Bulan Ramadan Makin Semarak dengan Tradisi Nyala Dile Jojor

Nyala Dile Jojor
TRADISI : Warga Lingkungan Negara Sakah Utara menyalakan dile jojor setiap malam selama sebulan penuh ramadan. (Sudir/Radar Lombok)

Masing-masing lingkungan di Kota Mataram punya tradisi khas yang masih lestari setiap bulan Ramadan. Di Lingkungan Negara Sakah Utara Kelurahan Mayura misalnya, warga muslim setempat biasa menyalakan dile jojor setiap malam bulan puasa.


Sudirman-Mataram


Usai salat tarawih kemarin, tampak anak-anak kampung setempat bermain dengan riang. Mereka menyalakan dile jojor sebagai tradisi yang telah ada sejak dulu.

Tradisi menyalakan dile jojor berbeda dengan kampung lain yang biasanya dilakukan setiap malam ganjil selama Ramadan. Warga di Lingkungan Negara Sakah Utara merayakan datangnya bulan suci dengan menyalakan dile jojor setiap malam.

Proses penyambutan Ramadan diawali dengan zikir di masjid lalu setelah itu menikmati makanan dulang. Di masjid-masjid kampung ini juga rutin dilaksanakan tadarrus alquran. “ Setiap hari secara bergilirian jamaah mengantearkan dulang sebagai sangu jamaah membaca kitab suci. “ Ini tradisi kami sejak dulu,”  kata Kaling Negara Sakah H. Munawir kepada Radar Lombok kemarin.

Dile jojor dinyalakan setelah ibadah salat magrib. Dulu gang kampung tersebut yang semula gelap ini menjadi terang terkena sinar dari nyala api jojor.

Anggota remaja masjid setempat, Ismahan menambahkan, tradisi dila jojor adalah cara warga memeriahkan Ramadan tiap tahun. Remaja juga berkumpul membuat dile jojor. “ Dari kalangan anak-anak sampai remaja tetap semangat setiap malam, sampai usai tardarusan,” ucapnya.(*)