Kisah Korban Selamat Tertimpa Reruntuhan Gempa Bumi 7.0 Skala Richter

Tertimpa Rumah Beton Berlantai Tiga, Ingat Allah Sekeluarga Selamat

KORBAN SELAMAT TERTIMPA RERUNTUHAN GEMPA BUMI
SELAMAT : Harkatun dan anaknya selamat dari himpitan reruntuhan rumah lantai tiga miliknya. (HERY MAHARDIKAI/RADAR LOMBOK)

Siapa sangka seluruh keluarga H Ramli selamat dari reruntuhan rumah lantai tiga di Dusun Bangsal Desa Pemenang Timur Kecamatan Pemenang. Ketika keluarga kaya raya itu tertimpa, mereka hanya mengingat Allah SWT.


*HERY MAHARDIKA – LOMBOK UTARA*


TAK jauh dari areal Pelabuhan Bangsal Desa Pemenang Timur Kecamatan Pemenang, terlihat rumah megah berlantai tiga berada di pertengahan sawah ambruk dengan posisi bagian depan lebih rendah. Kemudian sisi belakang rumah lebih tinggi. Seolah-olah rumah mewah seharga Rp 2 miliar bersujud menghadap kepada Sang Pencipta Alam.

BACA JUGA: Gempa Terdahsyat Sepanjang Sejarah NTB

Setiap orang melintasi areal pengungsian jalur alternatif tersebut, tidak ada satupun percaya bahwa pemilik rumah itu masih hidup dan dalam keadaan sehat. Bahkan, tetangga pemilik rumah itu sampai menyangka mereka sudah meninggal. Betapa tidak, rumah itu sudah tidak ada penyangga yang bisa memberikan jaminan keselamatan kepada korban.

Ketika Radar Lombok melintas hendak menanyakan kepada pengungsi di dekat rumah tersebut mengenai pemilik pribadi tersebut. Ia bernama Harkatun Tayibah mengaku, bahwa pemilik rumah tersebut adalah mereka yang bertempat tinggal, dan sekarang mengungsi di bawah tenda terpal yang dibuat bersama keluarga.

“Itu rumah milik kami yang menimpa kami tadi malam (kemarin malam),” cetusnya kepada Radar Lombok.

Wartawan Radar Lombok sedikit kaget atas jawaban tersebut, bahwa pemilik rumah dalam keadaan selamat. Harkatun berkenan menceritakan kisah keselamatan bersama seluruh keluarganya berjumlah sepuluh orang. “Keluarga saya ada sepuluh orang tua kami, saudara- saudari kami, anak-anak kami, termasuk suami saya,” tuturnya.

Pada malam hari di saat kejadian gempa, sepuluh keluarga berada di masing-masing lantai rumah. Lantai pertama (dasar) ada enam orang, lantai dua tujuh orang, yang kelebihan termasuk tukang rumah dan pegawainya, sedangkan lantai ketiga masih kosong karena sedang membangun. Pada waktu itu, ada yang beraktivitas mengaji, habis salat, makan, dan bekerja. Tiba-tiba gempa bumi dengan spontan dan langsung menimpa mereka. Sebab, mereka hendak keluar namun sudah tidak bisa lantaran listrik dalam keadaan padam. “Listrik padam itu kami sudah tertindih reruntuhan, dan semuanya dalam keadaan sunyi dan gelap, kami pasrah dan hanya mengingat Allah,” ceritanya mengingat kisah mengerikan tersebut.

BACA JUGA: Ribuan Wisatawan Gili Dievakuasi

Pada saat dalam kondisi tertindih, ada yang berdiri, ada yang terlentang, dan menahan beton. Beberapa menit kemudian, Adelia, 4 tahun, memanggil mamanya sembari sudah keluar dari celah reruntuhan. Selain itu, H Ramli (ayah) memanggil seluruh anak-anaknya, kemudian satu per satu sahut menyahut. Dengan kondisi itu membuat mereka semangat berupaya menyelemat diri melalui celah-celah reruntuhan. “Bapak saya memanggil seluruh anakanak dan menantunya, masih adakah yang hidup,” katanya.

Lintang, ibu dari Adelia mendengarkan anaknya memanggil namanya membuat dia semangat. Dalam keadaan tertindih beton kemudian dengan sekuat tenaga melempar beton yang besar menindihnya di sekujur tubuhnya. Baru bisa keluar melalui celah reruntuhan anaknya memanggil. “Saya juga saling bantu tukang rumah yang terjepit kakinya, karena hanya tukang itu yang minta tolong. Sedangkan, yang lain sepi dan gelap,” ucapnya.

Bangunan yang baru satu tahun itu, kata Harkatun dibangun dengan bahan material permanen dan mahal, namun tetap saja hancur dan ambruk dengan kekuatan tersebut. Disebutkan, nama-nama keluarganya yang selamat yaitu H. Ramli (bapak), Hj Jaiah (ibu), Lamujing (suami), Rizaldy (adik), Lintang, Jalal Ragabi, Rama, Adelia. Tukang yang selamat yaitu Sar, Badok, Raidi, dan Toni, kemudian ada juga staf karyawannya Yudi dan Kahar. “Kami semua dalam keadaan lembam dan luka ringan, kecuali anak-anak dan adik kami Rizaldy tidak apa,” terangnya.

Setelah berhasil keluar dari rumah, mereka berkumpul ditengah halaman rumahnya dengan kondisi kesakitan, sebab malam itu semua kondisi sedang mencekam sekali. Setelah melihat keluar, mobil sport seharga Rp 500 juta, sepeda motor tujuh unit hancur semuanya, termasuk harta lainnya. Akan tetapi, baginya yang terpenting adalah mereka bisa selamat dalam keadaan sehat dan tidak patah tulang. “Kami sekarang sudah mengambil barang-barang selimut melalui celah-celah reruntuhan tersebut, bapak kami yang masuk ke dalam mengambil seluruh perlengkapan tidur dan kebutuhan sehari-hari. Tapi sekarang sudah tidak berani masuk lagi karena gempa susulan terus terjadi sehingga kami beli,” ungkapnya.

BACA JUGA: Korban Gempa Kesulitan Air

Terkait rumahnya dalam keadaan bersujud, Rizaldy mengaku pada saat sebelum gempa semua keluarga sudah salat dan ia sedang mengaji di lantai kedua. “Mungkin itu hikmahnya, dan kami tetap terus bersyukur,” celetusnya. (**)