Mengintip Usaha Ternak Kambing Jelang Hari Raya Kurban

Ummat Islam menyambut tibanya Hari Raya Idhul Adha yang juga disebut Hari Raya Kurban.  Mereka yang memiliki kelebihan rizki disarankan berkurban hewan untuk membantu saudara lain yang membutuhkan. Nah, karena sebagian besar lebih memilih berkurban daging kambing, aktivitas peternakan kambing musiman mulai terlihat di banyak tempat. Setiap bulan haji, peternak kambing mendapat peningkatan keuntungan jual.

 

 


Rasinah Abdul Igit_LOBAR


 

 

Muslihadi (40) terlihat sibuk memberi makan 13 ekor kambing miliknya di Desa Jembatan Kembar Timur Kecamatan Lembar kemarin. Kandang terbuka tempat makan kambing terbilang kecil, sekitar 3 x3 meter. Lokasinya menjadi satu dengan lokasi kandang sapi kolektif peternak setempat.

Muslihadi bukan peternak kambing “beneran”. Aktivitas ini ia geluti sejak setahun yang lalu. Laki-laki 2 anak ini adalah petani penggarap yang sengaja beternak kambing untuk keperluan lebaran haji kali ini. Banyak teman-temannya yang lebih dahulu melakukan hal serupa dan sukses. Dengan kambing yang sudah berkembang biak, ia berharap mendapat keuntungan lebih dibanding penjualan diluar musim haji. Tahun lalu ia membeli bebereapa ekor kambing betina bunting plus 1 pejantan dengan harga lumayan murah yakni dibawah angka Rp 1 juta. Beberapa hari lalu, ada pembeli yang menawar kambing seukuran tertentu dengan harga Rp 2 juta rupiah. “ Kalau ini berhasil, saya mau beli bibit lebih banyak lagi,” ungkapnya.

Peternakan kambing memang mendapatkan prospek jual saat tiba lebaran haji. Masyarakat sasak dikenal sebagai masyarakat religius. Berkurban adalah pesan agama yang harus dilakukan jika kondisi ekonomi memungkinkan. Hewan kurban yang paling banyak dicari adalah kambing. Selain itu, ada juga ritual lain yang membutuhkan daging kambing, masalnya aqiqah untuk anak kecil.

Karena menggiurkan, muncul banyak peternak musiman. Mereka mengalahkan peternak lama. Di beberapa titik pinggir jalan terlihat kandang dadakan yang dibawahnya tertambat puluhan ekor kambing. Harga dibandrol naik dari sekitar Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta menjadi diatas Rp Rp1,4 juta per ekor. Pembeli merasa perlu membeli meski lebaran belum tiba. Mereka khawatir harga semakin naik jika membeli dekat-dekat lebaran.“ Saya juga mau siap-siap jual. Lumayan harganya,” ungkap Fajar (25), peternak kambing di Dusun Gubuk Raden Desa Kebun Ayu.

Peningkatan populasi kambing yang dipicu oleh berprospeknya nilai jual juga menguntungkan pemerintah daerah. Ambil contoh Lombok Barat. Dalam kurun 1 tahun terakhir, instansi terkait mencatat kenaikan populasi hewan ternak yang cukup signifikan. Berdasarkan data yang ada, perkembangan populasi ternak tahun lalu mengalami peningkatan 9,53 persen dibanding tahun sebelumnya. Populasi yang meningkat masing-masing sapi 80.881 ekor, kerbau 8.564 ekor, dan kuda 4.026 ekor.Peningkatan  rata-rata diatas seribu juga terjadi pada ternak lain, termasuk kambing.

Pemkab mengaku memberikan bantuan berupa ternak subsidi untuk meningkatkan populasi sebagaimana target daerah. Sebab sektor peternakan juga menjadi pendukung pergerakan ekonomi di tingkat menengah ke bawah. Pemkab misalnya mengklaim telah menyalurkan bantuan bibit ternak sapi jantan, kambing dan itik kepada puluhan kelompok ternak. “ Terjadi peningkatan, termasuk juga kambing,” ungkap Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Bakhtiar belum lama ini.(*)