Melihat Kewirausahaan yang Dilakoni eks Pecandu Narkoba

Stigma negatif yang acap kali dilekatkan kepada mantan pecandu narkoba, membuat mereka terkadang sulit memperoleh pekerjaaan. Berwirausaha pun menjadi pilihan. Lalu seperti apa wirausaha yang dilakoni mantan pecandu narkoba itu?.

 


Ahmad Yani — Mataram


 

Menjadi pecandu narkoba terlarang lantas tidak bisa bangkit.  Dengan  tekad  dan kesungguhan dari mantan pecandu, mereka pun masih memiliki kehidupan dan masa depan jauh lebih baik. Meskipun disadari, bayang – bayang sebagai mantan pecandu narkoba tak mudah dihapuskan. Terlebih acap kali, stigma negatif maupun perlakuan diskriminatif  diterima. Tak terkecuali, dalam memperoleh pekerjaan  yang  layak.

Menjadi mantan pecandu narkoba membuat mereka sering dipandang sebelah mata. Kendati demikian, terkadang hal itu menjadi titik balik kehidupan bagi mantan pecandu narkoba ini.  Dengan kesulitan memperoleh pekerjaan, maka membuka lapangan pekerjaan sendiri atau berwirausaha menjadi pilihan realitis dan logis dilakoni.

Berbagai usaha ekonomi kreatif dilakoni mantan pecandu. Mulai dari membuka kedai kopi, kios, sablon, perbengkelan, pertukangan dan lainnya.

Misalnya, kedai kopi dan kios di Jalan Jepara BTN Tanah Aji. Siapa sangka,kedai kopi dan kios ini dikelola mantan pecandu narkoba. Kedai kopi ini jadi tempat  nongkrong anak muda, berdiskusi, bercengkrama dan lainnya sebagaimana.

Praktis, dengan berwirausaha mantan pecandu narkoba memiliki kemandirian ekonomi dan bisa menata kehidupannya  lebih baik. Pilihan berwirausaha menjadi salah satu metode pendekatan bagi proses pemulihan ketergantungan dari narkotika dan obat – obatan terlarang tersebut.

Sebagaimana diutarakan penggiat anti narkoba, juga mantan pecandu Fathul Arifin. Dia menuturkan, sering kali mereka  yang sudah pulih dari ketergangungan narkoba kembali terjerumus dalam penyalahgunaan dan pemakaian barang haram tersebut. Penyebanya   mantan pecandu sulit  memperoleh pekerjaan. Hal itu acap kali membuat mereka depresi atau stres dengan kenyataan yang  dihadapi tersebut. " Akhirnya, mereka memilih mengkonsumsi kembali narkoba. Padahal itu tindakan konyol," ucapnya kepada Radar Lombok, kemarin.

Dengan kondisi yang tidak berpihak kepada mantan pecandu narkoba, komunitas AKSI NTB pun menggiatkan kewirausahaan sebagai solusi. Komunitas AKSI NTB adalah komunitas yang  digawangi anak – anak muda  yang banyak bergerak dalam membantu proses rehabilitasi atau pemulihan bagi mantan pecandu narkoba. Dengan berwirausaha maupun kegiatan positif lainnya, para pecandu dalam proses pemulihan atau rehab maupun mantan pecandu bisa mengalihkan pikiran dan energi untuk kegiatan bersifat positif, serta menghasilkan keuntungan materi maupun kehidupan lebih baik bagi  di masa depan.

Semangat berwirausaha atau entrepreneur pun ditanamkan dan dipupuk.Tak hanya kedai kopi dan kios, di rumah tersebut terdapat aktivitas sablon. " Salah satu metode rehabilitas sosial bagi pecandu adalah dengan pendekatan kewirausahaan ini,'' ujarnya.

Mereka dibina dan dilatih agar memiliki keterampilan. Dengan keterampilan yang  dimiliki tersebut mereka siap mandiri, membuka lapangan pekerjaan sendiri bahkan menciptakan lapangan pekerjaan bagi diri sendiri.

Aktivitas ekonomi kreatif yang dilakoni mantan pecandu narkoba itu pun sudah disampai di telinga Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa.

Khofifah  memberikan perhatian cukup besar bagi aktivitas ekonomi kreatif itu. Saat kunjungan kerja ke Kota Mataram,  Khofifah Indar Parawansa selalu menyempatkan diri berkunjung dan melihat lebih dekat perkembangan ekonomi kreatif yang dilakoni mantan pecandu narkoba ini.

Pada tahun 2016 Menteri Sosial sudah memberikan bantuan dana hibah sebesar Rp 90 juta lebih yang  diperuntukkan bagi ekonomi kreatif tersebut. Ekonomi kreatif yang dikelola mantan pecandu narkoba sudah menyebar di sejumlah lokasi di Kota Mataram, dengan beragam macam usaha dilakoni. " Sudah ada yang sukses mandiri dengan usaha dilakoni tersebut," pungkasnya Christin Eka Widjayanti konselor adiktif narkoba. (*)