Nasabah Terus Bertambah, Bantu Pemerintah Urai Sampah

SAMPAH : Nasabah diberikan doorprize saat launching Koperasi Sampah belum lama ini (Sudir/Radar Lombok)

Program kepala lingkungan Buntun Indah Kelurahan Bertais patut diapresiasi. Ia membentuk koperasi sampah untuk mengatasi persoalan sampah setempat. Seperti apa?

 


SUDIRMAN-MATARAM


 

Semua tahu, sampah menjadi salah satu persoalan utama Kota Mataram. Harus ada inovasi untuk bisa mengurai persoalan sampah ini. Penanganannya tidak bisa semata-mata diserahkan ke SKPD terkait.

Kepala lingkungan Buntun Indah, Ibnu Zubaid, punya cara membantu SKPD mengurai sampah. Ia membentuk koperasi yang khusus menangani sampah.

Ibnu adalah Kaling termuda di Kota Mataram. Usianya baru 29 tahun. “ Koperasi kita baru berdiri tiga bulan. Saat ini nasabah sudah mencapai 50 orang. Setiap hari ada saja yang bergabung,” ungkapnya kepada Radar Lombok kemarin.

Koperasi ini tidak menerima setoran uang, tetapi tabungan sampah. Warga memilah sampah yang bernilai ekonomis, lalu membawanya ke koperasi ini. Diantara sampah yang diterima di koperasi ini adalah majalah bekas, kaleng, plastik dan masih banyak lagi.” Sampah yang dihadapi Kota Mataram adalah masalah kita bersama. Semua harus terlibat memikirkan jalan keluarnya. Konsep koperasi sampah ini ingin menyadarkan masyarakat betapa sampah memiliki nilai jual. Warga mulai  peduli untuk mengelolanya. Mulai dari pemilahan, pengomposan, hingga menjadikan sampah sebagai barang yang dapat digunakan kembali dan bernilai ekonomis,” kata Ibnu.

Laki-laki lulusan IAIN Mataram ini tujuan berdirinya koperasi ini adalah memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pengelolahan sampah memakai pola 3R (reduce, reuse, dan recycle). Koperasi sampah memiliki tiga keuntungan yakni ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dalam kurun waktu tiga bulan saja sampah berhasil terkumpul  sekitar 7 ton. “ Warga sangat antusias dengan program ini. Malah mereka berbondong-bondong menimbang sampah yang telah mereka pilah sendiri di rumah setiap hari. Jumlah tabungan sampah akan ditulis di buku tabungan yang nanti ditukar dengan uang. “ Bagi warga, sampah ibarat uang yang tertunda. Sementara sampah rumah tangga seperti sayuran kami fermentasikan untuk kompos cair dan bubuk yang kami jual kembali. Setiap orang setiap bulannya bisa menghasilkan uang Rp 400 ribu sampai Rp 450 ribu bersih,”ungkapnya.

Meski masih baru,  koperasi ini membantu pemerintah mengurai masalah sampah.(*)