedagang menolak di relokasi ke pasar baru karena dinilai tidak layak, dan terlalu sempit. (JANWARI IRWAN/RADAR LOMBOK)

SELONG — Pedagang Pasar Montong Beter, Kecamatan Sakra Barat, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), menolak di relokasi ke pasar baru yang di bangun awal tahun 2018 lalu. Alasanya, pasar baru itu sempit, sehingga pedagang tak bisa menempatkan barangnya.

Sementara sebelumnya di pasar lama tempatnya luas, dan barang-barang pedagang banyak yang bisa terpajang. “Kalau pasar barunya seperti ini, sama artinya membuat pedagang menderita. Ini tidak sesuai dengan keinginan pedagang,” papar Kartinem, salah satu pedagang, Minggu kemarin (25/3).

Dikatakan, sebelum melakukan renovasi, pemerintah berjanji akan membuatkan pasar sesuai dengan keinginan masyarakat. Namun setelah pasar baru ini jadi, pasar yang dibangun dengan anggaran miliaran rupiah itu ternyata tidak bisa menampung para pedagang yang dulunya merasa aman dalam berdagang. “Yang kita sesalkan, kenapa pasar yang dibangun dengan uang masyarakat, tapi tidak menampung pedagang sesuai dengan keinginan masyarakat,” kesalnya.

Melihat pembangunan pasar baru ini, mulai dari bentuknya, luas dan sebagainya, semua pedagang di pasar lama menolak untuk pindah. Karena bentuk bangunan tidak sesuai dengan keinginan masyarakat. ”Masak pedagang yang mau jualan sayur, lapaknya dibuatkan seperti tempat mau jualan daging,” keluhnya.

Menurutnya, pasar baru ini lebih buruk dibandikan pasar yang lama, mulai dari perancangan yang tidak sesuai, dan bentuk serta ukuran pasar yang tidak bisa menampung para pedagang. ”Bisa dilihat Ruko-nya. Masak Ruko yang dulu begitu luas, sekarang hanya berukuran 3 kali 3 meter. Ini kan keterlaluan. Untuk pajang etalase saja tidak muat,” ujarnya.

Bukan hanya ukuran yang tidak sesuai dengan spek, pasar baru ini juga lokasinya masih becek. Padahal dana untuk membangun pasar ini pemerintah mengeluarkan miliaran rupiah, tapi bangunan tidak sesuai. ”Masak seperti ini bangunan yang diberikan ke masyarakat, sudah sempit dan masih becek lagi,” kesalnya.

Yang membuat kecewa, pedagang diminta untuk mebangun lapak sendiri ditempat yang tidak sesuai dengan keinginan masyarakat. Padahal tujuan pembangunan pasar ini katanya untuk mensejahterakan pedagang.

“Saya kira pemerintah ini hanya mengejar tayang saja dalam membangun. Sementara pembangunan pasar ini jauh dari harapan. Kalau tidak percaya, silahkan cek. Masak ini namanya pasar,“ geramnya.

Pedagang lainnya, Saiful juga menolak di relokasi, dengan alasan yang sama, pasar baru ini tidak bisa menampung para pedagang. Selain itu, pasar baru tidak sesuai dengan keinginan masyarakat dengan dibuatkan pasar Los, dan tidak mewah. ”Saya kira pembangunan pasar ini akan berlos, karena pembangunan pasar ini tidak ada gambarnya. Seandainya ada gambar, dari dulu akan di tolak,” sebutnya.

Sementara itu, pedagang Lalu Junaidi juga mengaku kesal dengan pemerintah. Pasalnya, pemerintah yang seharusnya menyiapkan lapak bagi masyarakat, akan tetapi malah sebaliknya, pemerintah meminta kepada masyarakat menyiapkan lapak sendiri. ”Seharusnya dalam relokasi ini pemerintah terlebih dahulu melakukan komunikasi kepada masyarakat. Bukan secara tiba-tiba, sementara hasilnya pasar baru ini sangat jelek,” ujarnya kecewa.

Selain melakukan komunikasi dengan pedagang, sebelum melakukan relokasi seharusnya sesuai dengan izin yang sudah didapatkan para pedagang. Karena hingga saat ini izin bagi pedagang ini masih berlaku, dan belum dibatalkan oleh pemerintah. ”Kalaupun mau dibatalkan, tentunya ada mekanisme pembatalan izin ini. Jangan secara sepihak pembatalan ini,” sergahnya.

Untuk itu, seluruh pedagang akhirnya sepakat menolak di relokasi ke pasar baru, dan akan melaporkan pembangunan pasar baru ini ke Dewan dan Pemkab, untuk mengkaji kembali pasar ini. ”Banyak kejanggalan di pembangunan pasar ini, karena tidak sesuai spek. Apalah speknya dikeluarkan oleh pemborong, atau siapa, yang jelas mereka tidak melakukan koordinasi dengan pedagang,” geramnya.

Anehnya lagi, trotoar yang seharusnya menjadi tempat masyarakat jalan kaki, juga dimanfaatkan untuk disewakan. Bahkan trotoar itu sudah ditandai sebagai lokasi untuk berjualan. Padahal, trotoar itu tidak memiliki atap. “Karena setau saya pembangunan pasar ini untuk membuat kenyamanan bagi pedagang. Tetapi kejadiannya malah sebaliknya,” ujarnya.

Sementara Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lotim, H. Teguh Sutrisman, mengatakan spek atau prototipe Pasar Montog Beter ini berasal dari pusat. Sehingga kalau pedagang tidak mau pindah, maka itu merupakan urusan pedagang sendiri. ”Pembangunan pasar ini sudah sangat bagus, dan ini merupakan permintaan pemerintah pusat untuk membangun pasar yang bersih, sehingga disetujui oleh kita,” tandasnya.

Pembangunan Pasar Montong Beter yang menelan anggaran sebesar Rp 6 miliar itu, bentuknya sama dengan semua pasar yang di bangun oleh pemerintah, untuk menjadikan pasar-pasar lebih bersih. Sehingga pembangunan pasar ini tidak bisa di bangun berdasarkan keinginan pedagang atau siapa. ”Kalau kita akan merubah ini, pasti bantuan ini akan dikembalikan. Makanya kita ikuti sesuai dengan permintaan,” ujarnya.

Sedangkan lokasi yang katanya becek, maka itu bukan tempat untuk orang berjualan. Disperindag sendiri tidak pernah meminta masyarakat untuk membuat lapak. ”Jadi itu urusan retribusi, bukan urusan kita. Dan kios-kios yang dibangun ini sudah sesuai, karena panjang dan lebarnya juga sudah di ukur,” pungkasnya. (wan)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Suka
  • Terhibur
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut