Luar Negeri Kepincut Bisnis Kelapa Lombok Utara

Cina dan Malaysia Tertarik Buat Pabrik Setengah Jadi

Luar Negeri Kepincut Bisnis Kelapa Lombok Utara
DIMINATI: Salah seorang pekerja sedang menjemur kulit dan batok kelapa di salah satu pemilik usaha kelapa di KLU. (HERY MAHARDIKA/RADAR LOMBOK)

Kelapa memang populer dengan pohon seribu manfaat. Nyaris semua bagian dalam pokoknya memiliki manfaat dan bisa dijadikan bahan kreativitas bernilai ekonomis. Tapi, tak banyak daerah sumber penghasil pepohonan tunas ini, kecuali di KLU untuk wilayah NTB.


HERY MAHARDIKA-TANJUNG


HAMPARAN pohon kelapa begitu mudah didapatkan di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Ketika masuk ke daerah ini baik melalui jalur pusuk maupun jalur malimbu akan disambut langsung pohon-pohon kelapa yang menjulang tinggi. Seluruh apa yang ada di pohon kelapa bisa dimanfaatkan menjadi nilai ekonomis. Potensi kekayaan alam yang melimpah ini membuat hati Wali Kota Haikou Provinsi Hainan, Cina dan Dewan Perdagangan Islam Malaysia ingin mengambil stok setengah jadi untuk diekspor ke kedua negara tersebut. “Di lima kecamatan luas lahan yang ditanami pohon kelapa seluas 10.570,62 hektar dengan potensi produksi sebanyak 14.639,71 ton. Peluang bisnis kelapa ini baru sebatas konsumsi dan penjualan butiran ke luar daerah jawa dan sekitarnya,” terang Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) KLU H Melta di ruang kerjanya, Selasa kemarin (3/10).

Jumlah petani pohon kelapa ini sebanyak 10.917 KK. Peluang bisnis kelapa ini sangat menjanjikan, namun masih terbatas pengolahannya. Dalam waktu dekat pihaknya akan mendatangkan 100 orang untuk memberikan jaringan dan pelatihan dengan kampung kelapa yang ada di Manado. Nanti, kata Melta, ratusan orang ini akan berbagi ilmu bersama tim penyuluh dan pengempul kelapa yang ada di KLU. “Selama ini pengusaha kita masih menjual secara gelondongan,” jelasnya.

Padahal, sambungnya, pemanfaatan pohon kelapa sangat banyak mulai dari air kelapa muda bisa dibuat nana the coco, batok kelapa bisa menjadi kerajinan piring kelapa dan sejenisnya, batang kelapa, dan isi kelapanya. “Ini yang belum bisa dimanfaatkan. Sementara petani kelapa kita terjerat rentenir, termasuk juga petani kakao dan padi,” ungkapnya.