Lanal Mataram Tepis Tahan Kapal Pangrango

BERLABUH : Kapal Pangrango pengangkut 200 ton solar non subsidi yang sebelumnya sempat diamankan TNI AL kini sudah berlabuh di Pelabuhan Labuhan Haji (Gazali/Radar Lombok)

MATARAM—Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Mataram akhirnya  melepas kapal Pangrango yang memuat 200 ton BBM jenis solar yang diamankan Labuhan Haji  Lombok Timur beberapa waktu lalu.

Setelah hampir lima hari berada di pelabuhan Kayangan,  kapal itu akhirnya diizinkan bersandar di dermaga Labuhan Haji. ‘’Sudah berlabuh di Labuhan Haji siang  tadi (kemarin),’’ ujar Komandan Pangkalan Angkatan Laut (Danlanal) Mataram Kolonel Mar Djentayu Suprihandoko saat dikonfirmasi di Lanal Mataram, Senin kemarin (10/10).

Dikatakannya, kapal   ini bukan kapal jenis tangker. Melainkan kapal yang disebut dengan jenis SPOB (Self Propeller Oil Barge) atau kapal  khusus untuk muatan minyak. ‘’ Jenis kapal itu banyak, jadi harus bisa dibedakan,’’ katanya.

Suprihandoko mengaku dirinya sama sekali tidak mendapatkan informasi mengenai solar yang diangkut kapal itu adalah BBM yang didapat secara tidak resmi.Dia berdalih kapal itu tidak membawa BBM seperti yang diduga sebelumnya. ‘’ Jadi seperti ada simpang siur berita. Padahal tidak seperti itu,’’ bebernya.

Kapal itu awalnya dilakukan pemeriksaan untuk melakukan penertiban saja. Setelah melakukan pemeriksaan dokumen kapal, pihaknya lalu mengirimkan hasilnya ke Armada RI Kawasan Timur (Armatim). Pihaknya mengaku tidak mendapatkan hal yang aneh saat melakukan pemeriksaan. ‘’ Dari awal sudah menyerahkan data yang diberikan ke Armatim. Ditambah lagi kapal tersebut dalam keadaan rusak, itulah yang terkesan membuat prosesnya lama,’’ jelasnya.

Suprihandoko kembali menegaskan,  kapal itu  bukan ditahan oleh Lanal Mataram. Namun, ia mengakui jika kapal itu diperiksa oleh Kapal Angkatan Laut (KAL) Lembar yang saat itu sedang melaksanakan patroli. Saat dilakukan patroli, kapal tersebut diketahui dalam keadaan rusak. ‘’  Kapal ini tidak ditahan, kalau diperiksa memang iya. Sama saja seperti kapal yang masuk perairan NTB. Semuanya akan diperiksa,’’ katanya.

Pemeriksaan yang dilakukan kata dia terkait dengan kelengkapan surat maupun dokumen yang dimiliki oleh kapal tersebut dalam mengangkut BBM. Dari pemeriksaan, ternyata diketahui perusahaan yang mengangkut BBM ini sedang melakukan kerja sama dengan Perusahaan Daerah (Perusda) milik Pemkab Lotim yaitu PT Agro Selaparang. ‘’ Ini pertama masuk ke NTB dan dilakukan pemeriksaan dokumen,’’ ujarnya.

Terkait dengan bongkar muat isi muatan kapal menurutnya tergantung dari keputusan pemilik (owner) perusahaan dan PD Selaparang Agro. Pihaknya dalam hal ini hanya melakukan pemeriksaan. Ia memastikan Lanal Mataram hanya melaksanakan perintah atau instruksi dari Armatim. ‘’ Kalau bongkar ya boleh. Terkait kapannya ya terserah pemilik kapal,’’ jelasnya.

Awalnya,  semua kapal saat memasuki Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) memang patut dicurigai. Saat melaksanakan patroli rutin itu, Lanal Mataram mendapatkan kapal Pangrango yang sedang berlayar. Sebenaranya kata dia tidak ada masalah. Hanya saja kecepatanya saat itu sangat pelan. Setelah diperiksa, kapal tersebut ternyata mengalami kerusakan. ‘’ Setelah diperiksa ternyata kapal itu dalam keadaan rusak,’’ katanya.

