NTP Dibawah 100, Daya Beli Petani NTB Menurun

PANEN PADI: Tampak para petani sedang memanen padinya di sawah. Sayangnya, panen yang seharusnya membuat para petani sejahtera, ternyata tidak demikian. Buktinya nilai tukar petani menurun, yang berarti daya beli petani menurun.

MATARAM–Kepala Badan Pusat Statisik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Endang Tri Wahyuningsih, menyebut bahwa nilai tukar petani (NTP) di NTB terjadi penurunan. Meski terjadi penurunan sebesar 0,71 persen, secara rata-rata NTP di NTB masih diatas angka 100.

“NTP di NTB pada bulan Desember 2016 sebesar 106,56 yang artinya masih cukup bagus,” kata Endang Tri Wahyuningsih, Selasa (3/1).

Endang menyebut di bulan Desember 2016 NTP untuk hortikultura justru dibawah 100, yakni hanya 94.70. Begitu juga dengan NTP perkebunan rakyat yang hanya 93,92. Bahkan yang cukup miris adalah NTP untuk perikanan budidaya yang hanya sebesar 89,53.

Sementara itu, untuk NTP tanaman pangan masih aman diatas angka 108,30. Begitu juga dengan NTP perikanan tangkap sebesar 109,70 dan NTP perikanan sebesar 101,98. Secara gabungan NTP di NTB bulan Desember 2016 mengalami penurunan 0,71 persen bila dibandingkan dengan November dengan NTP sebesar 107,32.

Menurut Endang, beberapa NTP di NTB yang berada di bawah 100 menunjukan daya beli masyarakat terjadi penurunan. Pasalnya, harga jual dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh petani jauh lebih besar. Akibatnya petani mengalami kerugian. Oleh karena itu, pemerintah daerah dalam hal ini SKPD tenknis terkait bisa memberikan solusi terhadap beberapa sub sektor usaha pertanian masyarakat yang mengalami penurunan, sehingga bisa berada di atas angak 100.

Seperti halnya untuk NTP Hortikltura, yang berada di bawah angka 100. Hal tersebut disebabkan, anjloknya harga jual sejumlah komoditas tanaman hortikultura petani, disaat panen melimpah, sementara permintaan di pasar berkurang.

Nilai Tukar Petani (NTP) subsektor Hortikultura (NTPH) pada bulan Desember 2016 mengalami penurunan sebesar 1,73 persen. Hal ini disebabkan karena indeks yang diterima petani menurun sebesar 1,12 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar petani meningkat sebesar 0,62  persen.

Indeks yang diterima sub kelompok sayur-sayuran,buah-buahan dan tanaman obat mengalami penurunan dari 0,30 persen hingga sebesar 1,40 persen, yang disebabkan karena menurunnya harga produksi hortikulturaantara lain tomat, cabai merah, cabai rawit, bawang daun, melinjo, jambu biji, pepaya, dan pisang.

Peningkatanindeks yang dibayar  petani hortikultura disebabkan oleh peningkatan indeks konsumsi rumah tangga sebesar0,74 persen dan indeks BPPBM sebesar 0,07 persen. Peningkatan indeks BPPBM disebabkan meningkatnya harga barang modal seperti kereta dorong dan parang, harga bibit bawang merah, upah menyiangi, upah menanam, upah perontokan, bakterisida.

“Dua subsektor yang NTP dibawah 100 ini perlu mendapatkan perhatian dari instansi terkait. Seperti subsektor perkebunan rakyat 93,92 persen, dan subsektor Hortikultura 94,70 persen,” ujar Endang. (luk)