Saat diperiksa , nakhoda menyampaikan kepada petugas dengan tujuan ke Labuhan Haji. Dengan melakukan pemeriksaan titu, hal ini yang terkesan Lanal Mataram sudah menahan kapal itu. ‘’ Padahal kita tidak menahan, hanya memeriksa saja,’’ tandasnya.

Sampai kemarin sore, kapal ini belum diizinkan untuk  bongkar muat  karena dokumen berlabuh belum mereka terima otoritas pelabuhan. Kapal itu pun kini masih berlabuh di sekitar perairan Labuhan Lombok tak jauh dari dermaga.

Kapala Unit Penyelenggara Pelabuhan Labuhan Haji Hasibullah ditanya terkait ini,  belum bisa memberikan penjelasan  lebih rinci terkait akan dikemanakan   200 ton solar yang diangkut kapal itu. Sebab hal itu lanjutnya bukan kewenangan mereka untuk memberikan penjelasan ‘’ Kalau diapakan solar itu, tanya saja langsung ke pihak kapal dan PD  Selaparang Agro,” sarannya.

Kapal itu tiba di darmaga  Minggu sore lalu (9/10). Namun untuk sementara ini, belum bisa melakukan bongkar muat mengingat  ada sejumlah ketentuan yang harus dipenuhi nakhoda. Pihaknya pun telah meminta pihak kapal  untuk melengkapi dokumen sebelum bersandar dan  melakukan bongkar muat. ‘’ Kita masih menunggu dokumen berlabuh yang belum diserahkan ke kita,” sebutnya.

Dikatakan, dalam hal ini pihaknya hanya sebatas penyelenggara dan penyedia   jasa di pelabuhan ini. Selama kapal  itu datang statusnya legal dan sah, mereka pun akan mempersilahkan untuk  melakukan  bongkar muat ‘’ Kita ini hanya penyedia jasa,” sebutnya.

Moh Sabruddin petugas wilayah kerja Pelabuhan Haji  kembali menjelaskan pihaknya  masih menunggu kedatangan  dari pihak PD  Selaparang Agro  selaku perusahaan yang mendatangkan solar itu. Sementara ini kapal itu hanya diperbolehkan untuk bersandar saja. Namun untuk bongkar muatanya masih menunggu koordinasi lebih lanjut dengan pemilik kapal dan pihak  Selaparang Agro.

‘’ Kita nunggu dari pihak perusahaan juga, kalau sudah lengkap kita perisalakan,” tutupnya.

 Sementara itu  pemilik kapal yang saat itu berada di pelabuhan enggan berkomentar ketika ditanya menyangkut keberadaan 200 ton solar yang dipesan PD Selaparang Agro. Mereka memilih menghindar dengan alasan akan menemui pihak   Selaparang Agro. “ Nanti setelah ini ya,” jawabnya sambil berlalu.

Direktur PD Selaparang Agro, Supardi dikonfirmasi melalui via telpon  mengaku, proses bongkar muat  solar yang diangkut kapal masih  menunggu giliran untuk bersandar.Sebab saat ini masih ada kapan tongkang yang sedang melakukan bongkar muat cangkang sawit.  ‘’ Mungkin satu dua hari menunggu,” jawabnya.

Terkait dengan kelengkapan  dokumen bongkar muat, dirinya mengaku sebelumnya pihaknya sempat mendatangi pihak pelabuhan. Namun untuk lebih jelas hal itu, lanjutnya sebaiknya ditanya langsung ke pihak pelabuhan. Namun menyangkut persoalan kelengkapa dokumen dan surat sepenuhnya menjadi tanggung jawab pihak kapal itu sendiri.

Dijelaksan, 200 ton solar non subsidi itu yang mereka datangkan itu merupakan kerja sama dengan  perusahaan di Sulawesi. Nantinya solar non subsidi akan dijual kembali untuk kalangan industri. Sementara menyangkut izin jual beli dijawab itu bukan tanggung jawab mereka. Melainkan itu diurus langsung pihak perusahaan dalam hal pemilik solar tersebut.‘’ Kita hanya  memasarkannya saja,” terangnya.

Dipastikan solar non subdisi yang didatangkan statusnya resmi karena  sudah memiliki  izin penjualan dan kelengkapan dokumen lainnya ‘’ Kalau menyangkut sempat diamankan kemudian dilepas kembali, itu yang lebih mmengetahui pemilik kapal itu sendiri,” pungkasnya. (gal/lie)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid